Written by Andra
Setiap orang lahir dengan membawa
garis tangannya masing-masing. Dua orang saudara kandung yang lahir dari rahim
yang sama, dibesarkan dilingkungan yang sama, tetap tidak akan memiliki
peruntungan yang sama setelah dewasa. Sekelompok pedagang yang berjualan
berjejer dipasar yang sama, dengan jenis barang dagangan yang yang sama, tidak
akan didatangi oleh jumlah pelanggan yang sama. Ya, seperti kata pepatah bugis,
“pada lao te’pada upe”. Hal ini juga berlaku pada saya dan Sembilan teman saya
lainnya.
Awalnya kami adalah siswa dari salah
satu sekolah teknik yang ada di Makassar, STM Pembangunan 05, Jurusan Teknik
Alat Berat. Jurusan Kami adalah program study baru di sekolah. Jurusan ini
diadakan berkat kerjasama sekolah dengan pihak PT Trakindo Utama, supplyer alat
berat merek Caterpillar
diperusahaan-perusahaan tambang di seluruh Indonesia. PT Trakindo menjalin
kerjasama ini dengan pihak sekolah untuk mencari calon mekaniknya. Kami adalah
angkatan pertama dengan jumlah siswa seanyak 30 orang. Kami melewati masa
pendidikan selama 4 tahun. Setelah mengikuti UAN dan dinyatakan lulus, kami
diwajibkan mengikuti PKL selama 6 bulan di beberapa cabang perusahaan PT Trakindo Utama.
Sebelum berangkat ke tempat PKL
masing-masing, kami mengadakan acara perpisahan di Malino bersama teman-teman
kelas. Keesokan harinya, sepulang dari Malino kami mengurus semua perlengkapan
administrasi dan perlengkapan sebelum keluar PKL. Dari 30 siswa, kami di bagi menjadi 3 tempat yang berbeda dengan perusahaan
yang sama namun beda cabang. Sebut saja PT Trakindo, Dealer Alat berat
Caterpillar. Ada 10 orang yang ke
samarinda, Kalimantan, 10 orang di sorowako dan 10 lagi tetap di Makassar. Tapi
kali ini, saya cuma akan bercerita tentang 10 orang siswa yang ke sorowako.
Hari itu, akhir Juni tepatnya tanggal
28 Juni 2003, kami ber10 yaitu : saya, Gilang, Aldi, Endris, Arul, Zul, Iyyu’,
Abe,Ilo, Aswar, yang mendapat penempatan PKL Trakindo cabang Soroako akan mulai
berangkat dari Makassar. Sore harinya
kami janjian di perwakilan Litha, di sermani Makassar. Kami sepakat berangkat
bersama-sama ke Sorowako karena kami semua juga belum pernah ada yang kesana
dan memang belum tahu bagaimana keadaan daerah sorowako sendiri. Tidak ada informasi apapun tentang Soroako yang diberikan oleh
pihak sekolah. Oleh karena itu, di dalam bis setiap kami cerita-cerita tentang bagaimana keadaan sorowako, kami semua
hanya bisa bilang…”yaa, nantilah kalau sudah sampai baru kita tahu kondisinya sendiri.”
Melakukan apapun kalau baru pertama
kalinya pasti serba gugup dan kikuk. Ini juga adalah pengalaman pertama kami
melakukan perjalanan jauh dengan bis dimalam hari. Di dalam perjalanan, salah
seorang dari teman mau sekali buang air kecil. Dia tidak tahu bagaimana caranya
buang air kecil sementara bis jalan.
Terpaksa, dia buang air kecilnya dalam botol aqua saja. Eheheh (namanya juga
orang baru yang belum pernah naik mobil perjalanan jauh….)
Setelah dua belas jam perjalanan, bis
Litha jurusan Soroako yang kami tumpangi mulai menurunkan penumpangnya
satu-satu.”Ini sudah sampai Wawondula.” Kata
seorang penumpang yang akan turun pada saya.
Malam sebelum berangkat, saya memang bertanya Wawondula dimana karena
orangtua saya memberi tahu bahwa saya punya sepupu yang tinggal di daerah
Wawondula. Cuma saya belum pernah ketemu dan tidak kenal sama beliau. Ternyata
ini sudah sampai Wawondula. Setelah mengantar penumpang yang turun di wawondula,
bis pun melaju ke Sorowako. Di jalan kami melihat beberapa bis PT. Inco yang
beroperasi mengantar karyawan pulang
kerja pagi. Sebelum memasuki pintu gerbang Sorowako, ternyata terdapat sebuah
lampu merah yang di jaga oleh security di pos penjagaan yang bertugas untuk
memberikan isyarat bagi kendaraan yang ingin masuk karena di tempat itu juga
ternyata daerah operasinya/ jalur dari truck alat berat yang lewat. Setelah
truck alat berat lewat, lampu hijau pun di nyalakan. Tanda bagi mobil atau kendaraan
masyarakat untuk melintas. Melihat truck alat berat yang sedang oprasi, kami
merasa kaget… kenapa ada mobil yang sebesar itu disini….“Bessssarna dieeee.” Celetuk seorang teman
saya. Wajar, itu adalah pertama kalinya
kami melihat unit HT secara langsung.
Memasuki wilayah Soroako, bis kembali
mengantar penumpang ke alamat tujuan mereka masing-masing. Setelah semua penumpang turun, kami pun di tanya
dimana tujuan kami. Kami cuma bilang, mau turun di kantornya Toyota dekat
bandara. Sampai di depan kantor Toyota,
kami semua turun dan berhenti sejenak. Mikir mau kemana kita….????? Setelah
mendapat info kemana kita mau pergi, akhirnya kami ke rumah salah satu penduduk
di jalan merapi ‘’ndak tahu info dari siapa lagi ‘’. Sampai dirumah itu, kami
bertanya dan memang benar itulah rumah yang di maksud. Kami semua naik kerumah
itu, dan berbicara dengan tuan rumah. Setelah berbincang-bincang dengan tuan rumah,
kami di antar ke samping rumahnya yang masih satu atap dengan rumah tuan rumah.
Katanya kami bisa tinggal di situ. Sampai diruang samping itu kami lihat
kondisi yang memang masih baru, maksudnya baru dibuat dengan luas 5 x 7 meter
Dimana jendelanya belum ada. Cuma di tutup dengan tirai. ‘’kasihaaaan………’’
Malam pun datang, dimana situasi yang
baru kami rasakan. Kondisi yang lain dengan kondisi yang ada di kota Makassar.
Sunyi, sepi dan gelap yang ada di hadapan kami. Jam 9 malam suasana smakin sunyi.
anak dari tuan rumah datang berkunjung di tempat kami. Mengajak kami
keluar karena ada acara pengantin di dekat lapangan persesos. Hanya saya, aldy
dan ilho yang ikut. Suasana pesta ramai.
Kami berkenalan dengan beberapa anak muda Sorowako teman anak tuan rumah kami
itu. Selama dipesta, kami menyaksikan
orang-orang menari. Mereka berdiri melingkar sambil berpegangan tangan. Mereka
menari berkeliling mengikuti irama lagu. Kata teman-teman baru kami itu adalah
tarian ala Sorowako, namanya tari Dero.
Sampai tengah malam kami disana. Saat kami bertiga pulang ke tempat
kost, kami lihat teman-teman yang lain sudah pada tidur dengan lelapnya. Oh,,,iyya… saya belum perjelas kalau
di tempat kost kami itu cuma tempat tempat kosong dengan ukuran 5 x 7 meter
dengan kondisi jendela belum ada, tempat tidur tidak ada, jadi kami tidur
berjejer 10 orang, bantal cuma ada satu jadi siapa yang cepat tidur itu yang punya
dan yang lainnya lagi pake tas rangsel masing-masing sebagai bantal kepala. Kami juga
memasak di situ, rice cooker plus sebuah kompor minyak. Kami membagi jadwal
kegiatan kami bersama, jadi setiap hari kami punya tugas. Kami 10 orang, jadi
kami bagi perhari itu 2 orang / hari untuk tugas menyapu, memasak, dll. Kalau
hari sabtu minggu itu bebas…. Tergantung kesediaan saja…
Hari pertama, kedua, dan ketiga
berlalu. kami mengikuti GIP dan mendapatkan kartu badge, sebagai syarat untuk masuk
ke lokasi kerja PT INCO ( MEM – Trakindo ) esok harinya. Adzan subuh telah
berbunyi, satu persatu dari kami pun bangun dari tidur. Saling bergantian
ke kamar mandi sambil yang bertugas pada hari senin itu memasak nasi. Setelah
sarapan kami semua berangkat dari tempat kost menuju halte yang ada di jalan
merapi. Dan tidak sedikit orang yang
memperhatikan kami. Mungkin bertanya-tanya orang dari mana, tinggal dimana dan
apa kegiatannya di sini. Karena kami semua berpakaian ala pekerja karyawan
trakindo yang memang baju seragam itu di berikan waktu kami di sekolah. Naik
bis karyawan, seragam kerja, helm proyek warna putih, sepatu safety,kacamata
kerja, badge number…smuanya itu adalah hal baru buat kami, tapi kami yakin
bahwa begitulah awalnya..semua trasa kaku. Sampai dilokasi kerja, kami langsung
ke kantor untuk perkenalan dan di bagikan section dimana kami akan di tempatkan.
Setelah berkenalan di kantor dengan instructor yang ada, kami di ajak ke floor
untuk bertemu dengan foreman masing-masing section dan membagi tempat dimana section
kami masing-masing. Setelah section masing-masing sudah ada, kami lalubergabung dengan para
senior yang ada. Berkenalan dan ikut kerja bersama mereka.
Hari demi hari kami lalui dengan
senang, karena semua senior baik dan cepat akrab sama kami. Mungkin karena
sebagian dari senior ada yang satu kampung, satu asal sekolah, dan berdekatan
tempat kost. Hari pertama kami lalui dengan aman, pulang ketempat kost dengan
tenang tanpa kekurangan satu pun/ accident. Pada saat kami pulang kerja, kami
melihat di dekat rumah kost kami seorang gadis yang bagi saya cantiklah. Beberapa hari kami lalu
lalang di dekat rumahnya, mungkin dia pun bertanya-tanya dimana mereka tinggal. Akhirnya
pada suatu hari, kami berkenalan dengan gadis itu. Beberapa hari kemudian gadis
itu membawakan kami kue waktu kami pulang dari lokasi kerja. Kami semakin akrab
dengan dia. Hampir setiap hari, ada ada saja kue yang dia berikan kepada kami
kalau pulang dari lokasi kerja. Akhirnya salah satu dari temanku ada yang
pacaran dengan gadis itu. Kue pun makin lancar tiap harinya. Eheheh…. Asyik.
Mereka pacaran cukup lama. Kami juga makin akrab dengan dia… Kadang-kadang,
pada malam hari sepulang dari lokasi kerja kami ke telkomsel untuk menelpon
keluarga dimakassar dan ada juga yang telpon pacar masing-masing. Kami jalan
kaki ramai-ramai karena jaraknya agak jauh. Sebenarnya, ada wartel didekat kost
kami, tapi karena menelpon dari wartel biayanya agak mahal, baru bicara sedikit
saja sudah banyak biaya yang keluar.
Beberapa waktu berlalu, akhirnya ada
beberapa teman yang pindah tempat tinggal. Mereka ikut tinggal ke rumah salah
seorang senior di dekat danau. Saya dan teman yang lain masih tinggal di tempat
yang sama. Namun akhirnya memutuskan untuk pindah saja karena rumah kost yang
kami tempati juga memang kurang nyaman. Sementara teman-teman saya mencari
tempat tinggal yang lebih baik, saya memilih pindah ke Wawondula, kerumah
sepupu yang sebelumnya sering mengajak saya untuk tinggal dirumahnya. Walaupun
saya tinggal di wawondula, saya masih sering ke sorowako ketemu dengan
teman-teman saya, agar silaturahmi tetap terjaga meski sudah tidak tinggal
bersama-sama lagi. Dalam hati, bagi saya, mereka bukan sekedar teman, tapi
sudah seperti saudara.
Enam bulan kemudian kami selesai
dalam program PKL. Setelah laporan kerja dan semua agenda yang kami lakukan
selesai, kami semua di test. Test teori semua module dan test tinkeng/praktek
kami lakukan. Beberapa hari kemudian, yaitu pada hari Jum’at, hasilnya tesnya
keluar dan kami semua dinyatakan lulus.Pada hari senin kami di tawari untuk
tanda tangan kontrak kerja, kontrak kerja 6 bulan masa percobaan sebelum
permanent. Kami saling bertanya satu sama lain apakah akan menerima tawaran
tersebut dan kemudian sepakat untuk tanda tangan untuk masa kontrak kerja itu. Setelah
tanda tangan kontrak kerja kami semua mengadakan syukuran atas semua itu. Kami mengajak
teman-teman sekelas yang juga telah menyelesaikan program PKL ditempat mereka. Teman-teman dan
sebagian guru kami menyewa mobil bus dari Makassar ke Sorowako. Senang sekali
karena bisa bertemu lagi dengan mereka. Kami mengadakan acara bakar-bakar ikan
di pantai ide, seru-seruan dan saling cerita tentang pengalaman kami selama PKL
ditempat masing-masing. Mereka menginap selama dua malam. Saya juga nginap di Sorowako.
Maklum baru ketemu dengan teman-teman lagi. Setelah dua malam tiga hari, mereka pun
pulang sore harinya menuju Makassar. Saat mereka pamit dan bersalam-salaman,
rasanya sedih sekali. Dua hari kebersamaan rasanya tidak cukup. Hanya kali ini
saja kami bisa berkumpul seperti itu. Kalau pun masih bisa ngumpul, pasti hanya
sebagian saja karena kami tentu akan kembali ke tempat kerja masing-masing. Namun kenyataan berpihak kepada kami, akhirnya
beberapa bulan kemudian delapan orang teman yang pernah ke samarinda itu di terima di
sorowako sebeagai karyawan juga. Senang karena setidaknya kami bisa kumpul2
lagi walaupun cuma sebahagian saja. Teman-teman yang baru datang itu juga kost
di merapi, tapi bagian atas. Tiap malam di rumah kostnya selalu ramai,
bergantian teman-teman datang kalau lagi off atau masuk malam. Biasa juga ada
yang nginap disana, mungkin karena disana lebih ramai dengan teman-teman yang
lain.
Waktu berjalan dengan cepat, beberapa tahun telah berlalu. Seiring berjalannya waktu, banyak hal yang
berubah pada kami. Satu persatu kami merubah status dari lajang menjadi
menikah. Ada yang pindah untuk mencari tempat tinggal yang lebih besar dan
nyaman. Ada pula yang tinggal ditempat yang sama meskipun sudah menikah. Ya,
beda kamar tentunya. Sampai sekarang saya masih tetap tinggal di Wawondula
meski tidak tinggal dirumah sepupu lagi sejak menikah. Oh ya, perusahaan punya
system untuk merubah tingat level seorang mechanic ke jenjang yang lebih diatas
lagi. Dari level training mechanic, general technician, master technician,
senior technician. Tingkatan level ini tentu saja mempengaruhi tingkatan
salary kami. Semuanya tergantung pada sebesar usaha kami masing-masing. Satu
dua orang teman memang serius mengejar kenaikan level, karena itu kami
tertinggal dengan mereka. Satu orang sudah menjadi master technician, satu
orang lainnya berhasil menjadi senior technician. Demi mengejar ketertinggalan
kami juga berusaha untuk merubah level kami dengan cara kami masing-masing.
Namun tentu saja hasil setiap usaha tidak selalu seperti yang diharapkan.
Ada-ada saja yang membuat kami tertinggal dan membuat kami tidak mampu mengejar
ketertinggalan; kesibukanlah, apalah…. Dan satu hal yang membuat kami mentok
diposisi yang ada sekarang adalah bahwa di Sorowako sekarang jumlah senior
technician dianggap terlalu banyak. Jumlahnya hampir sama dengan technician.
Sementara perbandingan antar senior technician dan technician seharusnya
hanyalah 1 : 5. Rasanya kecewa juga.
Kondisi itu tidak memungkinkan kami untuk naik level. Teman-teman PKL saya yang
sepuluh orang dulu sekarang yang bertahan di Sorowako sisa tujuh orang. Ada satu
orang yang resign dari perusahaan, satu orang memilih bekerja ke Arab, satu
orang pindah ke head office dan berubah jalurdari technician menjadi service
analysis. Resign dari perusahaan adalah satu-satunya cara untuk mencari jalan
naik level dan melakukan perbaikan jumlah salary. Tentu saja, teman-teman dari
Trakindo yang melamar keluar selalu mendapat tempat diperusahaan lain baik
didalam maupun diluar negeri karena perusahan selalu menstabilkan antara
pekerjaan dan skill. Kondisi ini membuat beberapa orang teman memplesetkan
kepanjangan PT dari perseroan terbatas menjadi perguruan tinggi. Yeah, bukan
lagi PT Trakindo Utama tapi Perguruan Tinggi Trakindo Utama, heheeee…. Masuk tarkindo, belajar, setelah pintar kabur
ke perusahaan lain.
Sekali lagi, setiap orang punya
rezekinya masing-masing. Scenarionya memang seperti itu. Pada waktu-waktu yang
akan datang, yang harus kami lakukan hanyalah berusaha menjadi lebih baik. Sambil
tetap berdoa semoga dikesempatan lain ada rezeki yang lebih baik yang Tuhan
rencanakan untuk kami. Ya… mari belajar, belajar, belajar dan menambah skill
untuk menjadikan kami lebih mahir dan lebih ahli lagi…. Setelah itu….
Kaburrrrrrr ke prusahaan lain, hehehee…. ;) ;)