Sabtu, 28 Desember 2013

Pada Lao Teppada Upe'



Written by Andra


Setiap orang lahir dengan membawa garis tangannya masing-masing. Dua orang saudara kandung yang lahir dari rahim yang sama, dibesarkan dilingkungan yang sama, tetap tidak akan memiliki peruntungan yang sama setelah dewasa. Sekelompok pedagang yang berjualan berjejer dipasar yang sama, dengan jenis barang dagangan yang yang sama, tidak akan didatangi oleh jumlah pelanggan yang sama. Ya, seperti kata pepatah bugis, “pada lao te’pada upe”. Hal ini juga berlaku pada saya dan Sembilan teman saya lainnya.

Awalnya kami adalah siswa dari salah satu sekolah teknik yang ada di Makassar, STM Pembangunan 05, Jurusan Teknik Alat Berat. Jurusan Kami adalah program study baru di sekolah. Jurusan ini diadakan berkat kerjasama sekolah dengan pihak PT Trakindo Utama, supplyer alat berat  merek Caterpillar diperusahaan-perusahaan tambang di seluruh Indonesia. PT Trakindo menjalin kerjasama ini dengan pihak sekolah untuk mencari calon mekaniknya. Kami adalah angkatan pertama dengan jumlah siswa seanyak 30 orang. Kami melewati masa pendidikan selama 4 tahun. Setelah mengikuti UAN dan dinyatakan lulus, kami diwajibkan mengikuti PKL selama 6 bulan di beberapa  cabang perusahaan PT Trakindo Utama.

Sebelum berangkat ke tempat PKL masing-masing, kami mengadakan acara perpisahan di Malino bersama teman-teman kelas. Keesokan harinya, sepulang dari Malino kami mengurus semua perlengkapan administrasi dan perlengkapan sebelum keluar PKL. Dari 30 siswa, kami  di bagi menjadi 3 tempat yang berbeda dengan perusahaan yang sama namun beda cabang. Sebut saja PT Trakindo, Dealer Alat berat Caterpillar.  Ada 10 orang yang ke samarinda, Kalimantan, 10 orang di sorowako dan 10 lagi tetap di Makassar. Tapi kali ini, saya cuma akan bercerita tentang 10 orang siswa yang ke sorowako.

Hari itu, akhir Juni tepatnya tanggal 28 Juni 2003, kami ber10 yaitu : saya, Gilang, Aldi, Endris, Arul, Zul, Iyyu’, Abe,Ilo, Aswar, yang mendapat penempatan PKL Trakindo cabang Soroako akan mulai berangkat dari Makassar.  Sore harinya kami janjian di perwakilan Litha, di sermani Makassar. Kami sepakat berangkat bersama-sama ke Sorowako karena kami semua juga belum pernah ada yang kesana dan memang belum tahu bagaimana keadaan daerah sorowako sendiri. Tidak ada informasi  apapun tentang Soroako yang diberikan oleh pihak sekolah. Oleh karena itu, di dalam bis setiap kami cerita-cerita  tentang bagaimana keadaan sorowako, kami semua hanya bisa bilang…”yaa, nantilah kalau sudah sampai baru kita tahu kondisinya sendiri.”
Melakukan apapun kalau baru pertama kalinya pasti serba gugup dan kikuk. Ini juga adalah pengalaman pertama kami melakukan perjalanan jauh dengan bis dimalam hari. Di dalam perjalanan, salah seorang dari teman mau sekali buang air kecil. Dia tidak tahu bagaimana caranya buang air kecil  sementara bis jalan. Terpaksa, dia buang air kecilnya dalam botol aqua saja. Eheheh (namanya juga orang baru yang belum pernah naik mobil perjalanan jauh….)

Setelah dua belas jam perjalanan, bis Litha jurusan Soroako yang kami tumpangi mulai menurunkan penumpangnya satu-satu.”Ini sudah sampai Wawondula.” Kata seorang penumpang yang akan turun pada saya.  Malam sebelum berangkat, saya memang bertanya Wawondula dimana karena orangtua saya memberi tahu bahwa saya punya sepupu yang tinggal di daerah Wawondula. Cuma saya belum pernah ketemu dan tidak kenal sama beliau. Ternyata ini sudah sampai Wawondula. Setelah mengantar penumpang yang turun di wawondula, bis pun melaju ke Sorowako. Di jalan kami melihat beberapa bis PT. Inco yang beroperasi mengantar  karyawan pulang kerja pagi. Sebelum memasuki pintu gerbang Sorowako, ternyata terdapat sebuah lampu merah yang di jaga oleh security di pos penjagaan yang bertugas untuk memberikan isyarat bagi kendaraan yang ingin masuk karena di tempat itu juga ternyata daerah operasinya/ jalur dari truck alat berat yang lewat. Setelah truck alat berat lewat, lampu hijau pun di nyalakan. Tanda bagi mobil atau kendaraan masyarakat untuk melintas. Melihat truck alat berat yang sedang oprasi, kami merasa kaget… kenapa ada mobil yang sebesar itu disini….“Bessssarna dieeee.” Celetuk seorang teman saya. Wajar, itu adalah pertama kalinya kami melihat unit HT secara langsung.
 
Memasuki wilayah Soroako, bis kembali mengantar penumpang ke alamat tujuan mereka masing-masing. Setelah semua penumpang turun, kami pun di tanya dimana tujuan kami. Kami cuma bilang, mau turun di kantornya Toyota dekat bandara.  Sampai di depan kantor Toyota, kami semua turun dan berhenti sejenak. Mikir mau kemana kita….????? Setelah mendapat info kemana kita mau pergi, akhirnya kami ke rumah salah satu penduduk di jalan merapi ‘’ndak tahu info dari siapa lagi ‘’. Sampai dirumah itu, kami bertanya dan memang benar itulah rumah yang di maksud. Kami semua naik kerumah itu, dan berbicara dengan tuan rumah. Setelah berbincang-bincang dengan tuan rumah, kami di antar ke samping rumahnya yang masih satu atap dengan rumah tuan rumah. Katanya kami bisa tinggal di situ. Sampai diruang samping itu kami lihat kondisi yang memang masih baru, maksudnya baru dibuat dengan luas 5 x 7 meter Dimana jendelanya belum ada. Cuma di tutup dengan tirai. ‘’kasihaaaan………’’ 

Malam pun datang, dimana situasi yang baru kami rasakan. Kondisi yang lain dengan kondisi yang ada di kota Makassar. Sunyi, sepi dan gelap yang ada di hadapan kami. Jam 9 malam suasana  smakin sunyi.  anak dari tuan rumah datang berkunjung di tempat kami. Mengajak kami keluar karena ada acara pengantin di dekat lapangan persesos. Hanya saya, aldy dan ilho yang  ikut. Suasana pesta ramai. Kami berkenalan dengan beberapa anak muda Sorowako teman anak tuan rumah kami itu. Selama dipesta,  kami menyaksikan orang-orang menari. Mereka berdiri melingkar sambil berpegangan tangan. Mereka menari berkeliling mengikuti irama lagu. Kata teman-teman baru kami itu adalah tarian ala Sorowako, namanya tari Dero.  Sampai tengah malam kami disana. Saat kami bertiga pulang ke tempat kost, kami lihat teman-teman yang lain sudah pada tidur dengan lelapnya. Oh,,,iyya… saya belum perjelas kalau di tempat kost kami itu cuma tempat tempat kosong dengan ukuran 5 x 7 meter dengan kondisi jendela belum ada, tempat tidur tidak ada, jadi kami tidur berjejer 10 orang, bantal cuma ada satu jadi siapa yang cepat tidur itu yang punya dan yang lainnya lagi pake tas rangsel masing-masing sebagai bantal kepala. Kami juga memasak di situ, rice cooker plus sebuah kompor minyak. Kami membagi jadwal kegiatan kami bersama, jadi setiap hari kami punya tugas. Kami 10 orang, jadi kami bagi perhari itu 2 orang / hari untuk tugas menyapu, memasak, dll. Kalau hari sabtu minggu itu bebas…. Tergantung kesediaan saja…

Hari pertama, kedua, dan ketiga berlalu. kami mengikuti GIP dan mendapatkan kartu badge, sebagai syarat untuk masuk ke lokasi kerja PT INCO ( MEM – Trakindo ) esok harinya. Adzan subuh telah berbunyi, satu persatu dari kami pun bangun dari tidur. Saling bergantian ke kamar mandi sambil yang bertugas pada hari senin itu memasak nasi. Setelah sarapan kami semua berangkat dari tempat kost menuju halte yang ada di jalan merapi.  Dan tidak sedikit orang yang memperhatikan kami. Mungkin bertanya-tanya orang dari mana, tinggal dimana dan apa kegiatannya di sini. Karena kami semua berpakaian ala pekerja karyawan trakindo yang memang baju seragam itu di berikan waktu kami di sekolah. Naik bis karyawan, seragam kerja, helm proyek warna putih, sepatu safety,kacamata kerja, badge number…smuanya itu adalah hal baru buat kami, tapi kami yakin bahwa begitulah awalnya..semua trasa kaku. Sampai dilokasi kerja, kami langsung ke kantor untuk perkenalan dan di bagikan section dimana kami akan di tempatkan. Setelah berkenalan di kantor dengan instructor yang ada, kami di ajak ke floor untuk bertemu dengan foreman masing-masing section dan membagi tempat dimana section kami masing-masing. Setelah section masing-masing sudah ada, kami lalubergabung dengan para senior yang ada. Berkenalan dan ikut kerja bersama mereka.

Hari demi hari kami lalui dengan senang, karena semua senior baik dan cepat akrab sama kami. Mungkin karena sebagian dari senior ada yang satu kampung, satu asal sekolah, dan berdekatan tempat kost. Hari pertama kami lalui dengan aman, pulang ketempat kost dengan tenang tanpa kekurangan satu pun/ accident. Pada saat kami pulang kerja, kami melihat di dekat rumah kost kami seorang gadis yang  bagi saya cantiklah. Beberapa hari kami lalu lalang di dekat rumahnya, mungkin dia pun bertanya-tanya dimana mereka tinggal. Akhirnya pada suatu hari, kami berkenalan dengan gadis itu. Beberapa hari kemudian gadis itu membawakan kami kue waktu kami pulang dari lokasi kerja. Kami semakin akrab dengan dia. Hampir setiap hari, ada ada saja kue yang dia berikan kepada kami kalau pulang dari lokasi kerja. Akhirnya salah satu dari temanku ada yang pacaran dengan gadis itu. Kue pun makin lancar tiap harinya. Eheheh…. Asyik. Mereka pacaran cukup lama. Kami juga makin akrab dengan dia… Kadang-kadang, pada malam hari sepulang dari lokasi kerja kami ke telkomsel untuk menelpon keluarga dimakassar dan ada juga yang telpon pacar masing-masing. Kami jalan kaki ramai-ramai karena jaraknya agak jauh. Sebenarnya, ada wartel didekat kost kami, tapi karena menelpon dari wartel biayanya agak mahal, baru bicara sedikit saja sudah banyak biaya yang keluar.

Beberapa waktu berlalu, akhirnya ada beberapa teman yang pindah tempat tinggal. Mereka ikut tinggal ke rumah salah seorang senior di dekat danau. Saya dan teman yang lain masih tinggal di tempat yang sama. Namun akhirnya memutuskan untuk pindah saja karena rumah kost yang kami tempati juga memang kurang nyaman. Sementara teman-teman saya mencari tempat tinggal yang lebih baik, saya memilih pindah ke Wawondula, kerumah sepupu yang sebelumnya sering mengajak saya untuk tinggal dirumahnya. Walaupun saya tinggal di wawondula, saya masih sering ke sorowako ketemu dengan teman-teman saya, agar silaturahmi tetap terjaga meski sudah tidak tinggal bersama-sama lagi. Dalam hati, bagi saya, mereka bukan sekedar teman, tapi sudah seperti saudara. 

Enam bulan kemudian kami selesai dalam program PKL. Setelah laporan kerja dan semua agenda yang kami lakukan selesai, kami semua di test. Test teori semua module dan test tinkeng/praktek kami lakukan. Beberapa hari kemudian, yaitu pada hari Jum’at, hasilnya tesnya keluar dan kami semua dinyatakan lulus.Pada hari senin kami di tawari untuk tanda tangan kontrak kerja, kontrak kerja 6 bulan masa percobaan sebelum permanent. Kami saling bertanya satu sama lain apakah akan menerima tawaran tersebut dan kemudian sepakat untuk tanda tangan untuk masa kontrak kerja itu. Setelah tanda tangan kontrak kerja kami semua mengadakan syukuran atas semua itu. Kami mengajak teman-teman sekelas yang juga telah menyelesaikan program PKL ditempat mereka. Teman-teman dan sebagian guru kami menyewa mobil bus dari Makassar ke Sorowako. Senang sekali karena bisa bertemu lagi dengan mereka. Kami mengadakan acara bakar-bakar ikan di pantai ide, seru-seruan dan saling cerita tentang pengalaman kami selama PKL ditempat masing-masing. Mereka menginap selama dua malam. Saya juga nginap di Sorowako. Maklum baru ketemu dengan teman-teman lagi. Setelah dua malam tiga hari, mereka pun pulang sore harinya menuju Makassar. Saat mereka pamit dan bersalam-salaman, rasanya sedih sekali. Dua hari kebersamaan rasanya tidak cukup. Hanya kali ini saja kami bisa berkumpul seperti itu. Kalau pun masih bisa ngumpul, pasti hanya sebagian saja karena kami tentu akan kembali ke tempat kerja masing-masing.  Namun kenyataan berpihak kepada kami, akhirnya beberapa bulan kemudian delapan orang teman yang pernah ke samarinda itu di terima di sorowako sebeagai karyawan juga. Senang karena setidaknya kami bisa kumpul2 lagi walaupun cuma sebahagian saja. Teman-teman yang baru datang itu juga kost di merapi, tapi bagian atas. Tiap malam di rumah kostnya selalu ramai, bergantian teman-teman datang kalau lagi off atau masuk malam. Biasa juga ada yang nginap disana, mungkin karena disana lebih ramai dengan teman-teman yang lain.


Waktu berjalan dengan cepat, beberapa tahun telah berlalu. Seiring berjalannya waktu, banyak hal yang berubah pada kami. Satu persatu kami merubah status dari lajang menjadi menikah. Ada yang pindah untuk mencari tempat tinggal yang lebih besar dan nyaman. Ada pula yang tinggal ditempat yang sama meskipun sudah menikah. Ya, beda kamar tentunya. Sampai sekarang saya masih tetap tinggal di Wawondula meski tidak tinggal dirumah sepupu lagi sejak menikah. Oh ya, perusahaan punya system untuk merubah tingat level seorang mechanic ke jenjang yang lebih diatas lagi. Dari level training mechanic, general technician, master technician, senior technician. Tingkatan level ini tentu saja mempengaruhi tingkatan salary kami. Semuanya tergantung pada sebesar usaha kami masing-masing. Satu dua orang teman memang serius mengejar kenaikan level, karena itu kami tertinggal dengan mereka. Satu orang sudah menjadi master technician, satu orang lainnya berhasil menjadi senior technician. Demi mengejar ketertinggalan kami juga berusaha untuk merubah level kami dengan cara kami masing-masing. Namun tentu saja hasil setiap usaha tidak selalu seperti yang diharapkan. Ada-ada saja yang membuat kami tertinggal dan membuat kami tidak mampu mengejar ketertinggalan; kesibukanlah, apalah…. Dan satu hal yang membuat kami mentok diposisi yang ada sekarang adalah bahwa di Sorowako sekarang jumlah senior technician dianggap terlalu banyak. Jumlahnya hampir sama dengan technician. Sementara perbandingan antar senior technician dan technician seharusnya hanyalah 1 : 5.  Rasanya kecewa juga. Kondisi itu tidak memungkinkan kami untuk naik level. Teman-teman PKL saya yang sepuluh orang dulu sekarang yang bertahan di Sorowako sisa tujuh orang. Ada satu orang yang resign dari perusahaan, satu orang memilih bekerja ke Arab, satu orang pindah ke head office dan berubah jalurdari technician menjadi service analysis. Resign dari perusahaan adalah satu-satunya cara untuk mencari jalan naik level dan melakukan perbaikan jumlah salary. Tentu saja, teman-teman dari Trakindo yang melamar keluar selalu mendapat tempat diperusahaan lain baik didalam maupun diluar negeri karena perusahan selalu menstabilkan antara pekerjaan dan skill. Kondisi ini membuat beberapa orang teman memplesetkan kepanjangan PT dari perseroan terbatas menjadi perguruan tinggi. Yeah, bukan lagi PT Trakindo Utama tapi Perguruan Tinggi Trakindo Utama, heheeee….  Masuk tarkindo, belajar, setelah pintar kabur ke perusahaan lain.

Sekali lagi, setiap orang punya rezekinya masing-masing. Scenarionya memang seperti itu. Pada waktu-waktu yang akan datang, yang harus kami lakukan hanyalah berusaha menjadi lebih baik. Sambil tetap berdoa semoga dikesempatan lain ada rezeki yang lebih baik yang Tuhan rencanakan untuk kami. Ya… mari belajar, belajar, belajar dan menambah skill untuk menjadikan kami lebih mahir dan lebih ahli lagi…. Setelah itu…. Kaburrrrrrr ke prusahaan lain, hehehee…. ;) ;)
 

Sabtu, 14 Desember 2013

The 2'nd of Andra

Kurang lebih seminggu yang lalu Andra mengirimi saya tulisannya yang kedua. Kali ini dia cerita tentang perjalanannya ke Pare-pare. Iya, dia dan tiga orang temannya punya rencana bekerja ke Kongo, Afrika Selatan. Jauh ya? Rasanya khawatir setiap kali memikirkan dirinya berada dinegeri itu. Yang saya tahu tentang Afrika Selatan hanyalah Nelson Mandela, gadis-gadis kulit hitam yang seksi dan padang rumput yang luas yang didalamnya berkeliaran banyak singa. Tapi saya tidak akan membahas hal itu disini. Kata Andra, masih terlalu dini untuk dibicarakan. Ya, baiklah.... 
Kali ini tulisannya lebih panjang dari yang pertama. Dia bukan penulis, tentu saja banyak kekurangannya. Bahasanya campur-campur. 
"Kentara sekali bilang mekanik yang tulis" komentarku sesaat setelah membacanya. 
"iyyakah?" dia tertawa. "Kita edit mi saja yang kita rasa perlu diedit" katanya lagi.
Maka sibuklah saya menjadi editor dadakan. Hal pertama yang saya lakukan adalah mengganti semua istilah engine yang dia pakai; fuel, putaran roda, steering, pedal gas. Menurutku orang awam yang membacanya pasti tidak terlalu paham maksudnya. Lalu saya menambahkan banyak kalimat, memperbaiki kesalahan ketik, meghapus kalimat atau kata yang menurut saya tidak bagus, menambahkan materi cerita dengan bertanya padanya apa-apa yang menurut saya hilang dari ceritanya.
Setelah beberapa hari, saya selesai. Saya membaca hasil editan saya. Tapi rasanya ada yang hilang. saya merasa kehilangan rasanya. I mean, cerita tentang sebuah perjalanan bukan sesuatu yang istimewa. semua orang pasti punya pengalaman yang sama. Tapi cara Andra bertutur yang "asal ngomong" yang membuat ceritanya jadi spesial.
Saya lalu mengirim hasil editan saya ke emailnya, minta perseujuannya untuk mempublish tulisannya yang asli.
"Terserah mi kita, tapi bagus jikah?" ketiknya dikolom chatting.
Menurut saya, tulisan yang bagus tidak harus tersusun oleh kalimat-kalimat indah dengan kata-kata yang baku. Tulisan yang bagus adalah yang jika dibaca, pesannya sampai dengan tuntas.
Saya memutuskan mempublish tulisan aslinya. Ini sebagai bentuk penghargaan saya terhadap usahanya menulis untuk saya. Selain itu, saya suka originalitas. Dan bagi saya, membaca tulisannya membuat saya merasa seolah bercakap-cakap langsung dengannya.
Tak ingin berpanjang lebar, mari menyimak penuturannya ;)
****
 
‘’ Capek, Bosan, berkesan dan Indah ‘’
Sore hari itu, perjalanan menuju ke pare pare dimulai. Kami berangkat dari wawondula berempat menuju pare pare dengan tujuan yang sama yaitu untuk mengurus Passport untuk prepare ke luar negeri / Rencana ke Afrika selatan ( Kongo ).
Dengan Bismillah, kami pun berangkat. Perjalanan dari wawondula, wasuponda, malili, angkona,…. Tiba waktu adzan maghrib, sambil jalan sambil kami lihat masjid yang bisa kami singgahi untuk shalat. Kami singgah shalat di salah satu masjid di daerah angkona. Setelah shalat maghrib, kami melanjutkan perjalanan. Sampai di daerah Bone bone, kami singgah dirumah ‘makan burau’ untuk makan malam.
Kami berempat duduk di meja makan, sambil menunggu pesanan datang. Kami duduk tapi cerita masih ada ada saja yang keluar dari mulut. Senyum  dan tawa, dalam cerita kami. Apapun ceritanya smua itu muncul dengan tiba2, biar poster calon legeslatif yang terpasang di dinding saja kami komentari…eheheh… Namanya juga Kursimebel, banyak ceritanya tapi cerita asal….tapi mengenah…
Oh, iyya…. Salah satu dari kami yaitu Abrar adalah orang yang baru saya kenal. Baru kenalan waktu di mobil tadi, rencananya dia juga mau ikut. Baru berapa jam saja, kami sudah akrab….
Setelah makan malam, kami pun melanjutkan perjalanan kami. Canda, tawa, dan semua cerita jadi satu mengiringi putaran steering mobil Asrul yang saat itu menyetir. Putaran roda mobil yang semakin lama smakin jauh tapi cerita kami tdak mau kalah juga. Masih ada ada saja yang kluar dari mulut salah satu dari kami. Posisi jarum fuel pun mulai berkurang. Samapi di daerah Cakkaruddu’, kami singgah untuk isi fuel dulu sambil singgah shalat isya. Habis shalat, kami nongrong dulu ngopi sambil cerita2 tentang kondisi daerah afrika yang Insya Allah Kalau memang jodoh kita kesana. Amin…..yaa rabbal alamin…
Malam smakin gelap, habis cerita2 di teras masjid plus ngopi ( kopi bekal dri rumah ) kami pun melanjutkan perjalanan. Cerita2, canda tawa masih ada ada saja muncul dari mulut kami yang mengirigi putaran roda mobil. Terlebih lebih kalau ada mobil truck di depan kami yang ada kata mutiaranya di bak blakang mobilnya…. Smua jadi bahan cerita. Kata kata yang biasa ada di bak belakang mobil truck itu seperti : bocah tua gaul, www abg tua com, dan msih banyak lagi kata2 yang biasa tertuliskan. Ehehehh…
Putaran roda mobil kami smakin jauh, cerita dari kami juga sdah banyak… satu persatupun dari kami sdah mulai lain posisinya. Dhienk yang duduk di depan samping kiri sudah mulai merebahkan badannya dan sesekali bangun kalau jalan rusak yang di lewati. Akbar yang duduk diblakang bersamping denganku juga sudah mengambil bantal2 kecil untuk di slipkan sebagai pengganjal kepala. Tapi saya masih temani arul carita sambil pencet2 Handphone, chating sama……..yang punya Blog ini….ehehe
Merokok, ngemil, ngopi, dengar musik, dengan arul. Sambil sesekali menertawai gaya teman kami yang lagi enak tidurnya. Kekiri kekanan kepala mereka, seiring putaran steering mobil yang arul kendalikan. Jam 02;00 pun terlihat di jam yang saya pakai, kami pun sdah mulai masuk ke daerah Pare Pare. Sambil jalan saya dan arul tengok kiri kanan lihat penginapan yang bisa kami tempati singgah istirahat. Dan akhirnya kami singgah di penginapan Metro, arul pun turun menanyakan apakah kami bisa nginap atau tidak. Ternyata masih bisa, Kami pun langsung masuk untuk parkir mobil. Kami di antar ke kamar oleh penjaganya ke kamar 307, nomor kamar yang cukup bagus kataku…. Sesudah makan, ngerokok, mimum kopi yang masih ada, smuanya langsung baring dan tidur. Cape’ hbis jalan jauh….
Pagi pun tiba. setelah kami berempat mandi, Kami menuju ke kantor Imigrasi kota pare pare. Di jalan kami lihat kantor imigrasi kelas Dua, dan saya pun dengan santainya berkata… kantor Nomor Dua-nya itu, lanjut jalan saja sambil cari kantor imigrasi kelas Satu-nya. Arul pun tidak berkomentar, Cuma ikut kata2ku saja dan melanjutkan perjalannya. Lama kami berputar2, dhienk pun berkata… mau ki’ kemana? Itumi tadi kantornya kapan??? Arul memutar arah mobilnya dan menuju ke kantor kelas Dua untuk coba2 bertanya. Sesampai disana, kami bertanya dimana loket untuk mengambil formulir pembuatan passport. Sambil saya mengisiform-nya, Dhienk berinisiatif untuk mencari pengurus yang bisa membantu kami dalam proses pembuatan passport kami. Dhienk pun ketemu dengan 2 orang ibu yang mau membantu kami, setelah data2 yang kami bawah dari rumah diambil oleh ibu pengurus itu kami pun diperkenangkan untuk istirahat dlu sambil menunggu waktu untuk foto. Kami berempat pun ke kantin blakang kantor imigrasi itu utuk minum kopi + makan kue. Maklum karna waktu di penginapan kami Cuma di suguhkan kopi hambar dan 1 pisang goreng 1 orng. Eheheh….
Waktu menunjukkan pukul 11 siang lewat, akhirnya kami berempatpun di panggil untuk foto. Setelah foto kami disuruh menunggu lagi sampai jam 3 sore selesainya. Kami berempatpun keluar cari warung makan ( maklum, sdah lapar ). Setelah makan kami ke masjid shalat dzuhur sambil istirahat menunggu ashar dan passport kami selesai. Karena janjinya jam 3 sore selesai. Sudah shalat ashar kami kembali lagi ke kantor imigrasi untuk menayakan proses passport kami dan ternyata katanya nanti jam 5, sedikit lagi.  Kami pun menunggu di depan kantor imigrasi sambil minum kopi. Setelah jam 5 sore kami pun kembali menanyakan hasilnya, tapi hasilnya belum juga selesai…
Kami kecewa dengan hasilnya karna belum selesai sampai sore sedangkan kami harus pulang ke sorowako yang memerlukan waktu panjang. Saya dan dhienk juga harus masuk kerja pagi. Namun smuanya tetap SABAR untuk menunggu. Akhirnya abrar menelfon ibu pengurus itu dan berkata, kami ini belum mandi, istirahat dan lain2…kami butuh tempat. Tapi ibu itu berfikir, tapi kami masih menunggu di mana ada tunpangan untuk istirahat dan mandi…sudah gerah. Dan akhirnya ibu pengurus itu pun berkata… baiklah, ke rumah saya saja kalau mau mandi. Sore pun tiba ibu itu pulang dan kami mengikuti dari belakang. Kami juga baru tahu kalau ibu itu bersaudara. Perjalanan yang lumayan jauh ke rumahnya, akhirnya kami pun sampai dirumah ibu nur laela. Mereka tidak tinggal bersama krna ibu leale tinggal sama suaminya dan adiknya yaitu ibu sunarti tinggal sama orang tua dan anaknya. Karena belaiu adalah seorang janda yang ditinggal suaminya.  Sesampai dirumah orang tua ibu narti, kami di sugukan kopi susu dan kue Sambil menunggu waktu untuk mandi. Sambil minum kopi kami menanyakan di mana kamar mandinya, ternyata tidak ada kamar mandi tertutupnya. Cuma ada kamar mandi terbuka disamping bawah rumah. Waddduh….. ( betul2 daerah pedalaman ). Akhirnya kami smua tidak jadi mandi, karena takut pakaian kami basah. Padahal airnya sangat sejuk. Kami smua pun Cuma mandi stengah saja… ( biar buccu’ tapi genteng smuaji tawwaaa…. ).
Habis shalat maghrib, kami bercerita2 dengan bapak dari ibu sunarti. Ternyata desa ini adalah salah satu desa tertua yang ada di pare pare, nama desanya adalah desa watang bacukiki. Dimana terdapat juga masjid tertua di pare pare, Nama masjid itu adalah masjid Muhajirin desa watang Bacukiki kecamatan Bacukiki, Pare pare. Bapak ibu sunarti itu juga pernah menjadi Imam Masjid tersebut, tapi karena ada sesuatu hal akhirnya beliau mengundurkan diri jadi Imam di masjid itu. Setelah bnyak cerita2, kami pun berpamitan dengan beliau dan smua yang ada dirumah. Berterima kasih atas tumpangan dan smua kebaikan keluarga. Jam 7 malam, kami pun beranjak ke kantor imigrasi untuk mengambil passport dan membayar iurannya. Setelah terima passport dan mnyelesaiakan pembayarannya, kami mengajak ibu bersaudara itu untuk makan malam, sebagai tanda terima kasih kami kepada mereka dan keluarganya. Kami mengajak mereka, tapi mereka mengelak dan tidak mau. mungkin mereka merasa takut sama kami karena sikap kami yang agak kacau. ‘’ Itu juga kata yang mereka katakan, karena baru dapat orang yang seperti kami setelah skian lama menjadi pengurus di kantor imigrasi’. Walaupun kami kacau, Tapi kami sebenarnya baik ko’ dan tidak mungkin berbuat macam-macam dengan mereka. Akhinya ibu Narti pun ikut sama kami, tapi ibu laela tidak. Karna katanya masih ada urusannya di dalam kantor. Kami memilih ke Kfc untuk makan. Di mobil kami banyak cerita dengan ibu Narti dan beliau berkata bahwa baru kali ini ada orang yang dia urus  kacau sekali dan meminta tumpangan di rumahnya. Di mobil pun, ibu Narti tidak henti hentinya di hubungi lewat handphone oleh kakaknya ‘ibu laela’ tentang dimana dia sekarang. Takut kayanya adiknya di bawah lari oleh kami. Sampai di Kfc, ibu laela pun mnyusul adiknya ke sana. Di KFC walaupun mereka tidak makan krna katanya sudah kenyang, kami minta di bungkuskan untuk mereka. Setelah makan malam, kami bersalaman dan berterima kasih atas smuanya Dan kami pamit pulang kerena perjalan kami masih jauh.
Saat perjalanan pulang ke sorowako, kami banyak bicara tentang keluarga dari ibu sunarti dan ibu nurlaela serta keluarga besarnya. Keluarga yang sangat berat dalam kehidupan dan penuh pengorbanan. Dimana ibu sunarti itu adalah seorang janda muda dengan satu anak yang di tinggal pergi oleh suaminya. Ibu yang selalu bersemangat dalam mencarikan nafkah buat anak dan orang tua-nya. Disamping kerja, ibu itu juga kuliah di salah satu perguruan tinggi di pare pare. Jadi betul betul perlu smangat yang besar untuk menjalani hidup yang smakin lama makin membutuhkan biaya yang cukup. Beda dengan kakaknya yaitu ibu nur laela, ibu nur laela masih punya suami yang masih membantu dalam mencarikan nafkah buat keluarganya. Disamping kerja di kantor imigrasi, ibu nurlaela juga mengajar anak anak di sekitaran tempat tinggalnya untuk mengaji…. Alhamdulillah.
Satu hal yang juga membuat kami salut kepada mereka berdua. Mereka berdua itu saling menjaga satu sama lain, dimana waktu ibu sunarti pergi lebih dahulu ke KfC bersama kami, ibu nur laela kakanya itu tdak henti hentinya menghubungi ibu sunarti.
Malam pun smakin gelap, cerita kami dimobil sdikit demi sdikit mulai hilang… ditelang rasa kantuk. Dhienk yang duduk di dpan minta pindah ke belakang tukaran dengan abrar. Biar bisa istirahat tidur karena masuk kerja pagi besok. Abrar pun duduk di depan sambil mengunyah cemilan yang kami beli di toko. Sambil mengunyah, sambil cerita dengan arul yang steer mobil. Saya Cuma senyum dan tertawa mendengar abrar cerita….. biar ndak ngantuk.
Sampai di daerah masamba, arul pun masuk pertamina untuk mengisi fuel mobilnya yang mulai berkurang. Sebelum isi fuel, kami juga mengisi perut kami dengan bekal yang kami bungkus dari Kfc tadi. Takut kalau di jalan tidak ada warung makan terbuka. Stelah makan tengah malam dipertamina, kami mengisi fuel mobil dan melanjutkan perjalanan. Setelah makan tengah malam, saya juga sudah mulai merasakan ngantuk. Dhienk dan abrar juga sudah dari tadi molor. Jam di tangan sudah menunjukkan jam 02; lewat. Arul berkata kepadaku, tidur mekii pache karna kerja pagi kii sebentar. Nanti saya bangunkanki kalau sudah di depan rumah ta’, akhirnya saya pun pamit tidur.
Diperjalan, menurut perkiraan saya perjalannya masih jauh. Tapi pass saya buka mata. Astagaaaa, sudah sampai depan rumah. Wowwww, kencang juga tadi ini pedal gas di injak Rul? Kataku… sampai dirumah setengah 5 subuh, padalah tadi masih jauh. Setelah saya turun, mereka melanjutkan perjalannya ke sorowako. Saya pun masuk rumah dan lanjut tdur satu jam lagi. Biar masuk jam 6 saja, terlambat 1 jam ndak apajiii…( cape’ ka’ boss ).
Rasa Cape’, bosan menunggu dan perjalanan jauh terbayarkan dengan Passport yang sudah ada di tangan. Alhamdulillah….. 

****

Finally saya mau bilang,... "Andra, meski membahas tentang Kongo masih terlalu dini menurut ta', tapi jangan pernah mengira saya diam saja dan tidak mencari tahu tentang negeri itu. Sejauh ini saya menemukan bahwa disana ada banyak saudara keturunan melayu yang membuat saya berpikir bahwa negeri itu aman untuk dijadikan tempat bekerja. Semoga dikabulkan harapan ta' ke sana :) "

Rabu, 04 Desember 2013

Salah Sangka



Beberapa waktu lalu saya berkenalan dengan seorang teman, laki-laki, di sebuah media chating. Dia memperkenalkan diri sebagai Andra. Dia tinggal di wawondula  dan kerja disalah satu perusahaan rekanan PT Vale. Menurut saya dia baik, pintar, lucu, dan agak religious. Kami cepat menjadi akrab. Obrolan kami dichating menyenangkan. Kami membahas banyak hal, tentang hidup, Tuhan, dan Islam. Kami jugaberbagi kabar setiap hari, tentang ativitas masing-masing.
Mengobrol dengannya di chating membuat saya merasa kurang. Apalagi, dia suka menggantung kalimatnya. Jika sudah seperti itu, rasanya saya ingin terbang agar bisa duduk didepannya dan mendesak dia menjelaskan secara detail topic yang sedang kami bahas. Saya minta bertemu dengannya, dan dia mengiyakan. Saya mengundangnya ke Soroako. Karena di Soroako saya tinggal di kost yang tidak menyediakan ruang tamu dan menurut saya kurang baik menerima tamu laki-laki dikamar, maka saya bilang padanya untuk ke Pantai Ide saja. Disana kami bisa mengobrol sambil melihat danau. Tapi dia bilang bahwa saat itu dia sedang shift siang. Tidak mungkin baginya berkunjung siang. Dia akan ke Soroako malam hari saja saat pulang kerja. Saya pikir tidak ada masalah. Kami bisa ketemu disalah satu tempat makan, nongkrong sambil mengobrol. Tapi kemudian dia mempermasalahkan kendaraan. Pada malam hari tidak ada pete-pete.
“bagaimana dengan motor?” tanyaku. Saya menyarankan padanya untuk naik motor ke tempat kerja supaya tidak mesti balik wawondula lagi.
“nah…itu dia masalahnya” tulisnya dalam obrolan chating.
Waktu itu saya berpikir, apa masalahnya? Dia tidak mungkin tidak punya motor. Saya tahu penghasilannya memungkinkan dia untuk beli motor. Waktu itu saya tidak bertanya lebih lanjut apa masalahnya. Dia juga tidak menjelaskan lebih detail. Akhirnya kami batal ketemu.

Kejadian ini terus berulang beberapa kali. Setiap kali mau ketemu, dia selalu mengeluhkan tidak adanya kendaraan. Saya sempat bertanya-tanya, kenapa mau ketemu saja susah sekali? Menurut saya dia hanya mencari-cari alasan karena tidak benar-benar ingin ketemu saya. Lalu suatu hari, setelah membaca beberapa tulisan diblog saya, dia bilang ingin menulis beberapa kisah tentang kehidupannya yang mungkin bisa diposting diblog. Saya mengiyakan, saya kira akan sangat menarik jika ada kisah selain tentang saya yang dipublish diblog.  Beberapa hari kemudian, saat saya sedang duduk diruang tunggu kantor Samsat Lutim di Malili, melalui email dia mengirimi saya tulisan berikut yang disebutnya sebagai tulisan pertama.
@@@

‘’ Kejadian masa kecil yang masih Trauma ‘’
Berawal dari tugas sekolah akhir semester, tugas kerajinan tangan buat anak Sekolah Dasar. Anak sekolah yang masih polos, polos karena usianya yang masih anak-anak. Eheheh……..
Kecelakaan waktu kecil yang masih terbawa sampai sekarang… ehm,,sabar yaa… mikir dulu kata-kata yang bagus dan pass dengan usianya….
Begini ceritanya,… pada pagi itu saya dan teman sebut saja dia Ashari,  janjian untuk pergi beli perlengkapan tugas kerajinan tangan dari Ibu guru sore harinya. Saya  ke rumah Ashari sore harinya, setiba saya di rumahnya.. saya teriak memanggilnya dan tidak lama kemudian dia keluar dari rumahnya sambil membawa sepeda Mustang miliknya (sepeda yang masih trend masa itu).
Sore itu juga kami berdua beranjak dari rumah ashari menuju ke toko yang jaraknya agak jauh dari tempat kami tinggal. Kayuhan sepeda ashari sedikit demi sedikit membawa kami keluar dari lorong tempat kami tinggal. Setiba kami di jalan raya yang padat dengan kendaraan diantaranya ada roda dua, roda empat, roda enam dan roda sepuluh yang memang banyak melintas dijalan itu. Dengan hati2 dan perlahan, ashari pun mendayung roda sepedanya untuk menyeberangi jalan raya yang bagi saya besar pada waktu itu (pikiran anak kecil yang belum tahu dan jarang melihat dunia luar). Ehehe,,, kasihan…..
Sebelum menyeberangi jalan raya itu, kami  menengok kiri kanan dari sisi jalan dan meyakinkan bahwa kami aman untuk menyeberang. Walaupun terlihat jauh dari sana kendaraan roda 6 / mobil truck yang melaju dari sisi kiri jalan yang akan kami sebrangi. Menurut kami kendaraan itu masih jauh. Ashari pun mengayuh roda sepedanya untuk menyebrangi jalan. Namun antara persaaan dan fakta yang ada, perasaan akan selalu kalah dengan fakta yang ada. Kami berdua di tabrak oleh mobil truck yang perasaan kami masih jauh dari sana. Dan akhirnya, kami berdua pun terlempar jauh dan terguling di jalanan. Tapi mobil truck itu masih melaju menjauh dari kami. Pikirku ‘’ truck itu rem nya rusak dan butuh waktu untuk berhenti dengan sempurna ‘’.
Perasaan saya saat itu antara sadar dan tidak, dan dalam hati berkata…. Apakah saya sudah meninggal??? Ternyata belum…. Hufttt, Syukur Alhamdulillah…
Setelah itu saya tenangkan perasaan dan mulai berdiri untuk melihat kondisi Ashari temanku itu tanpa melihat kondisi saya sendiri saat itu. Saya berjalan mendekat kearah Ashari yang mungkin saat itu penuh darah dan luka di kaki dan lengannya. Saya pun memeriksa diri saya dan syukur tidak ada luka yang parah, Cuma sdikit goresan di lutut saja saat terguling2 tadi. Tidak lama kemudian sopir truck itu datang ke arah kami dan menghampiri kami berdua. Sopir itu menyodorkan sejumlah uang yang bagi saya sangat banyak waktu itu, tapi dengan besar hati saya pun berkata ke pak sopir itu…. “Tidak usah pak karena kami juga tidak begitu luka. Cuma lecet sdikit saja.” Pak sopir itu berterima kasih dan berkatakepada kami untuk selalu berhati-hati kalau mau menyeberang apalagi kalau banyak kendaraan yang melintas.
Setelah pak sopir itu beranjak, kami berdua pun berbalik arah pulang kerumah dan tidak melanjutkan perjalan kami ke toko untuk beli perlengkapan tugas kami. Berharap besok ada teman yang akan pergi beli perlengkapan tugas itu dan kami bisa meminta tolong itu dibelikan juga.
Setelah kejadian itu, saya pun tidak berani lagi untuk naik sepeda sampai saat ini. Kejadian masa kecil itu masih teringat jelas dalam ingatanku. Karena kejadian itu sangat fatal namun tidak meninggalkan luka yang berbekas dan parah. Mungkin ALLAH SWT masih sayang kepada kami yang tidak memberikan luka yang parah.
Kami yakin, bahwa skenario cerita Sang Pencipta masih lebih bagus dan masih ada buat kami. Sehingga saat itu kami di berikan waktu untuk hidup.
@@@
Setelah membaca tulisan ini, saya merasa bersalah sekali telah mengira dia mencari-cari alasan tiap kali mau ketemu. Dia bilang dia malu karena kejadian itu sampai hari ini dia tidak mau lagi naik sepeda. Karena itu pula dia tidak pernah berani mencoba naik motor. Kejadian itu membawa trauma padanya. Pantas saja dia selalu mempermasalahkan kendaraan setiap kali mau ketemu saya.

Saya jadi tertarik untuk tahu lebih banyak tentang trauma. Saya lalu browsing dan membaca banyak kisah tentang kejadian masalalu yang membawa trauma. Seorang perempuan dalam blognya bercerita bahwa saat kecil dia pernah melihat kompor gas meledak saat dinyalakan . setelahnya setiap kali akan masak dia butuh bantuan orang lain untuk menyalakan kompor. Kadang-kadang harus menelpon suaminya ke kantor untuk memintanya pulang dan menyalakan kompor. Ada seorang laki-laki yang bercerita tentang guru olahraga dan seniornya yang sering memaksa dia untuk mengoral mereka atau melakukan onani. Pengalaman seks itu yang membuatnya menjadi seorang gay. Dalam kisah lain, diceritakan ttg seorang yang mendapat perlakuan tidak adil dari keluarganya semasa kecil membuatnya takut dan minder dalam bergaul.

Saya menyimpulan bahwa trauma adalah cedera yang terjadi pada tubuh atau bathin/jiwa yang diakibatan oleh peristiwa yang mengejutkan atau pengalaman ekstrim yang menakutkan,  yang mengancam fisik atau jiwa.

Cerita Andra dan sepedanya dan kisah perempuan dengan kompornya memang terasa konyol jika dipikirkan sepintas lalu. Tapi kejadian yang traumatic memang menimbulkan dampak berupa gangguan pada fisik, mental, derita emosional, prilaku social maupun spiritual.
Dibeberapa halaman website, saya juga menemukan beberapa tips dan trik menyembuhkan trauma. Macam-macam metodenya. Saya kira, dalam kasus Andra, yang harus dia lakukan hanyalah belajar untuk rileks. Dia mengaku bisa menyetir mobil. Saya lega. Saya ingin sekali membantunya. Rasanya sayang sekali jika mobilitasnya terbatas gara-gara trauma masa kecil yang sebenarnya bisa disembuhkan. Dia hanya harus berani mencoba mengendarai motor. Satu kali saja. Saya yakin setelahnya dia pasti bisa.

Hari minggu kemarin akhirnya kami ketemu. Belum, dia belum berani mengendarai motor. Dia datangnya juga jalan kaki, heheee… Dan dia masih membuat pertemuan kami menjadi tidak mudah, ckck. Ceritanya, pagi-pagi, saat buka bbm, beberapa teman mengupdate berita kebakaran dipasar wawondula. Dari foto-foto yang diunggah, saya melihat api yang melalap kios pedagang, kerumunan orang-orang dan kesibukan tim pemadam dari pemda Lutim dan Tim Fire PT Vale. Karena penasaran, saya mengajak Mei dan Nurul (teman kost saya) untuk melihat langsung ke Wawondula. Mereka setuju. Saya lalu menghubungi andra kasih tahu bahwa saya akan ke wawondula dan berharap bisa bertemu dengannya.
Menjelang siang saya, Mei dan Nurul tiba dilokasi kebakaran. Kondisinya sangat berantakan. Api sudah padam. Orang-orang yang melihat juga sudah tidak sebanyak yang terlihat difoto tadi. Mobil pemadam kebakaran masih parkir dihalaman pasar. Beberapa anggota tim pemadam terlihat masih sibuk membenahi selang-selang air berukuran besar serta peralatan mereka lainnya. Baju mereka tampak sangat kotor, basah dan hitam. Bagian-bagian bangunan pasar yang kena amukan api terlihat menghitam. Beberapa los sudah menjadi puing-puing. Abu sisa barang terbakar bertebaran dibanyak tempat. Saya jalan berkeliling melihat-lihat mulai depan hingga kebagian samping pasar.

Selesai berkeliling kami singgah duduk beristirahat di depan sebuah  kios untuk menunggu andra. Sebelumnya dia bilang masih dirumah. Rumahnya dekat dari pasar.  Dia minta saya menunggu sebentar karena dia harus mengirim file untuk temannya. Namun lama berselang dia belum juga datang. Dia bilang belum selesai mengirim email karena jaringan internetnya sedang tidak bagus. Sambil menunggunya, saya mengobrol dengan Darma, teman saya yang kebetulan sedang ada juga disana melihat-lihat. Hampir satu jam berlalu. Andra belum datang. Saya mulai kesal. Saya kira dia tidak mau. Tapi bukankah sebaiknya dia bilang agar saya tidak menunggu? Biarlah, pikirku. Nurul dan Mey juga sudah mengajak saya pulang. Nurul mengingatkan bahwa kami masih harus ke Timampu, ke rumah adik saya. Saya setuju untuk pulang. Tapi sebelumnya saya mau shalat dhuhur dulu. Saya minta ijin numpang shalat di salah satu rumah yang ada disamping pasar. Selesai shalat, Andra mengirim pesan. Dia bilang sudah ada dibagian depan pasar.

Akhirnya kami bertemu. Senang bisa melihat sosoknya secara langsung. Sayang sekali saya tidak bisa lama-lama karena adik saya menunggu. Saya harap, masih ada kesempatan bertemu lain kali untuk mengobrol panjang lebar.

Terakhir saya mau bilang, saya senang Andra mau berbagi cerita ini pada saya. Saya jadi tahu alasannya tidak bisa menemui saya tempo hari. Saya harap ini bukan cerita yang terakhir darinya agar saya bisa tahu lebih banyak lagi tentangnya.