Sabtu, 28 Desember 2013

Pada Lao Teppada Upe'



Written by Andra


Setiap orang lahir dengan membawa garis tangannya masing-masing. Dua orang saudara kandung yang lahir dari rahim yang sama, dibesarkan dilingkungan yang sama, tetap tidak akan memiliki peruntungan yang sama setelah dewasa. Sekelompok pedagang yang berjualan berjejer dipasar yang sama, dengan jenis barang dagangan yang yang sama, tidak akan didatangi oleh jumlah pelanggan yang sama. Ya, seperti kata pepatah bugis, “pada lao te’pada upe”. Hal ini juga berlaku pada saya dan Sembilan teman saya lainnya.

Awalnya kami adalah siswa dari salah satu sekolah teknik yang ada di Makassar, STM Pembangunan 05, Jurusan Teknik Alat Berat. Jurusan Kami adalah program study baru di sekolah. Jurusan ini diadakan berkat kerjasama sekolah dengan pihak PT Trakindo Utama, supplyer alat berat  merek Caterpillar diperusahaan-perusahaan tambang di seluruh Indonesia. PT Trakindo menjalin kerjasama ini dengan pihak sekolah untuk mencari calon mekaniknya. Kami adalah angkatan pertama dengan jumlah siswa seanyak 30 orang. Kami melewati masa pendidikan selama 4 tahun. Setelah mengikuti UAN dan dinyatakan lulus, kami diwajibkan mengikuti PKL selama 6 bulan di beberapa  cabang perusahaan PT Trakindo Utama.

Sebelum berangkat ke tempat PKL masing-masing, kami mengadakan acara perpisahan di Malino bersama teman-teman kelas. Keesokan harinya, sepulang dari Malino kami mengurus semua perlengkapan administrasi dan perlengkapan sebelum keluar PKL. Dari 30 siswa, kami  di bagi menjadi 3 tempat yang berbeda dengan perusahaan yang sama namun beda cabang. Sebut saja PT Trakindo, Dealer Alat berat Caterpillar.  Ada 10 orang yang ke samarinda, Kalimantan, 10 orang di sorowako dan 10 lagi tetap di Makassar. Tapi kali ini, saya cuma akan bercerita tentang 10 orang siswa yang ke sorowako.

Hari itu, akhir Juni tepatnya tanggal 28 Juni 2003, kami ber10 yaitu : saya, Gilang, Aldi, Endris, Arul, Zul, Iyyu’, Abe,Ilo, Aswar, yang mendapat penempatan PKL Trakindo cabang Soroako akan mulai berangkat dari Makassar.  Sore harinya kami janjian di perwakilan Litha, di sermani Makassar. Kami sepakat berangkat bersama-sama ke Sorowako karena kami semua juga belum pernah ada yang kesana dan memang belum tahu bagaimana keadaan daerah sorowako sendiri. Tidak ada informasi  apapun tentang Soroako yang diberikan oleh pihak sekolah. Oleh karena itu, di dalam bis setiap kami cerita-cerita  tentang bagaimana keadaan sorowako, kami semua hanya bisa bilang…”yaa, nantilah kalau sudah sampai baru kita tahu kondisinya sendiri.”
Melakukan apapun kalau baru pertama kalinya pasti serba gugup dan kikuk. Ini juga adalah pengalaman pertama kami melakukan perjalanan jauh dengan bis dimalam hari. Di dalam perjalanan, salah seorang dari teman mau sekali buang air kecil. Dia tidak tahu bagaimana caranya buang air kecil  sementara bis jalan. Terpaksa, dia buang air kecilnya dalam botol aqua saja. Eheheh (namanya juga orang baru yang belum pernah naik mobil perjalanan jauh….)

Setelah dua belas jam perjalanan, bis Litha jurusan Soroako yang kami tumpangi mulai menurunkan penumpangnya satu-satu.”Ini sudah sampai Wawondula.” Kata seorang penumpang yang akan turun pada saya.  Malam sebelum berangkat, saya memang bertanya Wawondula dimana karena orangtua saya memberi tahu bahwa saya punya sepupu yang tinggal di daerah Wawondula. Cuma saya belum pernah ketemu dan tidak kenal sama beliau. Ternyata ini sudah sampai Wawondula. Setelah mengantar penumpang yang turun di wawondula, bis pun melaju ke Sorowako. Di jalan kami melihat beberapa bis PT. Inco yang beroperasi mengantar  karyawan pulang kerja pagi. Sebelum memasuki pintu gerbang Sorowako, ternyata terdapat sebuah lampu merah yang di jaga oleh security di pos penjagaan yang bertugas untuk memberikan isyarat bagi kendaraan yang ingin masuk karena di tempat itu juga ternyata daerah operasinya/ jalur dari truck alat berat yang lewat. Setelah truck alat berat lewat, lampu hijau pun di nyalakan. Tanda bagi mobil atau kendaraan masyarakat untuk melintas. Melihat truck alat berat yang sedang oprasi, kami merasa kaget… kenapa ada mobil yang sebesar itu disini….“Bessssarna dieeee.” Celetuk seorang teman saya. Wajar, itu adalah pertama kalinya kami melihat unit HT secara langsung.
 
Memasuki wilayah Soroako, bis kembali mengantar penumpang ke alamat tujuan mereka masing-masing. Setelah semua penumpang turun, kami pun di tanya dimana tujuan kami. Kami cuma bilang, mau turun di kantornya Toyota dekat bandara.  Sampai di depan kantor Toyota, kami semua turun dan berhenti sejenak. Mikir mau kemana kita….????? Setelah mendapat info kemana kita mau pergi, akhirnya kami ke rumah salah satu penduduk di jalan merapi ‘’ndak tahu info dari siapa lagi ‘’. Sampai dirumah itu, kami bertanya dan memang benar itulah rumah yang di maksud. Kami semua naik kerumah itu, dan berbicara dengan tuan rumah. Setelah berbincang-bincang dengan tuan rumah, kami di antar ke samping rumahnya yang masih satu atap dengan rumah tuan rumah. Katanya kami bisa tinggal di situ. Sampai diruang samping itu kami lihat kondisi yang memang masih baru, maksudnya baru dibuat dengan luas 5 x 7 meter Dimana jendelanya belum ada. Cuma di tutup dengan tirai. ‘’kasihaaaan………’’ 

Malam pun datang, dimana situasi yang baru kami rasakan. Kondisi yang lain dengan kondisi yang ada di kota Makassar. Sunyi, sepi dan gelap yang ada di hadapan kami. Jam 9 malam suasana  smakin sunyi.  anak dari tuan rumah datang berkunjung di tempat kami. Mengajak kami keluar karena ada acara pengantin di dekat lapangan persesos. Hanya saya, aldy dan ilho yang  ikut. Suasana pesta ramai. Kami berkenalan dengan beberapa anak muda Sorowako teman anak tuan rumah kami itu. Selama dipesta,  kami menyaksikan orang-orang menari. Mereka berdiri melingkar sambil berpegangan tangan. Mereka menari berkeliling mengikuti irama lagu. Kata teman-teman baru kami itu adalah tarian ala Sorowako, namanya tari Dero.  Sampai tengah malam kami disana. Saat kami bertiga pulang ke tempat kost, kami lihat teman-teman yang lain sudah pada tidur dengan lelapnya. Oh,,,iyya… saya belum perjelas kalau di tempat kost kami itu cuma tempat tempat kosong dengan ukuran 5 x 7 meter dengan kondisi jendela belum ada, tempat tidur tidak ada, jadi kami tidur berjejer 10 orang, bantal cuma ada satu jadi siapa yang cepat tidur itu yang punya dan yang lainnya lagi pake tas rangsel masing-masing sebagai bantal kepala. Kami juga memasak di situ, rice cooker plus sebuah kompor minyak. Kami membagi jadwal kegiatan kami bersama, jadi setiap hari kami punya tugas. Kami 10 orang, jadi kami bagi perhari itu 2 orang / hari untuk tugas menyapu, memasak, dll. Kalau hari sabtu minggu itu bebas…. Tergantung kesediaan saja…

Hari pertama, kedua, dan ketiga berlalu. kami mengikuti GIP dan mendapatkan kartu badge, sebagai syarat untuk masuk ke lokasi kerja PT INCO ( MEM – Trakindo ) esok harinya. Adzan subuh telah berbunyi, satu persatu dari kami pun bangun dari tidur. Saling bergantian ke kamar mandi sambil yang bertugas pada hari senin itu memasak nasi. Setelah sarapan kami semua berangkat dari tempat kost menuju halte yang ada di jalan merapi.  Dan tidak sedikit orang yang memperhatikan kami. Mungkin bertanya-tanya orang dari mana, tinggal dimana dan apa kegiatannya di sini. Karena kami semua berpakaian ala pekerja karyawan trakindo yang memang baju seragam itu di berikan waktu kami di sekolah. Naik bis karyawan, seragam kerja, helm proyek warna putih, sepatu safety,kacamata kerja, badge number…smuanya itu adalah hal baru buat kami, tapi kami yakin bahwa begitulah awalnya..semua trasa kaku. Sampai dilokasi kerja, kami langsung ke kantor untuk perkenalan dan di bagikan section dimana kami akan di tempatkan. Setelah berkenalan di kantor dengan instructor yang ada, kami di ajak ke floor untuk bertemu dengan foreman masing-masing section dan membagi tempat dimana section kami masing-masing. Setelah section masing-masing sudah ada, kami lalubergabung dengan para senior yang ada. Berkenalan dan ikut kerja bersama mereka.

Hari demi hari kami lalui dengan senang, karena semua senior baik dan cepat akrab sama kami. Mungkin karena sebagian dari senior ada yang satu kampung, satu asal sekolah, dan berdekatan tempat kost. Hari pertama kami lalui dengan aman, pulang ketempat kost dengan tenang tanpa kekurangan satu pun/ accident. Pada saat kami pulang kerja, kami melihat di dekat rumah kost kami seorang gadis yang  bagi saya cantiklah. Beberapa hari kami lalu lalang di dekat rumahnya, mungkin dia pun bertanya-tanya dimana mereka tinggal. Akhirnya pada suatu hari, kami berkenalan dengan gadis itu. Beberapa hari kemudian gadis itu membawakan kami kue waktu kami pulang dari lokasi kerja. Kami semakin akrab dengan dia. Hampir setiap hari, ada ada saja kue yang dia berikan kepada kami kalau pulang dari lokasi kerja. Akhirnya salah satu dari temanku ada yang pacaran dengan gadis itu. Kue pun makin lancar tiap harinya. Eheheh…. Asyik. Mereka pacaran cukup lama. Kami juga makin akrab dengan dia… Kadang-kadang, pada malam hari sepulang dari lokasi kerja kami ke telkomsel untuk menelpon keluarga dimakassar dan ada juga yang telpon pacar masing-masing. Kami jalan kaki ramai-ramai karena jaraknya agak jauh. Sebenarnya, ada wartel didekat kost kami, tapi karena menelpon dari wartel biayanya agak mahal, baru bicara sedikit saja sudah banyak biaya yang keluar.

Beberapa waktu berlalu, akhirnya ada beberapa teman yang pindah tempat tinggal. Mereka ikut tinggal ke rumah salah seorang senior di dekat danau. Saya dan teman yang lain masih tinggal di tempat yang sama. Namun akhirnya memutuskan untuk pindah saja karena rumah kost yang kami tempati juga memang kurang nyaman. Sementara teman-teman saya mencari tempat tinggal yang lebih baik, saya memilih pindah ke Wawondula, kerumah sepupu yang sebelumnya sering mengajak saya untuk tinggal dirumahnya. Walaupun saya tinggal di wawondula, saya masih sering ke sorowako ketemu dengan teman-teman saya, agar silaturahmi tetap terjaga meski sudah tidak tinggal bersama-sama lagi. Dalam hati, bagi saya, mereka bukan sekedar teman, tapi sudah seperti saudara. 

Enam bulan kemudian kami selesai dalam program PKL. Setelah laporan kerja dan semua agenda yang kami lakukan selesai, kami semua di test. Test teori semua module dan test tinkeng/praktek kami lakukan. Beberapa hari kemudian, yaitu pada hari Jum’at, hasilnya tesnya keluar dan kami semua dinyatakan lulus.Pada hari senin kami di tawari untuk tanda tangan kontrak kerja, kontrak kerja 6 bulan masa percobaan sebelum permanent. Kami saling bertanya satu sama lain apakah akan menerima tawaran tersebut dan kemudian sepakat untuk tanda tangan untuk masa kontrak kerja itu. Setelah tanda tangan kontrak kerja kami semua mengadakan syukuran atas semua itu. Kami mengajak teman-teman sekelas yang juga telah menyelesaikan program PKL ditempat mereka. Teman-teman dan sebagian guru kami menyewa mobil bus dari Makassar ke Sorowako. Senang sekali karena bisa bertemu lagi dengan mereka. Kami mengadakan acara bakar-bakar ikan di pantai ide, seru-seruan dan saling cerita tentang pengalaman kami selama PKL ditempat masing-masing. Mereka menginap selama dua malam. Saya juga nginap di Sorowako. Maklum baru ketemu dengan teman-teman lagi. Setelah dua malam tiga hari, mereka pun pulang sore harinya menuju Makassar. Saat mereka pamit dan bersalam-salaman, rasanya sedih sekali. Dua hari kebersamaan rasanya tidak cukup. Hanya kali ini saja kami bisa berkumpul seperti itu. Kalau pun masih bisa ngumpul, pasti hanya sebagian saja karena kami tentu akan kembali ke tempat kerja masing-masing.  Namun kenyataan berpihak kepada kami, akhirnya beberapa bulan kemudian delapan orang teman yang pernah ke samarinda itu di terima di sorowako sebeagai karyawan juga. Senang karena setidaknya kami bisa kumpul2 lagi walaupun cuma sebahagian saja. Teman-teman yang baru datang itu juga kost di merapi, tapi bagian atas. Tiap malam di rumah kostnya selalu ramai, bergantian teman-teman datang kalau lagi off atau masuk malam. Biasa juga ada yang nginap disana, mungkin karena disana lebih ramai dengan teman-teman yang lain.


Waktu berjalan dengan cepat, beberapa tahun telah berlalu. Seiring berjalannya waktu, banyak hal yang berubah pada kami. Satu persatu kami merubah status dari lajang menjadi menikah. Ada yang pindah untuk mencari tempat tinggal yang lebih besar dan nyaman. Ada pula yang tinggal ditempat yang sama meskipun sudah menikah. Ya, beda kamar tentunya. Sampai sekarang saya masih tetap tinggal di Wawondula meski tidak tinggal dirumah sepupu lagi sejak menikah. Oh ya, perusahaan punya system untuk merubah tingat level seorang mechanic ke jenjang yang lebih diatas lagi. Dari level training mechanic, general technician, master technician, senior technician. Tingkatan level ini tentu saja mempengaruhi tingkatan salary kami. Semuanya tergantung pada sebesar usaha kami masing-masing. Satu dua orang teman memang serius mengejar kenaikan level, karena itu kami tertinggal dengan mereka. Satu orang sudah menjadi master technician, satu orang lainnya berhasil menjadi senior technician. Demi mengejar ketertinggalan kami juga berusaha untuk merubah level kami dengan cara kami masing-masing. Namun tentu saja hasil setiap usaha tidak selalu seperti yang diharapkan. Ada-ada saja yang membuat kami tertinggal dan membuat kami tidak mampu mengejar ketertinggalan; kesibukanlah, apalah…. Dan satu hal yang membuat kami mentok diposisi yang ada sekarang adalah bahwa di Sorowako sekarang jumlah senior technician dianggap terlalu banyak. Jumlahnya hampir sama dengan technician. Sementara perbandingan antar senior technician dan technician seharusnya hanyalah 1 : 5.  Rasanya kecewa juga. Kondisi itu tidak memungkinkan kami untuk naik level. Teman-teman PKL saya yang sepuluh orang dulu sekarang yang bertahan di Sorowako sisa tujuh orang. Ada satu orang yang resign dari perusahaan, satu orang memilih bekerja ke Arab, satu orang pindah ke head office dan berubah jalurdari technician menjadi service analysis. Resign dari perusahaan adalah satu-satunya cara untuk mencari jalan naik level dan melakukan perbaikan jumlah salary. Tentu saja, teman-teman dari Trakindo yang melamar keluar selalu mendapat tempat diperusahaan lain baik didalam maupun diluar negeri karena perusahan selalu menstabilkan antara pekerjaan dan skill. Kondisi ini membuat beberapa orang teman memplesetkan kepanjangan PT dari perseroan terbatas menjadi perguruan tinggi. Yeah, bukan lagi PT Trakindo Utama tapi Perguruan Tinggi Trakindo Utama, heheeee….  Masuk tarkindo, belajar, setelah pintar kabur ke perusahaan lain.

Sekali lagi, setiap orang punya rezekinya masing-masing. Scenarionya memang seperti itu. Pada waktu-waktu yang akan datang, yang harus kami lakukan hanyalah berusaha menjadi lebih baik. Sambil tetap berdoa semoga dikesempatan lain ada rezeki yang lebih baik yang Tuhan rencanakan untuk kami. Ya… mari belajar, belajar, belajar dan menambah skill untuk menjadikan kami lebih mahir dan lebih ahli lagi…. Setelah itu…. Kaburrrrrrr ke prusahaan lain, hehehee…. ;) ;)
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar