Minggu, 10 Februari 2013

Akhirnya ketemu...

Demo lagi. Libur lagi. Sedikit-sedikit demo. Setiap ada masalah demo. Apakah setiap masalah hanya bisa diselesaikan dengan demo? Teriak-teriak dijalan, bakar ban, dan mencegat semua kendaraan yang lewat? Saya selalu kesal setiap kali massa menggelar demo. Banyak aktivitas yang terganggu, bahkan batal karena massa menutup akses jalan. Kali ini demo digelar di pertigaan jalan Wawondula-Soroako-Wasuponda. Massa mempertanyakan masalah keabsahan hasil pengumuman perekrutan karyawan PT Vale Indonesia yang baru-baru ini dipublikasikan. Mereka bilang ada kecurangan. Entahlah.
Mereka mendirikan tenda dipinggir jalan, membakar ban, dan menahan semua kendaraan perusahaan yang lewat. Otomatis, kami siswa PPI, yang berada dibawah otoritas perusahaan, tidak bisa lewat masuk kampus (saya akan menceritakan tentang PPI ditulisan lain).

Pagi-pagi, seperti biasa kami sudah standby dihalte menunggu bis jemputan. Namun, sampai jam jemputan yang ditentukan tiba bahkan lewat, bis yang juga sudah standby tidak kunjung membuka pintunya dan mempersilahkan kami naik. Resah, beberapa teman bertanya ke kantor transport yang letaknya disamping halte. Sebelum sopir menjelaskan, pak David Duma (Koord. Instruktur SCM) datang disusul oleh beberapa instruktur lainnya. Pak David menjelaskan keadaan di tempat demo. Katanya, bis bisa mengantar tapi dikhawatirkan akan dicegat dan ditahan disana. Kami bisa saja melanjutkan perjalanan ke kampus dengan  berjalan kaki karena jaraknya hanya beberapa puluh meter dari tenda massa. Tapi jika bis ditahan, tidak ada yang bisa menjemput kami  saat pulang nanti. Oleh sebab itu, hari ini kami diliburkan. Pak Abraham (Direktur PPI) datang setelahnya dan mempersilahkan kami pulang sambil menunggu kabar kapan kami bisa kembali masuk kampus.

Waktu masih SMA, saya sangat kegirangan jika sekolah diliburkan. Tapi kalo di PPI, libur berarti tidak dapat uang saku, dan tidak bisa melanjutkan materi. Khusus bagi kami siswa jurusan mining, tidak masuk kampus berarti jam praktek driving berkurang. Haaaaaa, bagi kami itu malapetaka, heheheeeee. Mengemudi, apalagi jika dikabin alat sesungguhnya, rasanya tidak ingin berhenti. Waktu driving kami dibatasi karena harus gantian dengan teman-teman lain.

Well, kami pulang kembali ke kost. Riani, teman sekost saya keluar bersama teman-teman sekelasnya. Katanya mereka akan piknik dikebun seorang temannya. Saya menolak ikut. Saya memilih tetp dikost. Saya dan teman-teman sekelas juga janjian akan ke danau untuk berenang, tapi nanti sore. Bingung mau ngapain, saya menelpon Darma, teman saya yang tinggal di wawondula. Dia janji mau datang. Dia ingin ke warnet. Saya bilang saya juga mau mengupdate email dan blog, tapi sebaiknya kita cari warkop saja.

Dua jam kemudian, kami sudah berada diatas motor keliling Soroako menoleh kiri kanan membaca setiap tulisan yang ada dipapan nama depan semua kios, toko atau rumah. Berharap ada menemukan tanda-tanda adanya warkop. Melintas dijalan Gunung Tambora, sebuah papan nama bertuliskan Kopiapi Coffe yang hurufnya meliuk-liuk. Didinding kacanya ada ditempel ikon wifi. Senang sekaligus penasaran, kami singgah. Sepi. Pintunya tertutup, dan ternyata terkunci waktu saya mencoba membukanya. Saya mengintip melalui dinding kacanya. Didalam ruangan yang bentuknya memanjang dan agak sempit, beberapa meja kursi ditata layaknya warkop. Tidak ada siapa-siapa didalam. Tapi diatas salah satu meja dua cangkir bekas kopi dan tiga gelas bekas jus masih berantakan diatas meja. Saya kecewa melihat kondisinya. Jelas tidak senyaman Punggawa. Saya putar haluan kembali ke motor. Darma bilang sebaiknya kami mencari warnet saja. Saya lalu menelpon Riani. Dia pernah bilang bahwa ditempat kostnya yang dulu, ada warnet. Saya menelponnya untuk minta alamat. Kami kembali keliling mencari alamat. Warnet yang Riani maksud letaknya di Jln Incoiro.

Kami disambut oleh seorang laki-laki.Penampilan tempat ini tidak seperti warnet sama sekali. Hanya tulisan "internet, editing, fotocopi" yang menjelaskan fasilitas apa yang bisa didapatkan didalamnya. Lebarnya sekitar dua meter dan memanjang sekitar sepuluh meter ke belakang. Ruangannya terbagi tiga oleh sekat pembatas yang terbuat dari rotan.  Di ruangan depan, ada meja panjang tempat meletakkan dua buah televisi (yang entah rusak atau tidak). Dimeja lain yang diletakkan sejajar ada laptop yang sedang menyala dan sebuah printer merk Canon. Beberapa lembar kertas dan buku diletakkan sembarangan diatasnya. Saya bertanya apakah kami bisa online. Laki-laki yang menyambut kami mengiyakan dan mengantar kami ke ruangan kedua. Disini, tampak dua buah dekstop diatur berjejr diatas meja. Kami lalu dipersilahkan memakainya. Tarifnya Rp.4000,-/jam. Saya bilang saya bawa laptop. Pemilik warnet menjelaskan bahwa disini juga bisa online pakai laptop. Dulunya tempat ini adalah warkop tapi karena dia dan istrinya terlalu sibuk sehingga jadi terbengkalai tidak ada yang mengurus.

Baiklah, disini sejuk dan sepi.Saya kira itu cukup untuk memasukkan tempat ini kedalam kategori nyaman untuk berlama-lama membaca, mengupdate timeline di jejaring sosial dan menulis diblog untuk mengisi masa-masa "tidak tahu musti ngapain" saat libur dadakan karena demo.  So let us enjoy this place. Meski dalam hati saya masih berharap bahwa saya bisa memasukkan Punggawa ke dalam kotak dan membawanya ke Soroako.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar