Kisah ini dimulai dengan cerita patah hati
diakhir tahun. Again? Iya! Pedihnya, saya patah hati berulang-ulang oleh satu
orang yang sama (standing applaus for him). Ouh, bukan berarti saya goblok ya.
Saya hanya sedang dilemahkan oleh cinta. Seperti pak Mario Teguh bilang, cinta
melemahkan logika.Tapi saya akan segera baikan. Saya akan berusaha memulihkan
diri. Saya sudah punya mantranya, kok. Masih dari Pak Mario Teguh, sih,
hehehee… point-poinnya sebagai berikut:
Hmm,
dia tidak mengutamakan saya, tidak memilih saya. Jelas dia tidak cinta
Well,
kami dekat tapi backstreet. Dia memang belum menikah tapi tetap saja saya
dijadikan selingkuhan. Saya harus melupakannya lalu segera menemukan laki-laki
lain yang bangga menyebut saya kekasih didepan teman-temannya.
Ya,
mungkin saya tidak cukup baik untuknya sehingga dia memilih tetap bersama
pacarnya itu. Atau mungkin dia tidak cukup baik untuk saya sehingga Tuhan
menjadikannya milik orang lain sebelum bertemu saya.
Tidak ada yang bisa memaksakan perasaan. Saya menghargai keputusannya dan berharap mereka bahagia. Halah...whatever, heheheee..yang jelas saya sedang terluka dan
merasa tidak pantas dicintai karena tidak dijadikan pilihan. Saya jadi sering
termenung-menung, malas ngomong, malas makan, susah tidur, melankolis,
sentimentil, dan terus-terusan merindukan kamar. Status facebook saya juga jadi
ikut-ikutan lebay bin alay. Gejala ini terbaca oleh Ani. Dia berhasil membuat
saya curhat sambil berderai airmata. Sebaliknya ani tertawa-tawa sampai
mengeluarkan airmata. Katanya saya childish. Mirip anak esempe yang sedang
patah hati karena kehilangan cinta pertamanya. Dia juga bilang saya bisa dengan
mudah punya pacar lagi kalau saya mau membuka hati untuk laki-laki lain yang
jelas-jelas care sama saya. Oke, ani benar. Tapi itu karena dia tidak tahu saja
kalo yang satu ini beda. Saya tidak tahu kenapa saya suka. Yang jelas, setelah dekat saya merasa dia
baik, menyenangkan, dia keren. Waktu saya mengatakan ini, ani langsung sewot
dan bilang itu karena mata saya sedang rabun karena cinta. Tapi tahu apa dia,
dia belum pernah ketemu orangnya, kan?
As you know, patah hati membuatmu tidak bersemangat
merayakan apapun termasuk tahun baru. Saya menolak ajakan falma ke Palu,
mencari alasan supaya tidak ikut mama ke Toraja, juga membatalkan niat menemani
Ani ke Palopo. Ani marah. Dia bilang sudah menguras kolam ikan dibelakang
rumahnya dan menjual semua penghuninya untuk mentraktir saya makan dan karaoke.
Alasan. Kasian ikannya. Padahal yang maniak karaoke itu dia bukan saya. Saya
ingin dikamar saja. Bertapa mungkin sambil mendengarkan “I wanna be with
you”-nya Mandy Moore atau membaca salah satu novel jadul yang ada dirak buku. Sometimes,
you need to be lonely, aren’t you?
Home alone itu surga. Saya bilang begitu ke ani
saat dia telpon khawatir waktu tahu saya sendiri dirumah. Setelah bilang
begitu, saya menutup telponnya sekaligus mematikan hape. Tapi dia tidak
menyerah. Jam Sembilan malam, dia datang dengan Hendra, suaminya, membawa
mobil. Memaksa saya bangun dari tempat tidur, dan ikut dengannya. Dia merasa
saya sedang sekarat dan butuh diselamatkan. Menurutnya akan lebih baik jika
saya keluar rumah, bertemu banyak orang dan berhenti memikirkan orang yang
jelas-jelas sedang bersama orang lain dan tidak memikirkan saya. Hmm.. dia terlalu
melebih-lebihkan. Keadaan saya tidak separah itu. Tapi akhirnya saya menurut,
naik ke mobilnya dan ikut dia ke Soroako. Sepanjang perjalanan ani cerita
tentang banyak hal. Saya hanya mendengarkan. Teman saya yang satu ini memang
baik, tapi agak cerewet, heheeeee…
Sampai Soroako hujan gerimis menyambut. Basah dan
agak sepi untuk ukuran malam tahun baru. Tidak ada rencana pasti mau kemana.
Hendra mengusulkan karaoke ke Grand Mulia. Saya bilang sudah telat karena room
disana pasti sudah habis dibooking oleh orang lain. Kami memutuskan keliling mencari keramaian.
Gedung F-Gym ramai, tapi kami malas singgah. Menyambut pergantian tahun
digedung tertutup sama sekali tidak asyik. Dihalaman masjid Al-Ikhwan juga
berdiri sebuah tenda yang dipenuhi banyak anak-anak. Spanduk lebar bertuliskan
“Festival Anak Saleh” menghiasi latar belakang panggung. Saat kami melintas mc
yang memakai baju koko berpeci putih sedang mengumumkan nama pemenang no empat
dari atas podium. Kami memutar ke arah jalan menara. Ani bilang kebelet pipis
dan mau numpang dirumah temannya.
Nama temannya Bon-bon. Dia tinggal dirumah
kontrakan seperti karyawan pendatang pada umumnya. Istrinya, Has, ramah dan
mengobrol dengan logat bugis yang mendayu-dayu. Has mempersilahkan kami memakai
kamar mandinya kemudian menyuguhi kami kue jipang dan es teh. Alhamdulillah ya,
pas banget, karena saat itu sedang hujan rintik-rintik. Menjelang tengah malam
Bon-bon mengajak kami kerumah kontrakan orang tuanya dijalan Mongonsidi. Has
tidak bisa ikut karena harus menemani anaknya yang sudah tidur. Disini ramai.
Banyak yang lalu lalang dijalan. Banyak pula yang mengobrol bergerombol.
Dirumah orang tua bon-bon juga ramai. Teman-teman bon-bon membuat acara barbeque
dihalaman samping rumahnya. Ibu Bon-bon yang disapa dengan panggilan “Aji”
karena telah menunaikan ibadah haji, rupanya kenal juga sama Ani. Aji menyambut
kami dengan ramah.
Kata orang, makan setelah jam sebelas malam
kurang baik bagi kesehatan. Tapi saya kira teori seperti itu tidak berlaku
dimalam tahun baru. Aji menghidangkan ayam dan ikan bakar lengkap dengan nasi
putih dan lalapannya. Ada juga brownis coklat tabur kacang dan coca cola
sebagai hidangang penutupnya. Kami makan sambil mengobrol. Aji menanyakan kabar
keluarga ani dan bercerita tentang banyak hal kepada kami sambil sesekali
mempersilahkan untuk menambah makanan. Piring-piring saji yang diatur diatas
meja dengan segera kosong karena isinya berpindah keperut kami. Kami sedang
menikmati brownis coklat dan Cola ketika suara letusan kembang api dari tengah
jalan membahana dibawah gerimis. Yeah, 2013 is coming. Welcome. Kami semua
bersalaman saling memberikan ucapan selamat. Setelah itu turun kejalan berbaur
dengan orang lain yang semakin lama semakin ramai memenuhi badan jalan berdiri
menengadah ke langit. Suara ledakan kembang api susul menyusul dari berbagai
penjuru. Langit Soroako cerah oleh warna-warni ledakan bunga api dari kembang
api yang dilontarkan keatas. Pemandangan indah itu berlangsung sekitar setengah
jam, kemudian ledakan-ledakan itu pelan-pelan berkurang meski tidak benar-benar
berhenti. Masih sesekali terdengar ketika suara music dero yang menghentak
terdengar dari arah lapangan. Rupanya pesta belum usai. Dero akan segera
dimulai. Lapangan tempat dero jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah aji. Ani
geretan mau melihat dero. Bon-bon mengajak saya dan ani kelapangan dan
melihatnya. Hendra dan yang lainnya tetap dirumah aji melanjutkan acara bakar
jagung. Sebelum jalan kelapangan, Ani memutuskan menelpon Gita, temannya,
mengajaknya nonton, biar ramai katanya. Gita mengiyakan akan datang asal
dijemput. Rumahnya agak jauh tapi masih bisa dijangkau dengan jalan kaki.
Bon-bon menolak ikut menjemputnya, dia bilang akan menunggu dilapangan saja.
Saya heran lalu bertanya sama Ani kenapa Bon-Bon tidak mau ikut. Sambil jalan,
Ani berkisah panjang lebar….
***
Gita gelisah dikamarnya. Ani baru saja telpon
mengabarkan dia sedang di Soroako sekarang. Malam ini memang ramai. Seperti
biasa orang-orang Soroako mengadakan acara dero untuk memeriahkan acara tahun
baru. Dia juga belum bisa tidur. Rumahnya terlalu dekat dengan lapangan dan
suara musik dero yang keras jelas terdengar dari dalam kamarnya. Dia menyibak
gorden pembatas pintu mengintip suaminya
yang sedang menikmati makan malam keduanya didepan TV. Laki-laki yang
menikahinya dua tahun lalu itu mengangkat piringnya didepan dada, sibuk
menguyah sambil menonton film laga yang ditayangan di TV. Bukan menunggu
suaminya menghabiskan makanan yang membuatnya gelisah. Bukan itu. Tapi
kata-kata ani yang terakhir saat menelpon tadi yang telah berhasil membuncah
dadanya, membangkitan perasaan sedih yang selama tiga tahun ini berusaha dia
pendam dalam-dalam.
“Sama k’ bon-bon disini. Dari rumahnya k’ acara
bakar-bakar ikan”.
Bon-bon. Nama itu masih terdengar sakral
ditelinganya. Apa kabar dia sekarang? Mereka bertemu terakhir kali sekitar dua tahun
lalu. Seminggu sebelum dia menikah. Pernikahan keduanya setelah berpisah dengan
bon-bon. Perpisahan yang sama sekali bukan keinginan mereka berdua. Sama sekali
bukan. Dulu, dia sangat mencintai suami pertamanya itu, sampai keluarganya
memaksa mereka untuk berpisah karena setelah sekian tahun dirinya tidak kunjung
hamil dan mempersembahkan cucu untuk mertuanya. Suaminya dijodohkan dengan perempuan
yang segera setelah menikah dengan bon-bon melahirkan seorang cucu untuk
mertuanya.
Gita berdiri didepan cermin dan menatap dirinya.
Seandainya mertuanya mau sedikit bersabar. Seandainya dia diberi kesempatan
lebih lama… Lihat perutnya sekarang. Membuncit dengan indah karena didalamnya
sedang bersemayam janin yang satu hari lagi akan genap berumur delapan bulan.
Sebentar lagi dia akan menjadi ibu. Sebentar lagi dia bisa mengajak anaknya
jalan-jalan. Dia bersumpah akan mengajak anaknya jalan-jalan melintas didepan
rumah mantan mertuanya demi mengumumkan pada mereka bahwa dirinya tidak mandul.
Gita mengelus perutnya sambil tersenyum membayangkan hari itu.
Ah….Gita menarik nafas panjang. Cerita hidupnya
memang seperti kisah dalam novel picisan yang diadaptasi dalam sinetron yang
kerap dia tonton TV. Dia adalah menantu yang tak diinginkan. Suaminya adalah
kekasih yang sempurna tapi takut durhaka kepada orangtuanya. Sinetron banget,
kan? Yang dia sayangkan kenapa dalam kisahnya dia tidak mengalami kecelakaan
saja, kepalanya terbentur batu, tembok atau apalah agar dia terserang amnesia. Akan
sangat tragis memang, tapi itu bisa membuatnya dengan mudah melupakan semua kepedihannya.
Dan yang pasti, dia tidak akan segelisah sekarang karena akan bertemu dengan
mantan suami yang tidak pernah berhasil digantikan oleh siapapun dihatinya.
Termasuk suaminya sekarang. Tentu, Gita sayang suaminya. Tapi cintanya masih
milik bon-bon. Masih.
Gita kembali menarik nafas panjang. Kali ini
menghembuskannya kuat-kuat. Dadanya terasa lebih lega. Dia telah mengiyakan
akan menemani Ani menonton dero. Ada bon-bon disana. Gita ingin tahu, seperti
apa rupa laki-laki itu sekarang. Gita juga ingin tahu, apakah debaran
jantungnya masih sekencang dulu jika duduk dekat bon-bon. Gita lalu membuka
lemari pakaian. Mengambil jilbab berwarna senada dengan rok yang dia pakai
sekarang. Dia tidak perlu mengganti kaosnya. Sweater hitam yang tergantung
dibelakang pintu yang akan dia pakai agar lengannya ikut tertutup. Setelah
mematut diri sebentar didepan cermin, dia keluar dari kamar. Suaminya sudah
selesai makan dan sedang menikmati sebatang rokok.
“Saya mau keluar nonton dero. Boleh?” tanya Gita
ragu-ragu.
“Sama siapa?” suaminya balik bertanya sambil
menjentikkan abu rokok kedalam asbak ditengah meja.
“Sama Ani, temanku yang bersuami di Malili. Kita
masih ingat ji? Dia ada disini sama suaminya. Dia panggil k’ temani nonton.
Sebentar lagi dia jemput”
“Iya, saya ingat. Pergi mi. Saya malas keluar.
Bagus ini film”
Gita segera berlalu dari hadapan suaminya. Takut
laki-laki itu melihat rona senang diwajahnya. Dia membuka pintu tidak terlalu
lebar, menyelipkan tubuhnya keluar lalu menutupnya pelan-pelan. Sambil memegang
perutnya dia menuruni anak tangga satu persatu. Jalanan depan rumahnya lengang
tapi benderang oleh lampu-lampu jalan yang menyala. Setelah berbelok diujung
lorong, barulah dia berpapasan dengan beberapa orang. Beberapa anak ABG
berkumpul ditepi jalan. Mereka duduk diatas sadel motor masing-masing yang
diparkir berjejer melingkar. Gita memperhatikan setiap orang yang jalan
mencari-cari sosok ani yang sudah janji akan menjemputnya. Tidak ada. Tak mau
menunggu lama dia menelpon.
“Saya sudah menuju ke situ, jalan kaki tapi, jadi
agak lambat. Sabar ya, bu” ani menenangkannya dari ujung telepon.
Gita memutuskan terus jalan. Setelah melewati beberapa rumah, akhirnya dia
melihat Ani melambai dari jauh. Ani hanya berdua dengan teman perempuannya.
Mana Bon-Bon?
***
Glek. Bon-bon menelan ludah. Kemudian menghela
nafasnya pelan-pelan agar Ani tidak mendengarnya. Kenapa dia merasa resah
begini. Seharusnya tadi dia mencegah ani menelpon Gita. Dia tidak mau ketemu
dengan perempuan itu lagi. Dua tahun ini dia sudah berhasil menahan diri.
Memblokir semua akses yang menghubungkan mereka. Dia menutup akun facebooknya,
mengganti nomor hapenya, menghindari lewat disekitar rumah gita, bahkan menyewa rumah jauh dari daerah itu hanya untuk
memastikan mereka tidak berpapasan dijalan. Dia melakukan semua itu demi
kebaikan mereka berdua. Bon-bon yakin, cinta Gita masih miliknya, dan dia juga
belum bisa menghapus nama perempuan itu dari hatinya. Tapi mereka berdua
sekarang sudah menjadi milik orang lain, terikat dalam ijab kabul pernikahan
masing-masing. Memang, dalam hal ini dirinya yang salah karena dulu tega
mencampakkan Gita hanya demi menuruti keinginan orangtuanya. Tapi sudahlah. Tidak
perlu mengenang masa lalu. Istrinya baik. Anaknya lucu. Kebahagiaannya akan
sempurna jika dia bisa mencintai istrinya dengan sepenuh hati. Dia masih
berusaha.
Tadi dia sudah berhasil menolak menemani Ani
menjemput Gita. Suami Gita tidak akan suka melihatnya. Biarlah dia menunggu
disini saja. Mengambil kesempatan untuk menenangkan hatinya yang sedang
bergolak. Gita pasti akan datang. Dia ingin tahu seperti apa perempuan itu
sekarang. Dia ingin tahu apakah hatinya masih berdegup kencang jika duduk didekatnya.
Lihat saja nanti. Bon-bon menjatuhkan puntung rokoknya didekat kaki,
menginjaknya keras-keras dengan tumit sandal sambil menyunggingkan senyum nakal
dibibirnya.
***
Rumah Gita jauh juga. Ani sudah selesai
menceritakan kisah Gita tapi kami belum sampai juga. Ani bilang dia sudah agak
lupa rumah Gita yang sebelah mana. Saya menyarankan untuk menelpon. Sebelum ani
sempat mengeluarkan hape dari sakunya, Gita telepon. Dia sudah dijalan, katanya
tidak sabar menunggu kami datang. Ani mengaku lupa rumahnya yang mana lalu
menjelaskan posisi kami berada saat itu. Gita menyarankan kami untuk terus
jalan lurus. Setelah melewati beberapa rumah, Gita akhirnya kelihatan diantara
pejalan kaki yang lain. Saya belum pernah ketemu Gita, tapi yakin perempuan
berjilbab yang melambaikan tangan dari jarak yang cukup jauh didepan kami
adalah Gita. Saya benar. Ani balas melambai. Setelah Gita dekat, terlihat jelas
bahwa dia sedang hamil.
“Wah, akhirnya, selamat yaaaaa. Berapa bulan mi?”
ani memeluk temannya.
“Besok pas delapan bulan.” Gita balas memeluk.
Kemudian berbalik ke saya. Kami kenalan. Dia cantik. Mungil. Dan terlihat imut
karena perutnya yang buncit. Kami lalu berjalan beriringan kelapangan. Gita
mengambil posisi ditengah.
“Kau bilang ada Bon-bon, mana mi paeng?” tanyanya.
“Di lapangan. Ndak mau ikut menjemput. Dilihat
nanti suamimu, dilarangko keluar”
“Huffttt, berdebar jantungku, heheeee…”
“Istri orang, hamil pula”
“Saya tahu ji. Karena itu ndak pernah mi saya
hubungi. Tapi malam ini saya mau lihat ji. Kangen ka bah. Sekedar lihat boleh
ji toh?”
“Karena ini malam tahun baru, boleh deh,
heheheeee”
Percakapan itu berlanjut sepanjang jalan. Mereka
berdua saling menanyakan kabar. Saya lebih banyak senyum-senyum mendengar
cerita mereka. Sambil mendengar, saya berpikir. Ada juga ya cinta yang seperti
itu. Saling jatuh cinta, terpisah karena terpaksa, tak saling bertemu dalam
waktu lama, bahkan bertemu dan menikah dengan orang lain tetap tidak mampu
membunuh perasaan mereka. Seperti kata Tasaro GK dalam Galaksi Kinanthi-nya
“sekali mencinta, setelah itu mati…”
Sesampainya kami dilapangan, suasana sudah sangat
ramai. Kami bergegas masuk menyalip beberapa pengunjung lain yang berdiri
menghalangi jalan masuk. Ani memanjangkan leher mencari Bon-bon. Dia melihatnya
berdiri disamping mobil yang parkir didekat jalan masuk. Kami mendekat padanya.
Ani jalan duluan. Saya dibelakangnya jalan berdampingan dengan gita. Wajah Gita
terlihat nerveous. Dia meremas-meremas tangannya sendiri. Melihat itu saya
tersenyum kemudian meraih tangan sebelah kirinya dan menggenggamnya. Dia balas
senyum, tidak berusaha melepaskan genggaman saya. Tangannya yang satu memegang
hape. Sampai didekat Bon-Bon suasana jadi sedikit aneh. Kami semua diam. Musik
dero yang keras dan sorak sorai pengunjung tidak berhasil menyembunyikan
suasana hening diantara kami berempat. Jeda beberapa saat. Bon-bon kemudian
mengambil inisiatif mencairkan suasana.
“Wah, besarmi di’? Sudah berapa bulan?” tanyanya
sambil memonyongkan bibir menunjuk perut Gita
“Besok delapan. Baru kita tahu kah bilang saya
hamil”?
“Barusan ki’ ketemu nah…heheee”
Mendengar mereka bercakap-cakap, Ani memberi kode
kesaya. Saya melepaskan tangan Gita lalu mengikuti Ani berdiri agak jauh
memberi mereka privacy. Saya kira banyak yang harus diselesaikan diantara
keduanya.
Ditengah lapangan pengunjung yang menari dero
bergerak berkeliling mengikuti irama musik. Mereka saling menggandeng satu sama
lain sehingga membentuk lingkaran. Dalam tarian dero, kekompakan adalah kunci
utama untuk menjaga lingkaran tetap bergerak selaras. Tangan saling
menggandeng, dan yang banyak bergerak adalah kaki. Gerakan kaki mengikuti pola
dan gaya. Penari yang tidak tahu pola gerakannya akan membuat lingkaran kacau.
Gerakannya sebenarnya gampang-gampang susah. Semakin sering ikut menari semakin
pandai. Orang Soroako pada umumnya pintar Dero. Bagi mereka rasanya kurang
ramai bila dalam sebuah perayaan atau hajatan tidak ada acara deronya.
Gerakan-gerakan dero mereka juga bervariasi. Ani yang sejak tadi geregetan mau
masuk ke lingkaran mengurungkan niat melihat gerakan mereka.
“Rumit”, katanya. “Dero tingkat tinggi ini,
kinde-kinde. Saya malu gabung, kacau nanti lingkaran”
Saya tertawa. Saya bilang, kalau Ani hanya bisa
dero tingkat rendah, saya malah lebih parah. Saya masih berada ditingkat dasar
alias nol besar. Karena itu sebaiknya malam ini kami berdua jadi penonton saja.
Kalo ini di Malili, ceritanya beda. Dimalili, yang ikut dero pada umumnya bukan
ahli. Jadi merusak lingkaran tidak akan menjadi aib, heheheeee…
Lingkaran penari membesar dan mengecil
berkali-kali. Penari yang lelah keluar dan masuk lagi setelah istirahat. Pesta
ini mungkin akan berlangsung sampai pagi. Saya menyalakan hape mengintip jam
digital dilayarnya. Pukul 02.30. ini sudah subuh. Saya sudah menguap
berkali-kali. Saya lihat Gita datang mendekati kami meninggalkan Bon-Bon yang
masih berdiri disamping mobil.
“Saya mau pulang mi. Mau sekali k’ pipis” katanya
sambil memegang perut.”lagipula hampir mi subuh. Bumil tidak baik keluyuran
malam-malam terlalu lama”
“Bagaimana urusanmu sama dia” tanya Ani
“Sudah mi. Harus ikhlas. Mau apalagi?”
Kami setuju untuk pulang. Ani mengusulkan agar
Gita menunggu di jalan masuk saja. Saya akan menemaninya. Dia dan Bon-bon akan
kembali ke rumahnya Aji, mengajak Hendra pulang agar Gita bisa pulang diantar
pakai mobil. Selama menunggu Gita tidak
banyak bicara. Dia hanya bilang masih sangat sayang pada mantan suaminya, tapi
menutup kalimatnya dengan kata sudahlah. Saya mengerti dia tidak ingin
membahasnya. Beberapa menit kemudian, kami sudah berada diatas mobil. Kami
mengantar Gita sampai depan rumahnya, menunggunya masuk dipintu baru
meninggalkannya. Bon-bon menolak diantar kerumahnya, tapi minta kembali
diturunkan dipinggir lapangan.
Jalan sepanjang plansite tertutup kabut tebal.
Terlebih-lebih didaerah gunung hasan. Benar-benar gelap oleh kabut. Saya
bergidik ngeri mengingat kecelakaan mobil beberapa waktu lalu didaerah ini.
Mobil itu terjun kedalam jurang dan menewaskan tiga orang penumpangnya. Hendra
mengemudi pelan-pelan seraya menyalakan lampu sorot sambil sesekali membunyikan
klakson. Mobil kami merayap pelan seperti siput. Satu dua pengendara motor
melintas melewati kami. Mendekati wawondula kabut yang kami temui mulai
menipis. Saya baru bisa bernafas lega. Hendra tetap hati-hati. Dia menyetel
music untuk membantunya mengusir kantuk.
Sebelum sampai wawondula, Gita menelpon Ani untuk
berterima kasih. Dia bilang dia merasa lega.
“Saya lebih beruntung daripada Gita” kata saya
pada Ani setelah dia menutup telponnya.
“Kenapa bede’?
“Karena orang yang saya suka belum menjadi suami
orang. Cinta saya bukan cinta terlarang”
“Tapi bertepuk sebelah tangan”
“Siapa bilang?”
“Buktinya sendiri ko ini malam. Dimana dia
sekarang?”
“Sudah ah, ndak usah dibahas”
“Haloooo, arma. Wake up!”
“Aniiiii, gak usah dibahas!”
Saya mengibaskan tangan didepan wajah lalu menyenderkan
kepala dikaca jendela mobil pura-pura tidur. Ani melempar saya dengan sweater.
Saya menangkapnya lalu melipat sweater itu meletakkannya dibawah kepala menjadikannya
bantal.
Saya dengar ani mengetuk-ngetuk dashboard mobil
sambil menyanyi lagu sephia. Saya senyum dan pura-pura melanjutkan tidur.
Perjalanan kami masih panjang. Saya akan menikmatinya sambil mendengarkan musik
dari tape mobil. Tentu saja, tetap pura-pura tidur agar Ani tidak membahas
masalah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Hm, cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Kalimat itu akan menjadi point ke empat dari mantra penyembuh saya…