Jumat, 04 Januari 2013

mantra penyembuh, kembang api dan cinta terlarang


Kisah ini dimulai dengan cerita patah hati diakhir tahun. Again? Iya! Pedihnya, saya patah hati berulang-ulang oleh satu orang yang sama (standing applaus for him). Ouh, bukan berarti saya goblok ya. Saya hanya sedang dilemahkan oleh cinta. Seperti pak Mario Teguh bilang, cinta melemahkan logika.Tapi saya akan segera baikan. Saya akan berusaha memulihkan diri. Saya sudah punya mantranya, kok. Masih dari Pak Mario Teguh, sih, hehehee… point-poinnya sebagai berikut:

*      Jika dia tidak mengutamakanmu, semua yang dia ucapkan bukan cinta.
Hmm, dia tidak mengutamakan saya, tidak memilih saya. Jelas dia tidak cinta

*      Cinta itu memuliakan.
Well, kami dekat tapi backstreet. Dia memang belum menikah tapi tetap saja saya dijadikan selingkuhan. Saya harus melupakannya lalu segera menemukan laki-laki lain yang bangga menyebut saya kekasih didepan teman-temannya.

*      Perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik-baik.
Ya, mungkin saya tidak cukup baik untuknya sehingga dia memilih tetap bersama pacarnya itu. Atau mungkin dia tidak cukup baik untuk saya sehingga Tuhan menjadikannya milik orang lain sebelum bertemu saya.

Tidak ada yang bisa memaksakan perasaan. Saya menghargai keputusannya dan berharap mereka bahagia. Halah...whatever, heheheee..yang jelas saya sedang terluka dan merasa tidak pantas dicintai karena tidak dijadikan pilihan. Saya jadi sering termenung-menung, malas ngomong, malas makan, susah tidur, melankolis, sentimentil, dan terus-terusan merindukan kamar. Status facebook saya juga jadi ikut-ikutan lebay bin alay. Gejala ini terbaca oleh Ani. Dia berhasil membuat saya curhat sambil berderai airmata. Sebaliknya ani tertawa-tawa sampai mengeluarkan airmata. Katanya saya childish. Mirip anak esempe yang sedang patah hati karena kehilangan cinta pertamanya. Dia juga bilang saya bisa dengan mudah punya pacar lagi kalau saya mau membuka hati untuk laki-laki lain yang jelas-jelas care sama saya. Oke, ani benar. Tapi itu karena dia tidak tahu saja kalo yang satu ini beda. Saya tidak tahu kenapa saya suka.  Yang jelas, setelah dekat saya merasa dia baik, menyenangkan, dia keren. Waktu saya mengatakan ini, ani langsung sewot dan bilang itu karena mata saya sedang rabun karena cinta. Tapi tahu apa dia, dia belum pernah ketemu orangnya, kan?

As you know, patah hati membuatmu tidak bersemangat merayakan apapun termasuk tahun baru. Saya menolak ajakan falma ke Palu, mencari alasan supaya tidak ikut mama ke Toraja, juga membatalkan niat menemani Ani ke Palopo. Ani marah. Dia bilang sudah menguras kolam ikan dibelakang rumahnya dan menjual semua penghuninya untuk mentraktir saya makan dan karaoke. Alasan. Kasian ikannya. Padahal yang maniak karaoke itu dia bukan saya. Saya ingin dikamar saja. Bertapa mungkin sambil mendengarkan “I wanna be with you”-nya Mandy Moore atau membaca salah satu novel jadul yang ada dirak buku. Sometimes, you need to be lonely, aren’t you?

Home alone itu surga. Saya bilang begitu ke ani saat dia telpon khawatir waktu tahu saya sendiri dirumah. Setelah bilang begitu, saya menutup telponnya sekaligus mematikan hape. Tapi dia tidak menyerah. Jam Sembilan malam, dia datang dengan Hendra, suaminya, membawa mobil. Memaksa saya bangun dari tempat tidur, dan ikut dengannya. Dia merasa saya sedang sekarat dan butuh diselamatkan. Menurutnya akan lebih baik jika saya keluar rumah, bertemu banyak orang dan berhenti memikirkan orang yang jelas-jelas sedang bersama orang lain dan tidak memikirkan saya. Hmm.. dia terlalu melebih-lebihkan. Keadaan saya tidak separah itu. Tapi akhirnya saya menurut, naik ke mobilnya dan ikut dia ke Soroako. Sepanjang perjalanan ani cerita tentang banyak hal. Saya hanya mendengarkan. Teman saya yang satu ini memang baik, tapi agak cerewet, heheeeee…

Sampai Soroako hujan gerimis menyambut. Basah dan agak sepi untuk ukuran malam tahun baru. Tidak ada rencana pasti mau kemana. Hendra mengusulkan karaoke ke Grand Mulia. Saya bilang sudah telat karena room disana pasti sudah habis dibooking oleh orang lain.  Kami memutuskan keliling mencari keramaian. Gedung F-Gym ramai, tapi kami malas singgah. Menyambut pergantian tahun digedung tertutup sama sekali tidak asyik. Dihalaman masjid Al-Ikhwan juga berdiri sebuah tenda yang dipenuhi banyak anak-anak. Spanduk lebar bertuliskan “Festival Anak Saleh” menghiasi latar belakang panggung. Saat kami melintas mc yang memakai baju koko berpeci putih sedang mengumumkan nama pemenang no empat dari atas podium. Kami memutar ke arah jalan menara. Ani bilang kebelet pipis dan mau numpang dirumah temannya.
Nama temannya Bon-bon. Dia tinggal dirumah kontrakan seperti karyawan pendatang pada umumnya. Istrinya, Has, ramah dan mengobrol dengan logat bugis yang mendayu-dayu. Has mempersilahkan kami memakai kamar mandinya kemudian menyuguhi kami kue jipang dan es teh. Alhamdulillah ya, pas banget, karena saat itu sedang hujan rintik-rintik. Menjelang tengah malam Bon-bon mengajak kami kerumah kontrakan orang tuanya dijalan Mongonsidi. Has tidak bisa ikut karena harus menemani anaknya yang sudah tidur. Disini ramai. Banyak yang lalu lalang dijalan. Banyak pula yang mengobrol bergerombol. Dirumah orang tua bon-bon juga ramai. Teman-teman bon-bon membuat acara barbeque dihalaman samping rumahnya. Ibu Bon-bon yang disapa dengan panggilan “Aji” karena telah menunaikan ibadah haji, rupanya kenal juga sama Ani. Aji menyambut kami dengan ramah.

Kata orang, makan setelah jam sebelas malam kurang baik bagi kesehatan. Tapi saya kira teori seperti itu tidak berlaku dimalam tahun baru. Aji menghidangkan ayam dan ikan bakar lengkap dengan nasi putih dan lalapannya. Ada juga brownis coklat tabur kacang dan coca cola sebagai hidangang penutupnya. Kami makan sambil mengobrol. Aji menanyakan kabar keluarga ani dan bercerita tentang banyak hal kepada kami sambil sesekali mempersilahkan untuk menambah makanan. Piring-piring saji yang diatur diatas meja dengan segera kosong karena isinya berpindah keperut kami. Kami sedang menikmati brownis coklat dan Cola ketika suara letusan kembang api dari tengah jalan membahana dibawah gerimis. Yeah, 2013 is coming. Welcome. Kami semua bersalaman saling memberikan ucapan selamat. Setelah itu turun kejalan berbaur dengan orang lain yang semakin lama semakin ramai memenuhi badan jalan berdiri menengadah ke langit. Suara ledakan kembang api susul menyusul dari berbagai penjuru. Langit Soroako cerah oleh warna-warni ledakan bunga api dari kembang api yang dilontarkan keatas. Pemandangan indah itu berlangsung sekitar setengah jam, kemudian ledakan-ledakan itu pelan-pelan berkurang meski tidak benar-benar berhenti. Masih sesekali terdengar ketika suara music dero yang menghentak terdengar dari arah lapangan. Rupanya pesta belum usai. Dero akan segera dimulai. Lapangan tempat dero jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah aji. Ani geretan mau melihat dero. Bon-bon mengajak saya dan ani kelapangan dan melihatnya. Hendra dan yang lainnya tetap dirumah aji melanjutkan acara bakar jagung. Sebelum jalan kelapangan, Ani memutuskan menelpon Gita, temannya, mengajaknya nonton, biar ramai katanya. Gita mengiyakan akan datang asal dijemput. Rumahnya agak jauh tapi masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Bon-bon menolak ikut menjemputnya, dia bilang akan menunggu dilapangan saja. Saya heran lalu bertanya sama Ani kenapa Bon-Bon tidak mau ikut. Sambil jalan, Ani berkisah panjang lebar….

***

Gita gelisah dikamarnya. Ani baru saja telpon mengabarkan dia sedang di Soroako sekarang. Malam ini memang ramai. Seperti biasa orang-orang Soroako mengadakan acara dero untuk memeriahkan acara tahun baru. Dia juga belum bisa tidur. Rumahnya terlalu dekat dengan lapangan dan suara musik dero yang keras jelas terdengar dari dalam kamarnya. Dia menyibak gorden pembatas pintu  mengintip suaminya yang sedang menikmati makan malam keduanya didepan TV. Laki-laki yang menikahinya dua tahun lalu itu mengangkat piringnya didepan dada, sibuk menguyah sambil menonton film laga yang ditayangan di TV. Bukan menunggu suaminya menghabiskan makanan yang membuatnya gelisah. Bukan itu. Tapi kata-kata ani yang terakhir saat menelpon tadi yang telah berhasil membuncah dadanya, membangkitan perasaan sedih yang selama tiga tahun ini berusaha dia pendam dalam-dalam.
“Sama k’ bon-bon disini. Dari rumahnya k’ acara bakar-bakar ikan”.

Bon-bon. Nama itu masih terdengar sakral ditelinganya. Apa kabar dia sekarang? Mereka bertemu terakhir kali sekitar dua tahun lalu. Seminggu sebelum dia menikah. Pernikahan keduanya setelah berpisah dengan bon-bon. Perpisahan yang sama sekali bukan keinginan mereka berdua. Sama sekali bukan. Dulu, dia sangat mencintai suami pertamanya itu, sampai keluarganya memaksa mereka untuk berpisah karena setelah sekian tahun dirinya tidak kunjung hamil dan mempersembahkan cucu untuk mertuanya. Suaminya dijodohkan dengan perempuan yang segera setelah menikah dengan bon-bon melahirkan seorang cucu untuk mertuanya.
Gita berdiri didepan cermin dan menatap dirinya. Seandainya mertuanya mau sedikit bersabar. Seandainya dia diberi kesempatan lebih lama… Lihat perutnya sekarang. Membuncit dengan indah karena didalamnya sedang bersemayam janin yang satu hari lagi akan genap berumur delapan bulan. Sebentar lagi dia akan menjadi ibu. Sebentar lagi dia bisa mengajak anaknya jalan-jalan. Dia bersumpah akan mengajak anaknya jalan-jalan melintas didepan rumah mantan mertuanya demi mengumumkan pada mereka bahwa dirinya tidak mandul. Gita mengelus perutnya sambil tersenyum membayangkan hari itu.

Ah….Gita menarik nafas panjang. Cerita hidupnya memang seperti kisah dalam novel picisan yang diadaptasi dalam sinetron yang kerap dia tonton TV. Dia adalah menantu yang tak diinginkan. Suaminya adalah kekasih yang sempurna tapi takut durhaka kepada orangtuanya. Sinetron banget, kan? Yang dia sayangkan kenapa dalam kisahnya dia tidak mengalami kecelakaan saja, kepalanya terbentur batu, tembok atau apalah agar dia terserang amnesia. Akan sangat tragis memang, tapi itu bisa membuatnya dengan mudah melupakan semua kepedihannya. Dan yang pasti, dia tidak akan segelisah sekarang karena akan bertemu dengan mantan suami yang tidak pernah berhasil digantikan oleh siapapun dihatinya. Termasuk suaminya sekarang. Tentu, Gita sayang suaminya. Tapi cintanya masih milik bon-bon. Masih.
Gita kembali menarik nafas panjang. Kali ini menghembuskannya kuat-kuat. Dadanya terasa lebih lega. Dia telah mengiyakan akan menemani Ani menonton dero. Ada bon-bon disana. Gita ingin tahu, seperti apa rupa laki-laki itu sekarang. Gita juga ingin tahu, apakah debaran jantungnya masih sekencang dulu jika duduk dekat bon-bon. Gita lalu membuka lemari pakaian. Mengambil jilbab berwarna senada dengan rok yang dia pakai sekarang. Dia tidak perlu mengganti kaosnya. Sweater hitam yang tergantung dibelakang pintu yang akan dia pakai agar lengannya ikut tertutup. Setelah mematut diri sebentar didepan cermin, dia keluar dari kamar. Suaminya sudah selesai makan dan sedang menikmati sebatang rokok.

“Saya mau keluar nonton dero. Boleh?” tanya Gita ragu-ragu.
“Sama siapa?” suaminya balik bertanya sambil menjentikkan abu rokok kedalam asbak ditengah meja.
“Sama Ani, temanku yang bersuami di Malili. Kita masih ingat ji? Dia ada disini sama suaminya. Dia panggil k’ temani nonton. Sebentar lagi dia jemput”
“Iya, saya ingat. Pergi mi. Saya malas keluar. Bagus ini film”

Gita segera berlalu dari hadapan suaminya. Takut laki-laki itu melihat rona senang diwajahnya. Dia membuka pintu tidak terlalu lebar, menyelipkan tubuhnya keluar lalu menutupnya pelan-pelan. Sambil memegang perutnya dia menuruni anak tangga satu persatu. Jalanan depan rumahnya lengang tapi benderang oleh lampu-lampu jalan yang menyala. Setelah berbelok diujung lorong, barulah dia berpapasan dengan beberapa orang. Beberapa anak ABG berkumpul ditepi jalan. Mereka duduk diatas sadel motor masing-masing yang diparkir berjejer melingkar. Gita memperhatikan setiap orang yang jalan mencari-cari sosok ani yang sudah janji akan menjemputnya. Tidak ada. Tak mau menunggu lama dia menelpon.
“Saya sudah menuju ke situ, jalan kaki tapi, jadi agak lambat. Sabar ya, bu” ani menenangkannya dari ujung telepon.
Gita memutuskan terus jalan.  Setelah melewati beberapa rumah, akhirnya dia melihat Ani melambai dari jauh. Ani hanya berdua dengan teman perempuannya. Mana Bon-Bon?

***
Glek. Bon-bon menelan ludah. Kemudian menghela nafasnya pelan-pelan agar Ani tidak mendengarnya. Kenapa dia merasa resah begini. Seharusnya tadi dia mencegah ani menelpon Gita. Dia tidak mau ketemu dengan perempuan itu lagi. Dua tahun ini dia sudah berhasil menahan diri. Memblokir semua akses yang menghubungkan mereka. Dia menutup akun facebooknya, mengganti nomor hapenya, menghindari lewat disekitar rumah gita, bahkan  menyewa rumah jauh dari daerah itu hanya untuk memastikan mereka tidak berpapasan dijalan. Dia melakukan semua itu demi kebaikan mereka berdua. Bon-bon yakin, cinta Gita masih miliknya, dan dia juga belum bisa menghapus nama perempuan itu dari hatinya. Tapi mereka berdua sekarang sudah menjadi milik orang lain, terikat dalam ijab kabul pernikahan masing-masing. Memang, dalam hal ini dirinya yang salah karena dulu tega mencampakkan Gita hanya demi menuruti keinginan orangtuanya. Tapi sudahlah. Tidak perlu mengenang masa lalu. Istrinya baik. Anaknya lucu. Kebahagiaannya akan sempurna jika dia bisa mencintai istrinya dengan sepenuh hati. Dia masih berusaha.
Tadi dia sudah berhasil menolak menemani Ani menjemput Gita. Suami Gita tidak akan suka melihatnya. Biarlah dia menunggu disini saja. Mengambil kesempatan untuk menenangkan hatinya yang sedang bergolak. Gita pasti akan datang. Dia ingin tahu seperti apa perempuan itu sekarang. Dia ingin tahu apakah hatinya masih berdegup kencang jika duduk didekatnya. Lihat saja nanti. Bon-bon menjatuhkan puntung rokoknya didekat kaki, menginjaknya keras-keras dengan tumit sandal sambil menyunggingkan senyum nakal dibibirnya.

***

Rumah Gita jauh juga. Ani sudah selesai menceritakan kisah Gita tapi kami belum sampai juga. Ani bilang dia sudah agak lupa rumah Gita yang sebelah mana. Saya menyarankan untuk menelpon. Sebelum ani sempat mengeluarkan hape dari sakunya, Gita telepon. Dia sudah dijalan, katanya tidak sabar menunggu kami datang. Ani mengaku lupa rumahnya yang mana lalu menjelaskan posisi kami berada saat itu. Gita menyarankan kami untuk terus jalan lurus. Setelah melewati beberapa rumah, Gita akhirnya kelihatan diantara pejalan kaki yang lain. Saya belum pernah ketemu Gita, tapi yakin perempuan berjilbab yang melambaikan tangan dari jarak yang cukup jauh didepan kami adalah Gita. Saya benar. Ani balas melambai. Setelah Gita dekat, terlihat jelas bahwa dia sedang hamil.
“Wah, akhirnya, selamat yaaaaa. Berapa bulan mi?” ani memeluk temannya.
“Besok pas delapan bulan.” Gita balas memeluk. Kemudian berbalik ke saya. Kami kenalan. Dia cantik. Mungil. Dan terlihat imut karena perutnya yang buncit. Kami lalu berjalan beriringan kelapangan. Gita mengambil posisi ditengah.
“Kau bilang ada Bon-bon, mana mi paeng?” tanyanya.
“Di lapangan. Ndak mau ikut menjemput. Dilihat nanti suamimu, dilarangko keluar”
“Huffttt, berdebar jantungku, heheeee…”
“Istri orang, hamil pula”
“Saya tahu ji. Karena itu ndak pernah mi saya hubungi. Tapi malam ini saya mau lihat ji. Kangen ka bah. Sekedar lihat boleh ji toh?”
“Karena ini malam tahun baru, boleh deh, heheheeee”
Percakapan itu berlanjut sepanjang jalan. Mereka berdua saling menanyakan kabar. Saya lebih banyak senyum-senyum mendengar cerita mereka. Sambil mendengar, saya berpikir. Ada juga ya cinta yang seperti itu. Saling jatuh cinta, terpisah karena terpaksa, tak saling bertemu dalam waktu lama, bahkan bertemu dan menikah dengan orang lain tetap tidak mampu membunuh perasaan mereka. Seperti kata Tasaro GK dalam Galaksi Kinanthi-nya “sekali mencinta, setelah itu mati…”
Sesampainya kami dilapangan, suasana sudah sangat ramai. Kami bergegas masuk menyalip beberapa pengunjung lain yang berdiri menghalangi jalan masuk. Ani memanjangkan leher mencari Bon-bon. Dia melihatnya berdiri disamping mobil yang parkir didekat jalan masuk. Kami mendekat padanya. Ani jalan duluan. Saya dibelakangnya jalan berdampingan dengan gita. Wajah Gita terlihat nerveous. Dia meremas-meremas tangannya sendiri. Melihat itu saya tersenyum kemudian meraih tangan sebelah kirinya dan menggenggamnya. Dia balas senyum, tidak berusaha melepaskan genggaman saya. Tangannya yang satu memegang hape. Sampai didekat Bon-Bon suasana jadi sedikit aneh. Kami semua diam. Musik dero yang keras dan sorak sorai pengunjung tidak berhasil menyembunyikan suasana hening diantara kami berempat. Jeda beberapa saat. Bon-bon kemudian mengambil inisiatif mencairkan suasana.
“Wah, besarmi di’? Sudah berapa bulan?” tanyanya sambil memonyongkan bibir menunjuk perut Gita
“Besok delapan. Baru kita tahu kah bilang saya hamil”?
“Barusan ki’ ketemu nah…heheee”
Mendengar mereka bercakap-cakap, Ani memberi kode kesaya. Saya melepaskan tangan Gita lalu mengikuti Ani berdiri agak jauh memberi mereka privacy. Saya kira banyak yang harus diselesaikan diantara keduanya.

Ditengah lapangan pengunjung yang menari dero bergerak berkeliling mengikuti irama musik. Mereka saling menggandeng satu sama lain sehingga membentuk lingkaran. Dalam tarian dero, kekompakan adalah kunci utama untuk menjaga lingkaran tetap bergerak selaras. Tangan saling menggandeng, dan yang banyak bergerak adalah kaki. Gerakan kaki mengikuti pola dan gaya. Penari yang tidak tahu pola gerakannya akan membuat lingkaran kacau. Gerakannya sebenarnya gampang-gampang susah. Semakin sering ikut menari semakin pandai. Orang Soroako pada umumnya pintar Dero. Bagi mereka rasanya kurang ramai bila dalam sebuah perayaan atau hajatan tidak ada acara deronya. Gerakan-gerakan dero mereka juga bervariasi. Ani yang sejak tadi geregetan mau masuk ke lingkaran mengurungkan niat melihat gerakan mereka.
“Rumit”, katanya. “Dero tingkat tinggi ini, kinde-kinde. Saya malu gabung, kacau nanti lingkaran”
Saya tertawa. Saya bilang, kalau Ani hanya bisa dero tingkat rendah, saya malah lebih parah. Saya masih berada ditingkat dasar alias nol besar. Karena itu sebaiknya malam ini kami berdua jadi penonton saja. Kalo ini di Malili, ceritanya beda. Dimalili, yang ikut dero pada umumnya bukan ahli. Jadi merusak lingkaran tidak akan menjadi aib, heheheeee…

Lingkaran penari membesar dan mengecil berkali-kali. Penari yang lelah keluar dan masuk lagi setelah istirahat. Pesta ini mungkin akan berlangsung sampai pagi. Saya menyalakan hape mengintip jam digital dilayarnya. Pukul 02.30. ini sudah subuh. Saya sudah menguap berkali-kali. Saya lihat Gita datang mendekati kami meninggalkan Bon-Bon yang masih berdiri disamping mobil.
“Saya mau pulang mi. Mau sekali k’ pipis” katanya sambil memegang perut.”lagipula hampir mi subuh. Bumil tidak baik keluyuran malam-malam terlalu lama”
“Bagaimana urusanmu sama dia” tanya Ani
“Sudah mi. Harus ikhlas. Mau apalagi?”
Kami setuju untuk pulang. Ani mengusulkan agar Gita menunggu di jalan masuk saja. Saya akan menemaninya. Dia dan Bon-bon akan kembali ke rumahnya Aji, mengajak Hendra pulang agar Gita bisa pulang diantar pakai mobil.  Selama menunggu Gita tidak banyak bicara. Dia hanya bilang masih sangat sayang pada mantan suaminya, tapi menutup kalimatnya dengan kata sudahlah. Saya mengerti dia tidak ingin membahasnya. Beberapa menit kemudian, kami sudah berada diatas mobil. Kami mengantar Gita sampai depan rumahnya, menunggunya masuk dipintu baru meninggalkannya. Bon-bon menolak diantar kerumahnya, tapi minta kembali diturunkan dipinggir lapangan.
Jalan sepanjang plansite tertutup kabut tebal. Terlebih-lebih didaerah gunung hasan. Benar-benar gelap oleh kabut. Saya bergidik ngeri mengingat kecelakaan mobil beberapa waktu lalu didaerah ini. Mobil itu terjun kedalam jurang dan menewaskan tiga orang penumpangnya. Hendra mengemudi pelan-pelan seraya menyalakan lampu sorot sambil sesekali membunyikan klakson. Mobil kami merayap pelan seperti siput. Satu dua pengendara motor melintas melewati kami. Mendekati wawondula kabut yang kami temui mulai menipis. Saya baru bisa bernafas lega. Hendra tetap hati-hati. Dia menyetel music untuk membantunya mengusir kantuk.
Sebelum sampai wawondula, Gita menelpon Ani untuk berterima kasih. Dia bilang dia merasa lega.
“Saya lebih beruntung daripada Gita” kata saya pada Ani setelah dia menutup telponnya.
“Kenapa bede’?
“Karena orang yang saya suka belum menjadi suami orang. Cinta saya bukan cinta terlarang”
“Tapi bertepuk sebelah tangan”
“Siapa bilang?”
“Buktinya sendiri ko ini malam. Dimana dia sekarang?”
“Sudah ah, ndak usah dibahas”
“Haloooo, arma. Wake up!”
“Aniiiii, gak usah dibahas!”
Saya mengibaskan tangan didepan wajah lalu menyenderkan kepala dikaca jendela mobil pura-pura tidur. Ani melempar saya dengan sweater. Saya menangkapnya lalu melipat sweater itu meletakkannya dibawah kepala menjadikannya bantal.
Saya dengar ani mengetuk-ngetuk dashboard mobil sambil menyanyi lagu sephia. Saya senyum dan pura-pura melanjutkan tidur. Perjalanan kami masih panjang. Saya akan menikmatinya sambil mendengarkan musik dari tape mobil. Tentu saja, tetap pura-pura tidur agar Ani tidak membahas masalah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Hm, cinta yang bertepuk sebelah tangan. Kalimat itu akan menjadi point ke empat dari mantra penyembuh saya…