Beberapa waktu lalu saya berkenalan dengan seorang teman, laki-laki, di sebuah media chating. Dia memperkenalkan diri sebagai Andra. Dia tinggal di wawondula dan kerja disalah satu perusahaan rekanan PT Vale. Menurut saya dia baik, pintar, lucu, dan agak religious. Kami cepat menjadi akrab. Obrolan kami dichating menyenangkan. Kami membahas banyak hal, tentang hidup, Tuhan, dan Islam. Kami jugaberbagi kabar setiap hari, tentang ativitas masing-masing.
Mengobrol dengannya
di chating membuat saya merasa kurang. Apalagi, dia suka menggantung
kalimatnya. Jika sudah seperti itu, rasanya saya ingin terbang agar bisa duduk
didepannya dan mendesak dia menjelaskan secara detail topic yang sedang kami
bahas. Saya minta bertemu dengannya, dan dia mengiyakan. Saya mengundangnya ke
Soroako. Karena di Soroako saya tinggal di kost yang tidak menyediakan ruang
tamu dan menurut saya kurang baik menerima tamu laki-laki dikamar, maka saya
bilang padanya untuk ke Pantai Ide saja. Disana kami bisa mengobrol sambil
melihat danau. Tapi dia bilang bahwa saat itu dia sedang shift siang. Tidak
mungkin baginya berkunjung siang. Dia akan ke Soroako malam hari saja saat
pulang kerja. Saya pikir tidak ada masalah. Kami bisa ketemu disalah satu
tempat makan, nongkrong sambil mengobrol. Tapi kemudian dia mempermasalahkan
kendaraan. Pada malam hari tidak ada pete-pete.
“bagaimana dengan
motor?” tanyaku. Saya menyarankan padanya untuk naik motor ke tempat kerja
supaya tidak mesti balik wawondula lagi.
“nah…itu dia
masalahnya” tulisnya dalam obrolan chating.
Waktu itu saya
berpikir, apa masalahnya? Dia tidak mungkin tidak punya motor. Saya tahu
penghasilannya memungkinkan dia untuk beli motor. Waktu itu saya tidak bertanya
lebih lanjut apa masalahnya. Dia juga tidak menjelaskan lebih detail. Akhirnya
kami batal ketemu.
Kejadian ini terus
berulang beberapa kali. Setiap kali mau ketemu, dia selalu mengeluhkan tidak
adanya kendaraan. Saya sempat bertanya-tanya, kenapa mau ketemu saja susah
sekali? Menurut saya dia hanya mencari-cari alasan karena tidak benar-benar
ingin ketemu saya. Lalu suatu hari, setelah membaca beberapa tulisan diblog
saya, dia bilang ingin menulis beberapa kisah tentang kehidupannya yang mungkin
bisa diposting diblog. Saya mengiyakan, saya kira akan sangat menarik jika ada
kisah selain tentang saya yang dipublish diblog. Beberapa hari kemudian, saat saya sedang
duduk diruang tunggu kantor Samsat Lutim di Malili, melalui email dia mengirimi
saya tulisan berikut yang disebutnya sebagai tulisan pertama.
@@@
‘’ Kejadian masa kecil yang masih
Trauma ‘’
Berawal dari tugas sekolah akhir
semester, tugas kerajinan tangan buat anak Sekolah Dasar. Anak sekolah yang
masih polos, polos karena usianya yang masih anak-anak. Eheheh……..
Kecelakaan waktu kecil yang masih
terbawa sampai sekarang… ehm,,sabar yaa… mikir dulu kata-kata yang bagus dan
pass dengan usianya….
Begini ceritanya,… pada pagi itu saya
dan teman sebut saja dia Ashari, janjian
untuk pergi beli perlengkapan tugas kerajinan tangan dari Ibu guru sore
harinya. Saya ke rumah Ashari sore
harinya, setiba saya di rumahnya.. saya teriak memanggilnya dan tidak lama kemudian
dia keluar dari rumahnya sambil membawa sepeda Mustang miliknya (sepeda yang masih
trend masa itu).
Sore itu juga kami berdua beranjak
dari rumah ashari menuju ke toko yang jaraknya agak jauh dari tempat kami
tinggal. Kayuhan sepeda ashari sedikit demi sedikit membawa kami keluar dari
lorong tempat kami tinggal. Setiba kami di jalan raya yang padat dengan
kendaraan diantaranya ada roda dua, roda empat, roda enam dan roda sepuluh yang
memang banyak melintas dijalan itu. Dengan hati2 dan perlahan, ashari pun
mendayung roda sepedanya untuk menyeberangi jalan raya yang bagi saya besar
pada waktu itu (pikiran anak kecil yang belum tahu dan jarang melihat dunia
luar). Ehehe,,, kasihan…..
Sebelum menyeberangi jalan raya itu,
kami menengok kiri kanan dari sisi jalan
dan meyakinkan bahwa kami aman untuk menyeberang. Walaupun terlihat jauh dari
sana kendaraan roda 6 / mobil truck yang melaju dari sisi kiri jalan yang akan
kami sebrangi. Menurut kami kendaraan itu masih jauh. Ashari pun mengayuh roda
sepedanya untuk menyebrangi jalan. Namun antara persaaan dan fakta yang ada,
perasaan akan selalu kalah dengan fakta yang ada. Kami berdua di tabrak oleh
mobil truck yang perasaan kami masih jauh dari sana. Dan akhirnya, kami berdua
pun terlempar jauh dan terguling di jalanan. Tapi mobil truck itu masih melaju
menjauh dari kami. Pikirku ‘’ truck itu rem nya rusak dan butuh waktu untuk
berhenti dengan sempurna ‘’.
Perasaan saya saat itu antara sadar
dan tidak, dan dalam hati berkata…. Apakah saya sudah meninggal??? Ternyata
belum…. Hufttt, Syukur Alhamdulillah…
Setelah itu saya tenangkan perasaan
dan mulai berdiri untuk melihat kondisi Ashari temanku itu tanpa melihat kondisi
saya sendiri saat itu. Saya berjalan mendekat kearah Ashari yang mungkin saat
itu penuh darah dan luka di kaki dan lengannya. Saya pun memeriksa diri saya
dan syukur tidak ada luka yang parah, Cuma sdikit goresan di lutut saja saat
terguling2 tadi. Tidak lama kemudian sopir truck itu datang ke arah kami dan
menghampiri kami berdua. Sopir itu menyodorkan sejumlah uang yang bagi saya
sangat banyak waktu itu, tapi dengan besar hati saya pun berkata ke pak sopir
itu…. “Tidak usah pak karena kami juga tidak begitu luka. Cuma lecet sdikit
saja.” Pak sopir itu berterima kasih dan berkatakepada kami untuk selalu
berhati-hati kalau mau menyeberang apalagi kalau banyak kendaraan yang
melintas.
Setelah pak sopir itu beranjak, kami
berdua pun berbalik arah pulang kerumah dan tidak melanjutkan perjalan kami ke
toko untuk beli perlengkapan tugas kami. Berharap besok ada teman yang akan
pergi beli perlengkapan tugas itu dan kami bisa meminta tolong itu dibelikan juga.
Setelah kejadian itu, saya pun tidak
berani lagi untuk naik sepeda sampai saat ini. Kejadian masa kecil itu masih
teringat jelas dalam ingatanku. Karena kejadian itu sangat fatal namun tidak
meninggalkan luka yang berbekas dan parah. Mungkin ALLAH SWT masih sayang
kepada kami yang tidak memberikan luka yang parah.
Kami yakin, bahwa skenario cerita
Sang Pencipta masih lebih bagus dan masih ada buat kami. Sehingga saat itu kami
di berikan waktu untuk hidup.
@@@
Setelah membaca
tulisan ini, saya merasa bersalah sekali telah mengira dia mencari-cari alasan
tiap kali mau ketemu. Dia bilang dia malu karena kejadian itu sampai hari ini
dia tidak mau lagi naik sepeda. Karena itu pula dia tidak pernah berani mencoba
naik motor. Kejadian itu membawa trauma padanya. Pantas saja dia selalu
mempermasalahkan kendaraan setiap kali mau ketemu saya.
Saya jadi tertarik
untuk tahu lebih banyak tentang trauma. Saya lalu browsing dan membaca banyak
kisah tentang kejadian masalalu yang membawa trauma. Seorang perempuan dalam
blognya bercerita bahwa saat kecil dia pernah melihat kompor gas meledak saat
dinyalakan . setelahnya setiap kali akan masak dia butuh bantuan orang lain untuk
menyalakan kompor. Kadang-kadang harus menelpon suaminya ke kantor untuk
memintanya pulang dan menyalakan kompor. Ada seorang laki-laki yang bercerita
tentang guru olahraga dan seniornya yang sering memaksa dia untuk mengoral
mereka atau melakukan onani. Pengalaman seks itu yang membuatnya menjadi
seorang gay. Dalam kisah lain, diceritakan ttg seorang yang mendapat perlakuan
tidak adil dari keluarganya semasa kecil membuatnya takut dan minder dalam
bergaul.
Saya menyimpulan
bahwa trauma adalah cedera yang terjadi pada tubuh atau bathin/jiwa yang
diakibatan oleh peristiwa yang mengejutkan atau pengalaman ekstrim yang
menakutkan, yang mengancam fisik atau
jiwa.
Cerita Andra dan sepedanya
dan kisah perempuan dengan kompornya memang terasa konyol jika dipikirkan
sepintas lalu. Tapi kejadian yang traumatic memang menimbulkan dampak berupa
gangguan pada fisik, mental, derita emosional, prilaku social maupun spiritual.
Dibeberapa halaman
website, saya juga menemukan beberapa tips dan trik menyembuhkan trauma.
Macam-macam metodenya. Saya kira, dalam kasus Andra, yang harus dia lakukan
hanyalah belajar untuk rileks. Dia mengaku bisa menyetir mobil. Saya lega. Saya
ingin sekali membantunya. Rasanya sayang sekali jika mobilitasnya terbatas
gara-gara trauma masa kecil yang sebenarnya bisa disembuhkan. Dia hanya harus
berani mencoba mengendarai motor. Satu kali saja. Saya yakin setelahnya dia
pasti bisa.
Hari minggu kemarin
akhirnya kami ketemu. Belum, dia belum berani mengendarai motor. Dia datangnya
juga jalan kaki, heheee… Dan dia masih membuat pertemuan kami menjadi tidak
mudah, ckck. Ceritanya, pagi-pagi, saat buka bbm, beberapa teman mengupdate
berita kebakaran dipasar wawondula. Dari foto-foto yang diunggah, saya melihat
api yang melalap kios pedagang, kerumunan orang-orang dan kesibukan tim pemadam
dari pemda Lutim dan Tim Fire PT Vale. Karena penasaran, saya mengajak Mei dan
Nurul (teman kost saya) untuk melihat langsung ke Wawondula. Mereka setuju.
Saya lalu menghubungi andra kasih tahu bahwa saya akan ke wawondula dan
berharap bisa bertemu dengannya.
Menjelang siang
saya, Mei dan Nurul tiba dilokasi kebakaran. Kondisinya sangat berantakan. Api
sudah padam. Orang-orang yang melihat juga sudah tidak sebanyak yang terlihat
difoto tadi. Mobil pemadam kebakaran masih parkir dihalaman pasar. Beberapa
anggota tim pemadam terlihat masih sibuk membenahi selang-selang air berukuran
besar serta peralatan mereka lainnya. Baju mereka tampak sangat kotor, basah
dan hitam. Bagian-bagian bangunan pasar yang kena amukan api terlihat menghitam.
Beberapa los sudah menjadi puing-puing. Abu sisa barang terbakar bertebaran
dibanyak tempat. Saya jalan berkeliling melihat-lihat mulai depan hingga
kebagian samping pasar.
Selesai berkeliling
kami singgah duduk beristirahat di depan sebuah
kios untuk menunggu andra. Sebelumnya dia bilang masih dirumah. Rumahnya
dekat dari pasar. Dia minta saya
menunggu sebentar karena dia harus mengirim file untuk temannya. Namun lama
berselang dia belum juga datang. Dia bilang belum selesai mengirim email karena
jaringan internetnya sedang tidak bagus. Sambil menunggunya, saya mengobrol
dengan Darma, teman saya yang kebetulan sedang ada juga disana melihat-lihat. Hampir
satu jam berlalu. Andra belum datang. Saya mulai kesal. Saya kira dia tidak
mau. Tapi bukankah sebaiknya dia bilang agar saya tidak menunggu? Biarlah,
pikirku. Nurul dan Mey juga sudah mengajak saya pulang. Nurul mengingatkan
bahwa kami masih harus ke Timampu, ke rumah adik saya. Saya setuju untuk
pulang. Tapi sebelumnya saya mau shalat dhuhur dulu. Saya minta ijin numpang
shalat di salah satu rumah yang ada disamping pasar. Selesai shalat, Andra
mengirim pesan. Dia bilang sudah ada dibagian depan pasar.
Akhirnya kami
bertemu. Senang bisa melihat sosoknya secara langsung. Sayang sekali saya tidak
bisa lama-lama karena adik saya menunggu. Saya harap, masih ada kesempatan bertemu lain kali untuk mengobrol panjang lebar.
Terakhir saya mau
bilang, saya senang Andra mau berbagi cerita ini pada saya. Saya jadi tahu
alasannya tidak bisa menemui saya tempo hari. Saya harap ini bukan cerita yang
terakhir darinya agar saya bisa tahu lebih banyak lagi tentangnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar