Rabu, 04 Desember 2013

Salah Sangka



Beberapa waktu lalu saya berkenalan dengan seorang teman, laki-laki, di sebuah media chating. Dia memperkenalkan diri sebagai Andra. Dia tinggal di wawondula  dan kerja disalah satu perusahaan rekanan PT Vale. Menurut saya dia baik, pintar, lucu, dan agak religious. Kami cepat menjadi akrab. Obrolan kami dichating menyenangkan. Kami membahas banyak hal, tentang hidup, Tuhan, dan Islam. Kami jugaberbagi kabar setiap hari, tentang ativitas masing-masing.
Mengobrol dengannya di chating membuat saya merasa kurang. Apalagi, dia suka menggantung kalimatnya. Jika sudah seperti itu, rasanya saya ingin terbang agar bisa duduk didepannya dan mendesak dia menjelaskan secara detail topic yang sedang kami bahas. Saya minta bertemu dengannya, dan dia mengiyakan. Saya mengundangnya ke Soroako. Karena di Soroako saya tinggal di kost yang tidak menyediakan ruang tamu dan menurut saya kurang baik menerima tamu laki-laki dikamar, maka saya bilang padanya untuk ke Pantai Ide saja. Disana kami bisa mengobrol sambil melihat danau. Tapi dia bilang bahwa saat itu dia sedang shift siang. Tidak mungkin baginya berkunjung siang. Dia akan ke Soroako malam hari saja saat pulang kerja. Saya pikir tidak ada masalah. Kami bisa ketemu disalah satu tempat makan, nongkrong sambil mengobrol. Tapi kemudian dia mempermasalahkan kendaraan. Pada malam hari tidak ada pete-pete.
“bagaimana dengan motor?” tanyaku. Saya menyarankan padanya untuk naik motor ke tempat kerja supaya tidak mesti balik wawondula lagi.
“nah…itu dia masalahnya” tulisnya dalam obrolan chating.
Waktu itu saya berpikir, apa masalahnya? Dia tidak mungkin tidak punya motor. Saya tahu penghasilannya memungkinkan dia untuk beli motor. Waktu itu saya tidak bertanya lebih lanjut apa masalahnya. Dia juga tidak menjelaskan lebih detail. Akhirnya kami batal ketemu.

Kejadian ini terus berulang beberapa kali. Setiap kali mau ketemu, dia selalu mengeluhkan tidak adanya kendaraan. Saya sempat bertanya-tanya, kenapa mau ketemu saja susah sekali? Menurut saya dia hanya mencari-cari alasan karena tidak benar-benar ingin ketemu saya. Lalu suatu hari, setelah membaca beberapa tulisan diblog saya, dia bilang ingin menulis beberapa kisah tentang kehidupannya yang mungkin bisa diposting diblog. Saya mengiyakan, saya kira akan sangat menarik jika ada kisah selain tentang saya yang dipublish diblog.  Beberapa hari kemudian, saat saya sedang duduk diruang tunggu kantor Samsat Lutim di Malili, melalui email dia mengirimi saya tulisan berikut yang disebutnya sebagai tulisan pertama.
@@@

‘’ Kejadian masa kecil yang masih Trauma ‘’
Berawal dari tugas sekolah akhir semester, tugas kerajinan tangan buat anak Sekolah Dasar. Anak sekolah yang masih polos, polos karena usianya yang masih anak-anak. Eheheh……..
Kecelakaan waktu kecil yang masih terbawa sampai sekarang… ehm,,sabar yaa… mikir dulu kata-kata yang bagus dan pass dengan usianya….
Begini ceritanya,… pada pagi itu saya dan teman sebut saja dia Ashari,  janjian untuk pergi beli perlengkapan tugas kerajinan tangan dari Ibu guru sore harinya. Saya  ke rumah Ashari sore harinya, setiba saya di rumahnya.. saya teriak memanggilnya dan tidak lama kemudian dia keluar dari rumahnya sambil membawa sepeda Mustang miliknya (sepeda yang masih trend masa itu).
Sore itu juga kami berdua beranjak dari rumah ashari menuju ke toko yang jaraknya agak jauh dari tempat kami tinggal. Kayuhan sepeda ashari sedikit demi sedikit membawa kami keluar dari lorong tempat kami tinggal. Setiba kami di jalan raya yang padat dengan kendaraan diantaranya ada roda dua, roda empat, roda enam dan roda sepuluh yang memang banyak melintas dijalan itu. Dengan hati2 dan perlahan, ashari pun mendayung roda sepedanya untuk menyeberangi jalan raya yang bagi saya besar pada waktu itu (pikiran anak kecil yang belum tahu dan jarang melihat dunia luar). Ehehe,,, kasihan…..
Sebelum menyeberangi jalan raya itu, kami  menengok kiri kanan dari sisi jalan dan meyakinkan bahwa kami aman untuk menyeberang. Walaupun terlihat jauh dari sana kendaraan roda 6 / mobil truck yang melaju dari sisi kiri jalan yang akan kami sebrangi. Menurut kami kendaraan itu masih jauh. Ashari pun mengayuh roda sepedanya untuk menyebrangi jalan. Namun antara persaaan dan fakta yang ada, perasaan akan selalu kalah dengan fakta yang ada. Kami berdua di tabrak oleh mobil truck yang perasaan kami masih jauh dari sana. Dan akhirnya, kami berdua pun terlempar jauh dan terguling di jalanan. Tapi mobil truck itu masih melaju menjauh dari kami. Pikirku ‘’ truck itu rem nya rusak dan butuh waktu untuk berhenti dengan sempurna ‘’.
Perasaan saya saat itu antara sadar dan tidak, dan dalam hati berkata…. Apakah saya sudah meninggal??? Ternyata belum…. Hufttt, Syukur Alhamdulillah…
Setelah itu saya tenangkan perasaan dan mulai berdiri untuk melihat kondisi Ashari temanku itu tanpa melihat kondisi saya sendiri saat itu. Saya berjalan mendekat kearah Ashari yang mungkin saat itu penuh darah dan luka di kaki dan lengannya. Saya pun memeriksa diri saya dan syukur tidak ada luka yang parah, Cuma sdikit goresan di lutut saja saat terguling2 tadi. Tidak lama kemudian sopir truck itu datang ke arah kami dan menghampiri kami berdua. Sopir itu menyodorkan sejumlah uang yang bagi saya sangat banyak waktu itu, tapi dengan besar hati saya pun berkata ke pak sopir itu…. “Tidak usah pak karena kami juga tidak begitu luka. Cuma lecet sdikit saja.” Pak sopir itu berterima kasih dan berkatakepada kami untuk selalu berhati-hati kalau mau menyeberang apalagi kalau banyak kendaraan yang melintas.
Setelah pak sopir itu beranjak, kami berdua pun berbalik arah pulang kerumah dan tidak melanjutkan perjalan kami ke toko untuk beli perlengkapan tugas kami. Berharap besok ada teman yang akan pergi beli perlengkapan tugas itu dan kami bisa meminta tolong itu dibelikan juga.
Setelah kejadian itu, saya pun tidak berani lagi untuk naik sepeda sampai saat ini. Kejadian masa kecil itu masih teringat jelas dalam ingatanku. Karena kejadian itu sangat fatal namun tidak meninggalkan luka yang berbekas dan parah. Mungkin ALLAH SWT masih sayang kepada kami yang tidak memberikan luka yang parah.
Kami yakin, bahwa skenario cerita Sang Pencipta masih lebih bagus dan masih ada buat kami. Sehingga saat itu kami di berikan waktu untuk hidup.
@@@
Setelah membaca tulisan ini, saya merasa bersalah sekali telah mengira dia mencari-cari alasan tiap kali mau ketemu. Dia bilang dia malu karena kejadian itu sampai hari ini dia tidak mau lagi naik sepeda. Karena itu pula dia tidak pernah berani mencoba naik motor. Kejadian itu membawa trauma padanya. Pantas saja dia selalu mempermasalahkan kendaraan setiap kali mau ketemu saya.

Saya jadi tertarik untuk tahu lebih banyak tentang trauma. Saya lalu browsing dan membaca banyak kisah tentang kejadian masalalu yang membawa trauma. Seorang perempuan dalam blognya bercerita bahwa saat kecil dia pernah melihat kompor gas meledak saat dinyalakan . setelahnya setiap kali akan masak dia butuh bantuan orang lain untuk menyalakan kompor. Kadang-kadang harus menelpon suaminya ke kantor untuk memintanya pulang dan menyalakan kompor. Ada seorang laki-laki yang bercerita tentang guru olahraga dan seniornya yang sering memaksa dia untuk mengoral mereka atau melakukan onani. Pengalaman seks itu yang membuatnya menjadi seorang gay. Dalam kisah lain, diceritakan ttg seorang yang mendapat perlakuan tidak adil dari keluarganya semasa kecil membuatnya takut dan minder dalam bergaul.

Saya menyimpulan bahwa trauma adalah cedera yang terjadi pada tubuh atau bathin/jiwa yang diakibatan oleh peristiwa yang mengejutkan atau pengalaman ekstrim yang menakutkan,  yang mengancam fisik atau jiwa.

Cerita Andra dan sepedanya dan kisah perempuan dengan kompornya memang terasa konyol jika dipikirkan sepintas lalu. Tapi kejadian yang traumatic memang menimbulkan dampak berupa gangguan pada fisik, mental, derita emosional, prilaku social maupun spiritual.
Dibeberapa halaman website, saya juga menemukan beberapa tips dan trik menyembuhkan trauma. Macam-macam metodenya. Saya kira, dalam kasus Andra, yang harus dia lakukan hanyalah belajar untuk rileks. Dia mengaku bisa menyetir mobil. Saya lega. Saya ingin sekali membantunya. Rasanya sayang sekali jika mobilitasnya terbatas gara-gara trauma masa kecil yang sebenarnya bisa disembuhkan. Dia hanya harus berani mencoba mengendarai motor. Satu kali saja. Saya yakin setelahnya dia pasti bisa.

Hari minggu kemarin akhirnya kami ketemu. Belum, dia belum berani mengendarai motor. Dia datangnya juga jalan kaki, heheee… Dan dia masih membuat pertemuan kami menjadi tidak mudah, ckck. Ceritanya, pagi-pagi, saat buka bbm, beberapa teman mengupdate berita kebakaran dipasar wawondula. Dari foto-foto yang diunggah, saya melihat api yang melalap kios pedagang, kerumunan orang-orang dan kesibukan tim pemadam dari pemda Lutim dan Tim Fire PT Vale. Karena penasaran, saya mengajak Mei dan Nurul (teman kost saya) untuk melihat langsung ke Wawondula. Mereka setuju. Saya lalu menghubungi andra kasih tahu bahwa saya akan ke wawondula dan berharap bisa bertemu dengannya.
Menjelang siang saya, Mei dan Nurul tiba dilokasi kebakaran. Kondisinya sangat berantakan. Api sudah padam. Orang-orang yang melihat juga sudah tidak sebanyak yang terlihat difoto tadi. Mobil pemadam kebakaran masih parkir dihalaman pasar. Beberapa anggota tim pemadam terlihat masih sibuk membenahi selang-selang air berukuran besar serta peralatan mereka lainnya. Baju mereka tampak sangat kotor, basah dan hitam. Bagian-bagian bangunan pasar yang kena amukan api terlihat menghitam. Beberapa los sudah menjadi puing-puing. Abu sisa barang terbakar bertebaran dibanyak tempat. Saya jalan berkeliling melihat-lihat mulai depan hingga kebagian samping pasar.

Selesai berkeliling kami singgah duduk beristirahat di depan sebuah  kios untuk menunggu andra. Sebelumnya dia bilang masih dirumah. Rumahnya dekat dari pasar.  Dia minta saya menunggu sebentar karena dia harus mengirim file untuk temannya. Namun lama berselang dia belum juga datang. Dia bilang belum selesai mengirim email karena jaringan internetnya sedang tidak bagus. Sambil menunggunya, saya mengobrol dengan Darma, teman saya yang kebetulan sedang ada juga disana melihat-lihat. Hampir satu jam berlalu. Andra belum datang. Saya mulai kesal. Saya kira dia tidak mau. Tapi bukankah sebaiknya dia bilang agar saya tidak menunggu? Biarlah, pikirku. Nurul dan Mey juga sudah mengajak saya pulang. Nurul mengingatkan bahwa kami masih harus ke Timampu, ke rumah adik saya. Saya setuju untuk pulang. Tapi sebelumnya saya mau shalat dhuhur dulu. Saya minta ijin numpang shalat di salah satu rumah yang ada disamping pasar. Selesai shalat, Andra mengirim pesan. Dia bilang sudah ada dibagian depan pasar.

Akhirnya kami bertemu. Senang bisa melihat sosoknya secara langsung. Sayang sekali saya tidak bisa lama-lama karena adik saya menunggu. Saya harap, masih ada kesempatan bertemu lain kali untuk mengobrol panjang lebar.

Terakhir saya mau bilang, saya senang Andra mau berbagi cerita ini pada saya. Saya jadi tahu alasannya tidak bisa menemui saya tempo hari. Saya harap ini bukan cerita yang terakhir darinya agar saya bisa tahu lebih banyak lagi tentangnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar