Selasa, 25 Desember 2012

Mengenang 2012


Desember sedang berkemas. Pohon cemara telah dihias. Kidung natal bergema syahdu dari menara-menara gereja.  Januari  telah bersiap-siap menggantikan Desember. Pesta penyambutannya sedang ramai dibicarakan. Terompet telah dihias. Kembang api siap disulut. 2013 menjelang, 2012 segera menghilang. Sebentar lagi lenyap dalam dekapan sejarah.                                   

Setahun silam, saya menandai tahun 2012 sebagai tahun perpisahan.
Malam itu cerah. Saya, keluarga besar suami, dan beberapa tetangga menyambut kedatangan 2012 dengan pesta kecil dihalaman rumah. Jagung, ikan, ayam menjadi menu barbeque kami. Cola, teh, kopi  dan sarabba menjadi pilihan minumannya. Macam-macam gorengan ikut menjadi pelengkap. Ramai. Ada banyak percakapan, gossip, dan canda. Tentu saja, pesta kecil kami berakhir dengan cepat. Anak-anak kecil mengantuk sebelum jam dua belas. Ibu mereka tak bisa menolak menemani ketempat tidur. Jagung ikan ayam menjadi tulang belulang sebelum tengah malam. Terompet tahun baru ditiup sebelum waktunya. Meski begitu, malam tahun baru kami tetap menggembirakan. Tapi ada yang kurang. Suami saya menghilang. Saya tahu dia juga sedang berpesta. Entah dimana, entah dengan siapa.
Menjelang pagi barulah dia kembali pulang. Saya meradang. Tapi tetap diam. Yang saya lakukan adalah mengemasi barang-barang. Bukan untuk menyusul tahun 2011 yang telah menghilang, tapi untuk memulai tahun 2012 dengan perpisahan.

Setiap cerita perpisahan bumbunya adalah airmata. Saya sedih. Saya marah. Saya kecewa. Saya takut. Saya mengemasi pakaian dan buku-buku saya sambil merenung. Mengingat-ingat semua hal yang pernah saya lalui selama delapan tahun pernikahan kami. Bukan waktu yang singkat. Banyak hal yang telah kami bagi bersama. Masa-masa senang, masa-masa sulit. Saya mengurai kenangan-kenangan itu satu persatu. Setiap detailnya. Berusaha menemukan alasan yang bisa menghentikan saya memasukkan pakaian ke dalam kopor. Tapi saya tidak menemukannya. Ada. Sedikit. Jumlahnya terlalu sedikit sehingga tidak terlihat karena tercampur dengan kekecewaan-kekecewaan saya yang menumpuk-numpuk yang pada akhirnya membuat saya mati rasa. Cinta saya telah lama padam sebenarnya. Pun, tak ada keturunan yang mengikat. Mungkin karena itu saya tak dianggap. Satu-satunya yang menahan saya bertahan selama itu adalah rasa takut. Saya takut menjadi dan disebut janda.

Janda. Waktu masih kecil, saya pertama kali tahu kata itu dari dialog dalam film india. Waktu itu saya memahami janda sebagai perempuan yang kehilangan suaminya yang meninggal dan dia harus mengenakan sari warna putih untuk menjelaskan statusnya. Beberapa sepupu mama yang menjadi janda juga karena suami mereka meninggal. Jadi, saya menganggap bahwa seorang perempuan hanya disebut janda jika suami mereka meninggal. Pemahaman saya ituberubah waktu saya duduk dibangku SMP. Waktu itu, salah satu guru kami bercerai dengan suaminya. Teman-teman lain menyebutnya janda. Saya sempat bertanya, kenapa dia disebut janda toh suaminya tidak meninggal. Guru saya yang lain menjelaskan bahwa janda adalah perempuan yang kehilangan suami baik karena meninggal maupun karena bercerai. Pemahaman saya itu lambat laun berubah. Janda tak lagi sekedar perempuan yang pernah menikah. Saya sering mendengar komentar melecehkan tentang janda kembang, janda yang mudah dirayu, perebut suami orang, janda gatal… Saya juga melihat  beberapa kejadian disekitar saya yang membuat pemahaman negative tentang janda menguat dalam otak saya. Beberapa perempuan yang saya kenal baik-baik, tiba-tiba saja menjadi seksi dan maleda’ setelah bercerai dengan suaminya. Tetangga saya suaminya selingkuh dengan janda. Teman saya tiba-tiba menjadi pusat perhatian cowok-cowok karena dia janda. Tetangga saya yang lain tiap hari menjadi bahan gossip karena  dia janda. Semua itu yang membuat saya takut dan malu disebut janda.

Hari-hari pertama menyandang status itu saya malu menunjukkan muka didepan orang banyak. Selain keluar untuk kerja, saya banyak mengurung diri dikamar baru saya dirumah mama. Dalam sekejap saya menjadi selebriti kampung. Gosip bertebaran diteras-teras tetangga, diwarung-warung, dianak-anak tangga tempat mencari kutu, disekeliling keranjang sayur mas Leda’ (sebutan untuk penjual sayur langganan mama). Mereka semua membahas tentang kepergian saya dari rumah suami. Ada yang berbisik-bisik, ada pula yang bersuara keras tapi mendadak gagu dan salah tingkah jika tiba-tiba saya melintas berangkat kerja. Kelompok mereka juga terbagi dua, ada yang pro saya-ada yang pro mantan suami. Ada yang mendukung keputusan saya, tidak sedikit yang menyayangkan.
“Kenapa bisa begitu? Selama ini ndak pernah ji ribut toh?”
“Masalah kecil begitu ji. Biasa itu. suaminya si A juga begitu. Mereka ribut tapi tidak cerai”
“Kalau masih bisa diperbaiki, perbaiki mi saja”
“Dimana mau dapat suami yang seperti itu lagi. Ganteng, sabar lagi”
Ya ya ya….
Kami tidak pernah bertengkar didepan umum. Tidak pernah ada cerita piring terbang atau kursi melayang. Apalagi teriakan-teriakan saling melecehkan dipinggir jalan. Tapi bukan berarti kami tidak pernah ribut,  kan?
Dia menghilang dimalam tahun baru, dan melewatkannya bersama perempuan lain. Oke, itu masalah biasa. Suaminya si anu juga pernah begitu. Sabar saja. Maafkan saja. Hmm…, masalah biasa, yang dilakukan berulang-ulang, dimaafkan berulang-ulang, tidak bisa lagi disebut masalah biasa. Memaafkan kesalahan berulang-ulang itu bukan sabar namanya, tapi goblok.
Pernikahan itu bukan motor. Yang kalau salah satu onderdilnya rusak bisa diganti. Dalam pernikahan penyelesaian masalah hanyalah perubahan dan penerimaan. Dia tidak mau berubah, dan saya tidak terima. Tidak ada yang bisa diperbaiki. Jadi, ya sudah.
Ada yang bilang cinta bisa menjadi alasan saya untuk bertahan. Cinta? Kami pernah punya cinta. Tapi lama kelamaan mati karena tidak dirawat dengan benar…
Saya perempuan dewasa. Bukan ABG belasan tahun yang jatuh cinta dan tergila-gila karena wajah keren bak bintang filem. Orang dewasa lebih banyak menggunakan logika. Tidak semua cinta layak untuk diperjuangkan. Jika mencintai membuatmu merasa menderita, tinggalkan saja. Saya belajar itu dari mama yang beberapa tahun sebelumnya membuat keputusan yang sama. Hidup adalah pilihan. Orang lain tidak berhak mengadili saya karena pilihan yang saya buat. Saya yang akan menanggung resikonya. Saya siap.

Menjadi janda di usia tiga puluh tidaklah mudah. Ceritanya tentu beda jika usiamu dua kali lipat lebih tua, heheee…. Hampir semua laki-laki menjadi lebih ramah padamu. Saat bersalaman ada-ada saja yang menggaruk telapak tanganmu sebagai bagian dari bersalaman itu. Kadang-kadang ada yang mengedipkan mata saat kau tak sengaja bertemu pandang dengannya. Banyak juga yang tiba-tiba merasa butuh tahu nomor teleponmu. Kadang ada  yang menawarkan tumpangan saat melihatmu menunggu pete-pete, dan berani menyentuh tangan atau paha sesaat sebelum kau turun dari mobilnya. Pernah juga ada yang tiba-tiba bertamu tengah malam pura-pura mengurus pekerjaan tapi tidak mau diajak duduk diruang tamu lebih suka ngobrol diteras yang remang-remang. Dan tentu saja, banyak tawaran yang masuk memintamu menjadi pacarnya. Anehnya, jika dia bukan suami orang usianya pasti jauh lebih mudah darimu.
Awalnya saya terkaget-kaget. Marah dengan semua perlakuan seperti itu. Saya merasa dilecehkan. Saya tahu image janda yang terbentuk dimasyarakat memang seperti itu. Tapi saya beda. Saya tidak mau tiba-tiba melepas jilbab menggantinya dengan bando ala chibi-chibi. Status saya berubah, tapi kepribadian saya tidak. Semua orang harus tahu itu. Saya menjaga jarak dari orang-orang yang menambahkan gerakan tidak penting dalam salamannya. Saya tersenyum sopan pada setiap kedipan mata dan berhasil membuat beberapa diantaranya pura-pura kelilipan. Saya membanting pintu mobil dan pernah juga menyiramkan air minum ke wajah orang yang mencoba memegang paha  saat diberi tumpangan. Saya menolak tamu tengah malam dan menolak tawaran menjadi selingkuhan suami orang.
Lama-lama semua perlakuan melecehkan itu berkurang dengan sendirinya. Saya semakin nyaman dengan status saya. Orang-orang yang dulunya melecehkan mulai respect pada saya. Saya jadi tahu, apapun image dari status yang disandang, bangunlah imagemu sendiri.

2012 hampir berlalu. Waktu selalu menjadi obat paling ampuh. Saya telah lama selesai membenahi hati. lukanya telah lama mengering. Saya dan mantan suami masih tetap berteman. Semua waktu kami dimasa lalu telah dikemas rapi. Saya menempatkannya dalam kotak kenangan yang hanya akan dibuka sekali-kali untuk mengambil pelajaran.





Rabu, 19 Desember 2012

Matano for the 2nd Time


Soroako, 15 Desember 2012

Yupppyyyyyyyy....saya sedang di soroako, dalam sebuah kamar sewaan  di jalan gunung dieng. Semalam saya sengaja menginap disini agar pagi ini bisa ikut ke Matano untuk melihat acara pelantikan kepala adat Matano. Eko yang mengajak. Dia, Doni, Nuki dan Nala akan meliput acara tersebut. Mana bisa saya menolak ajakan seperti ini. Memang sih, saya sempat jadi-tidak-jadi-tidak pergi karena jadwalnya berbarengan dengan jadwal pemantauan. Tapi setelah saya pikir-pikir event seperti ini jarang diadakan, dan eko sudah sangat baik karena telah mengajak , untuk itu saya rela memblokir telponnya pak Yamin, heheeeee :P
Pagi ini soroako basah oleh hujan rintik-rintik. Saya sudah mandi dan rapi. Eko masih dibuton dan mungkin akan datang sebentar lagi. Doni, Nuki dan Nala sudah menyebrang duluan sejak kemarin sore, mau camping katanya (Ah, andai saya bisa ikut camping…). Jadi, rencananya hari ini saya akan berangkat bareng Eko. Kami akan ikut dirombongan media. Sambil menunggu Eko, saya memutuskan untuk keluar membeli beberapa kebutuhan sekalian mencari roti untuk sarapan. Saya jalan-jalan sepanjang jalan gunung dieng mencari kios, ada sih, tapi ternyata belum buka. Saya lalu kembali ke penginapan untuk mengambil motor. Setelah melewati beberapa jalan, akhirnya saya menemukan kios yang buka. Yang jaga seorang bapak-bapak. Beliau ramah dan mengajak saya mengobrol. Dia menebak saya bukan orang soroako. Saya bilang padanya bahwa saya tinggal di Malili. Pagi ini saya berniat menyebrang ke Matano. Si Bapak menjelaskan bahwa rangkaian acara pelantikan itu berlangsung tiga hari, yaitu kemarin, hari ini, dan besok. Dia menyarankan saya menginap di Matano karena malam nanti akan ada dero. Saya bilang saya tidak bisa dero. Saya pernah coba beberapa kali tapi hanya berhasil mengacaukan lingkaran. Si Bapak tertawa. Katanya saya  harus sering-sering ikut supaya bisa. Saya mengangguk-angguk setuju. Sarannya yang terakhir patut dicoba. Saya lalu membayar belanjaan, mengucapkan terima kasih dan pamit. Saya khawatir eko sudah datang dan tidak mau membuatnya menunggu.
Sampai di Dieng saya mengemasi tas dan barang yang yang akan saya bawa. Eko datang beberapa menit kemudian bersama seorang temannya. Kami kenalan, namanya Doping. Nama yang unik, tapi saya kira itu bukan nama aslinya. Diantar oleh Sandy, kami berangkat bertiga menuju rumah Pak Umar Ranggo. Beliau ini yang akan dilantik nantinya sebagai kepala adat Matano. Oleh karena itu rombongan perangkat adat dipersiapkan dirumahnya. Sampai disana, pekarangan rumahnya telah ramai oleh banyak orang yang berpakaian adat.  Baju mereka warna-warni. Orang-orang tua memakai baju adat matano, sedangkan gadis-gadis yang akan menjadi dayang-dayang memakai baju bodo.  Ada juga sekelompok remaja laki-laki yang berpakaian prajurit.  Kak Nasrum, Kahar, dan Rizal juga sudah datang. Kami bergabung dengan mereka. Wajah mereka masih tampak kucel. Kak Nasrum bilang tidak sempat mandi karena telat bangun. Semalam mereka begadang. Kak Nasrum buru-buru menambahkan bahwa meski tidak mandi, ketampanannya tidak berkurang. Untuk yang satu ini, saya tidak yakin, hahahaaaa…Kami menunggu selama kurang lebih satu jam . Iring-iringan yang diatur sedemikian rupa akhirnya bergerak perlahan menuju dermaga. Raft yang akan mengantar ke Matano sudah menunggu disana.
Satu-persatu raft diberangkatkan. Panitia bekerja keras memastikan semua perangkat adat berangkat dan mengatur jumlah penumpang yang naik ke setiap raft demi keamanan. Awalnya, rombongan kami  dipersilahkan ikut di raft yang akan ditumpangi oleh rombongan Datu Luwu. Tapi karena kapasitasnya terbatas, panitia meminta kami untuk pindah ke sebuah katinting. Saya bersorak dalam hati. Perjalanan menggunakan katinting jauh lebih menyenangkan dan lebih cepat sampai ketimbang menggunakan raft.  Saya, Eko, Doping, Kak Nasrum, Kahar, Rizal pindah ke katinting yang disediakan.  Saya memilih duduk diatas atap bagian depan bersama Kahar. Setelah bahan bakar diisi, dan semua orang menempati posisi enaknya masing-masing, mesin pun dinyalakan. Bismillah… Matano, I’m coming!!!  Ini adalah kali kedua saya berkunjung ke Matano. Dulu saya ke Matano bersama teman-teman fasilitator comdev dari tiga kecamatan . Kak Rasyid, kak Yunus, Kak Mifta, Kak Ichman, Kak Choy, Kak Awi, Kak Mahendra, Kak Bagas, Rio, Mukim, Nery, Iwan, Mila, Suci, Halid, Armal, Isal, Nir, Norman, Bakki…saya mencoba mengingat-ingat. Ingat betapa ramainya hari itu. Ingat kak Awi yang bilang bahwa siapapun yang pertama kali berkunjung ke Matano harus minum air danau kemudian meludah ke langit sebelum turun dari raft untuk mengerjai saya…hmm, I miss them all…
Melakukan perjalanan diatas air selalu menyenangkan apalagi jika duduknya dibagian depan seperti ini. Ada angin yang menderu-deru, ada  percikan air yang basah, ada pemandangan indah …semuanya menyenangkan..., tak peduli pada matahari yang tersenyum senang karena sinarnya berhasil menghitamkan kulit wajahmu, tak peduli suara mesin katinting yang kerasnya memekakkan telingamu… Katinting kami melaju dengan cepat dan berhasil mendahului beberapa raft yang berangkat lebih dahulu. Kak Nasrum bilang lebih cepat sampai lebih baik karena itu berarti mereka bisa memotret rombongan Datu Luwu dan calon kepala adat saat mereka turun dari raft nanti.
Tidak sampai sejam katinting kami telah merapat ke dermaga. Saya, Doping dan Eko memisahkan diri dari rombongannya Kak Nasrum. Eko bilang mau ketemu sama Doni. Desa Matano benar-benar ramai. Bendera umbul-umbul melambai-lambai menyambut kami.  Banyak orang yang memakai baju adat warna-warni.  Tenda yang luas dan panjang telah didirikan untuk prosesi pelantikan. Didalamnya telah dibangun beberapa baruga yang dihias dengan indah menggunakan pernak-pernik adat Luwu. Ditengah-tengah tenda juga telah berdiri sebuah panggung sederhana dan kursi-kursi yang jumlahnya ratusan telah berjejer rapi.  Setelah bertemu Doni dan Nuki, eko keliling tenda untuk mengambil foto. Saya dan Doping memilih duduk berbaur dengan pengunjung lainnya. Biarkan saja Eko mengerjakan pekerjaannya. Setelah rombongan calon kepala adat tiba disusul iring-iringan Datu Luwu, mc membuka acara. Ada tarian penyambutan, persembahan lagu-lagu daerah, pemaparan tentang sejarah Matano, dan rangkaian prosesi pelantikan. Semuanya berjalan lancar.
Setelah semua rangkaian acara selesai, eko melambai dari depan panggung memberi kode untuk meninggalkan tenda. Saya dan Doping segera menyusulnya. Doni, Nuki, dan Nala sudah menunggu dipinggir danau siap-siap untuk pulang. Kami kembali menumpang katinting yang akan menyeberang ke Soroako membawa penumpang  tapi kali ini minus Kak Nasrum dan rombongannya. Saya lelah, agak pening dikepala  dan memilih duduk didalam tenda bersama Nuki, Doping, Doni dan beberapa penumpang perempuan lainnya. Eko dan Nala tidak dapat tempat didalam tenda. Mereka duduk dibagian depan perahu. Sepanjang perjalanan tidak banyak percakapan.  Nuki sibuk memotret, Doni tidur dalam duduk, Doping menghayal, sementara Eko dan Nala tidur telentang dibagian depan perahu.
Katinting akhirnya merapat ke dermaga Soroako. Setelah membayar uang sewa, kami jalan ke parkiran. Puji Tuhan karena Sandy segera datang dengan mobil untuk menjemput kami.  Malili menunggu, tapi saya harus mengambil motor dulu di Dieng.

Minggu, 09 Desember 2012

Cara paling tepat memperlakukan patah hati : meletakkannya dibawah pohon...

Kali ini saya tidak akan menulis tentang cinta.  Capek kalo harus memikirkan cinta setiap hari. Bukan berarti saya tidak memikirannya lagi. Bagaimanapun, patah hati adalah penyakit kronis yang butuh teraphy untuk menyembuhkannya. Tapi selama masa teraphy itu, kau harus tetap melanjutkan hidup, kan?
Langkah pertama dari melanjutkan hidup adalah menemukan sesuatu (bisa orang atau tempat) yang bisa kau jadikan tempat pelepasan. Setelah itu carilah kegiatan yang bisa membuatmu sibuk. Saya merasa beruntung karena memiliki keduanya. Beberapa hari lalu, David Duma sms menginfokan jadwal di PPI. Kegiatan di AMPI juga disegerakan menyesuaikan jadwal pilgub. Dan ibu Eba, memohon dengan sangat agar saya mau bergabung di PG Kabupaten.  Jadi, saya tidak punya alasan untuk merasa terpuruk atau semacamnya. Menurut saya, ibarat makanan, kesedihan itu, jangan disimpan didalam microwave. Letakkan saja dibawah pohon. Kalau tidak dimakan oleh kucing lewat, lama-lama akan basi sendiri, berulat, kemudian terurai oleh bakteri dan menjadi pupuk. Insha Allah pohonnya akan subur dan berbuah lebat. Nah, buahnya bisa dimakan...
Cara terbaik untuk memulai hari adalah mandi subuh, shalat, kemudian membuka pintu dan jendela. Saat membuka jendela, angin subuh yang sejuk membelai wajah. Saya suka sensasinya. Aromanya selalu membawa banyak pesan kebahagiaan dan harapan. Seperti hari ini. Senang karena bisa kembali melakukan ritual ini setelah beberapa hari absen karena sedang kedatangan tamu bulanan. Saya melanjutkannya dengan beres-beres rumah. Saya butuh berkeringat. Dan beres-beres rumah membuatmu berkeringat. Saya kira saya butuh olahraga. Beberapa minggu ini saya tidak lagi olahraga. Saya hanya diet gula, maksudnya menghindari makanan yang manis-manis. Diet gula yang saya lakukan sudah menunjukkan hasilnya. Saya merasa segar dan celana jeans kekecilan yang saya beli dua bulan lalu sudah tidak sesak saat dipakai.Nanti sore saya akan mulai lari sore lagi.
Setelah beres-beres rumah, saya berencana akan mencuci motor. Saya ke warung dekat rumah untuk membeli shampo motor. Warung ini adalah milik istrinya Pak Jamal, sekretaris desa yang saat ini sedang menjabat sebagai Kades sementara karena Kades kami mengunduran diri tempo hari. Berhubung masih pagi pak Jamal belum ngantor dan istrinya sedang repot didapur, maka yang melayani saya adalah pak Jamal. Setelah memberikan shampo motor dan mengembalikan uang sisa, dia tiba-tiba berbasa-basi menanyakan kabar saya. Tidak biasanya nih, ... Selama ini, sejak saya menjadi fasilitator comdev, hubungan kami tidak terlalu baik karena terlalu sering berbeda pendapat mengenai konsep pendampingan di desa. Saya balik menanyakan kabarnya. Dia bilang dia sehat dan bla bla bla bla bla.... Ceritanya jadi berkembang kemana-mana. Dia mengeluh panjang lebar tentang kondisi pemerintahan didesa. Tentang issue pemilihan  Kades baru yang pada saat ini sedang hangat dibicarakan didesa kami. Tentang aparatnya yang menurutnya seolah-olah memusuhinya. Aduh, pak Sekdes. Pagi2 saya sudah dijadikan tong sampah. Tidak apa-apa, dengan begini saya jadi tahu bahwa meski sering berbeda pendapat, ternyata hubungan personal kami baik-baik saja. Saya mendengarkannya dengan sabar. Memberikan pendapat seadanya, sesekali membesar-besarkan hatinya. Anyway, seorang pejabat yang sedang curhat tentang pekerjaannya ternyata bisa tampak lebih melow daripada ABG yang sedang galau karena patah hati, heheeee....
Dia belum benar-benar selesai ketika seorang pembeli lain datang. Saya lega karena punya alasan untuk pamit. Jadwal memandikan motor jadi molor. Saya tetap mencuci motor dan terpaksa membatalkan rencana untuk sarapan. Saya mandi terburu-buru, pakai baju terburu-buru, dan memaksa mama melakukan hal yang sama. Mama mau nebeng ke Malili, kerumahnya Pak Siddik. Ada acara bakar-bakar ikan katanya. Sebenarnya saya mau ikut. Bagaimanapun, ikan bakar adalah makanan paling enak nomor dua setelah sop udang buatan saya. Tapi saya harus ke kantor dewan hari ini . Yup, secaraaaa....saya telah menerima tawaran Pak Yamin untuk masuk dan bergabung di parlemen group kabupaten dan melakukan pemantauan di kantor DPRD Lutim. Ini adalah bentuk dari perpanjangan tangan Kopel Makassar (tentang Kopel, saya akan menceritakannya lain kali). Sepertinya asyik mengamati kegiatan para anggota dewan dan mencari tahu banyak tentang proses pengambilan kebijakan disana. Hmmm...
Setelah mendrop mama dirumahnya Pak Siddik, saya bergegas ke kantor dewan. Demi mempersingkat perjalanan, saya memilih memotong jalan melewati jalan baru. Sialnya, ternyata jalan itu masih dalam proses pembuatan. Material timbunan tanah merah masih banyak yang menumpuk di badan jalan. Apalagi semalaman hujan. Komplit deh.  Saya terjebak ditengah lumpur tanah merah. Ban motor slip dan sepatu saya belepotan menahan motor suapaya tidak jatuh. Saya terpaksa memutar arah. Beberapa pekerja jalan bersuit-suit pada saya. Heheheeee...sial betul. Akibatnya, saya menjadi semakin telat sampai di dewan.
Telat, di hari pertama pula, itu....prestasi banget.  Sampai di dewan pak Yamin sudah menunggu. Dia hanya tersenyum maklum. Selamat deh. Dia lalu bilang bahwa hari ini hanya perkenalan dulu. Maksudnya, dia akan memperkenalkan saya kepada semua anggota dewan sebagai anggota tim pemantau dari Kopel. Tapi, karena para anggota dewan yang terhormat belum ngantor ( menurut salah satu staff disana kemungkinan besar tdk ada yang ngantor karena ada reses kecamatan), maka pak Yamin memutuskan sebaiknya datang besok saja. Kami sepakat ke Dg Sija untuk bertemu teman2 kopel yang lain.
Dan disinilah kami, mendengarkan gosip-gosip seputar pemerintahan, mempelajari hal-hal tentang kopel yang belum saya tahu, dan mengisi blog ini. You, see...saya telah meletakkan kesedihan saya dibawah pohon dan meninggalkannya disana.

Kamis, 06 Desember 2012

Pulang

Sahabat
Saat ini aku merasa sangat lelah, lelah dengan hidupku
Aku lelah mengejar mimpi-mimpiku
Aku ingin pulang dan mereview semua yang telah kulalui
Semua yang telah kulalui sejak aku dianggap sebagai manusia dewasa
Bolehkah aku pulang kepadamu?
Bukan kepada orangtuaku karena mereka akan menyambutku sebagai putri kecil mereka
Bukan kepada kekasihku karena yang dia punya untukku hanya cinta
Aku ingin pulang kepadamu, mengajakmu menemaniku menengok kedalam lubuk jiwaku, sejenak...
Kau tak perlu menyediakan kamar dengan kasur empuk
Kau tak harus menjamuku dengan teh hangat aroma melati kesukaanku
Duduklah didepanku, tatap mataku... biar kutemukan sejuk dalam bening korneamu
Masuklah kedalam duniaku
Kutunjukkan sisi gelapnya sisi terangnya, hitam putihnya
Kan kulepas topeng dari setiap peranku, agar kau kenali wajahku
Biarkan aku mengurai ceritaku, satu satu
Agar benang kusut kehidupanku dapat menemukan ujung pangkalnya
Lalu kupilih kisah kisah bahagia agar warna warni hidupku terpapar dihadapmu
Tapi sahabat...
Saat ceritaku usai, kisahku berakhir
Ingatkan aku untuk kembali mengejar mimpi-mimpiku
Karena dengan bermimpi aku bisa tetap hidup....

Aku ingin menyapamu, Cinta....

Hai,
Aku ingin menyapa lewat bisikan kata ditelinga
Aku ingin menyampaikan rasa dari bibir dengan kata
tapi jarak menciptakan ruang ruang kosong yang memantulkan gema
kutakut lisanku tak berhasil menggambarkan asa....
Sementara malam terlalu pekat tak tertembus mata...
Apakah engkau mendengarnya?
Rinduku masih menyayat dada...
Tak ada jeda....
Apakah bagimu tak bermakna?
Ataukah kata tak ada guna untuk ungkapkan rasa bila tanpa nada?
Disini...
Cinta malu menunjukkan rupa
Sesekali merangkai kata ingin menyapa
Tanpa nada....
Bagimu tak bermakna

Saya, tentang Dia


Setiap pagi, saat terjaga dari tidur dan membuka mata, kau pasti sudah tahu bagaimana akan memulai harimu dan telah punya sederet rencana untuk  melewatinya, dan bisa memperkirakan endingnya. Tapi kau tidak pernah tahu bahwa dari setiap hari yang diciptakan Tuhan untukmu selalu terselip satu hari istimewa yang baru kau sadari keistimewaanya setelah hari itu kau tinggalkan dimasa lalu.
Dalam sebuah kisah, kadang-kadang nama menjadi tidak begitu penting. Karena itu, saya tidak akan menyebut namanya. Saya mengenalnya pada suatu kesempatan yang tak terencana. Tak terencana karena pagi itu saya sedang tidak punya rencana  apapun untuk melewati hari. Melihat saya bengong sendiri di sekret, bos saya menyarankan saya menyusul teman2 yang sedang bertemu orang media di suatu tempat.
Orang media yang dimaksud  datang bertiga. Satu perempuan, dua laki-laki. Salah satunya Dia. Pertama lihat, biasa saja. Dia tinggi, kurus, wajahnya menyenangkan dan…ehm, rambutnya gondrong. Dialah yang melakukan tanya jawab seputar masalah kegiatan kami sementara dua temannya yang lain lebih memilih menjadi penonton.  Saya duduk diam di salah satu kursi didepannya dan membiarkan teman-teman yang lain menjawab setiap pertanyaannya.  Tanya jawab berjalan lancar. Sesekali saya menimpali jawaban teman-teman yang saya anggap kurang lengkap. Sesekali melihat dengan seksama kewajahnya saat dia sibuk mencatat jawaban-jawaan yang dia dapat. Sesekali… wait a minute… kenapa dia mulai terlihat menarik? saya mulai suka sama rambut gondrongnya yang mengkilap, suka mendengar gaya bicaranya yang akrab, melihat matanya yang ramah, entah kenapa saya merasa dekat.
Jatuh cinta adalah kondisi dimana kamu merasa tertarik kepada seseorang tanpa alasan yang jelas dan semua yang ada padanya jadi terlihat seksi. Kamu diam-diam memperhatikannya tapi terlalu malu untuk menarik perhatiannya. Kamu ingin selalu berada didekatnya tapi mencari berbagai cara untuk menjauhinya. Hari itu, kami menghabiskan waktu bersama-sama. Ramai-ramai . Sepanjang hari, dia menjadi seperti magnet yang mengundang untuk didekati. Saya ingin menjadi yang selalu paling dekat dengannya tapi saya selalu berhasil menemukan cara menjauhinya. Saya memperhatikannya diam-diam, dan geleng-geleng kepala sendirian setiap kali sadar telah kehilangan control. Tapi saya rasa, terlalu cepat untuk menyebut ini jatuh cinta.
Setelah hari itu, waktu berlalu begitu saja. Tidak ada hal special yang terjadi. Saya masih sering mengingatnya sembari bertanya dalam hati apakah dia masih ingat saya. Pernah dalam sebuah event saya melihatnya berdiri diantara awak media yang meliput. Kami sempat bertemu pandangan, tapi dia sama sekali tidak tersenyum. Waktu itu, saya mengira dia sudah lupa. Wajar, kami cuma bertemu sekali. Sebagai orang media, dia pasti selalu bertemu banyak orang dan saya bisa dengan mudah terlupakan.
Bukan arma namanya jika tidak mencari tahu tentang hal-hal yang menurutnya penting. Dia penting, karena itu saya berusaha mencari tahu. Saat ketemu tempo hari, saya dan salah satu temannya sempat saling tukar nomor telepon dan alamat akun facebook. Saya membuka akunnya, membaca setiap tulisannya dan menyukainya. Dari tulisan-tulisannya, saya bisa meraba masa lalunya, menerka-nerka kepribadiannya, dan tahu banyak tentang dirinya, termasuk tahu bahwa dia dekat dengan seorang perempuan cantik, sebut saja She, sejak bertahun-tahun lamanya. Saya kecewa, tapi sudahlah. Meskipun dia tidak punya pacar peluang untuk dekat dengannya adalah nol persen. Bukankah dia sudah lupa pada saya?
Kata orang, jodoh adalah urusan Tuhan. Saya juga percaya itu. Sekaligus percaya bahwa Tuhan sayang pada saya. Buktinya, selang beberapa lama, pada suatu malam, dia menghubungi saya via sms menanyakan beberapa hal dan kabar saya. Senaaaaang sekali karena ternyata dia masih ingat sama saya. Bukan hanya sekali dia sms. Meski jarang tapi rutin. Awalnya singkat-singkat saja. ‘Halo’ atau ‘apa kabarkah’ atau ‘bikin apakah?’. Sederhana memang, tapi pesan-pesan singkat itu mampu merubah rasa ‘tertarik tanpa harapan’ yang saya punya sejak pertama bertemu dengannya tumbuh menjadi ’tertarik dan ingin dekat’. Seiring waktu, pesan darinya berkembang menjadi lebih panjang. Kami mulai membicarakan hal-hal sepele. Kadang-kadang dia menanyakan banyak hal tentang saya. Dia menyenangkan. Saya merasa kami menyukai beberapa hal yang sama. Dan kepadanya saya merasa bebas membicarakan apa saja. 
Lama-lama, hubungan kami semakin akrab walau hanya melalui sms. Dia baik.  Dia menyenangkan. Saya menyukainya. Merindukan pesan-pesannya jika dia tidak menghubungi saya pada waktu-waktu tertentu. Saya berani bilang bahwa saya telah jatuh cinta sejak awal. Tapi dia punya pacar, ckckck. Waktu-waktu tertentu yang saya maksud diatas adalah: saat dia tidak menghubungi saya selama berhari-hari karena dia sedang menemui She ditempat yang jauh disana. Saya tahu itu. Dia tidak pernah bilang tapi saya tahu. Hal yang paling sedih adalah melihat orang yang kau cintai mencintai orang lain. Saya jatuh cinta kepada orang yang sudah menjadi milik orang lain sejak lama. Melalui tulisan-tulisannya, saya bisa tahu betapa mereka berdua saling mengasihi. Mereka telah berbagi banyak hal. Mereka saling menjaga walau saat ini sedang terpisah jauh. Cinta mereka indah. Sangat indah. Saya berjanji pada diri sendiri tidak akan merusak semua itu dengan cara menyembunyikan perasaan saya padanya. Dia tidak usah tahu.
Kami tetap saling mengirim pesan. Masih membicarakan hal-hal yang kami sukai. Sering dia mengajak saya berkunjung ke tempatnya. Saya suka membaca. Dia bilang dia juga suka membaca, punya beberapa buku dan saya boleh meminjamnya jika saya suka. Betapa saya ingin berkunjung agar bisa melihatnya. Saya merindukan matanya. Tubuh jangkungnya. Rambut gondrongnya. Saya rindu melihat semua yang ada padanya. Tapi saya menahan diri dan tidak menemuinya. Saya bahkan menghindarinya ketika dia dan temannya berkunjung ke tempat saya untuk urusan pekerjaan. Itu adalah salah satu cara untuk mengekang perasaan saya agar tidak tumbuh semakin besar. Tapi, sekali lagi, jodoh adalah urusan Tuhan. Tuhan selalu bekerja dengan cara yang tak terduga. Bukan berarti saya bisa menyalahkan Tuhan jika bahasa kami saat berkirim pesan perlahan-lahan berubah menjadi intim. Kami mulai saling memuji, mulai terselip kata ‘say’, ‘kangen’. Saya mulai merasa dia tahu bahwa saya menyukainya, saya merasa bahwa dia juga suka pada saya. Kemudian tanpa sadar saya melupakan janji saya untuk tidak merusak hubungannya dengan She.
Saya mencintainya. Mencintai semua yang ada padanya. Kelebihannya, kekurangannya. Dia romantis. Saya menyukai semua hal yang kami lakukan bersama. Dia bisa menebak dengan tepat beberapa hal yang menjadi kesukaan saya. Bersamanya saya merasa nyaman, merasa dicintai. Karenanya cara saya melihat dunia sedikit demi sedikit jadi berubah. Saya menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana yang dia lakukan untuk saya. Karenanya, saya tahu bahwa, untuk mencapai nirwana kita sama sekali tidak butuh sayap. Cukup menemukan orang yang tepat, orang yang tahu cara membawa kita kesana. Bersamanya saya merasa bahagia.
Saya selalu percaya bahwa Tuhan selalu memberikan apa yang kita butuh, bukan yang kita minta. Meski begitu, saya tetap memohon padaNYA agar bisa bersama dia selamanya. Saya menggantung banyak harapan atasnya. Tapi Tuhan selalu tahu yang terbaik buat saya. Beberapa hari yang lalu dia pamit mau mengurus sesuatu di kota yang jauh disana. Dia bilang mungkin tidak bisa menghubungi saya selama dia disana. Tiba-tiba saya merasa sedih sekali. Di sana ada She. Saya seolah-olah dibangunkan dari sebuah mimpi indah. Saya berusaha mengerti. Dia minta maaf. Tapi permintaan maafnya justru terdengar seperti teriakan kepada saya  supaya segera bangun dari mimpi. Saya merasa janji saya untuk tidak merusak hubungannya dengan She sedang ditagih. Selama dia pergi, saya benar-benar kesepian. Saya merindukannya, tapi setiap kali membayangkan wajahnya, yang terlintas justru wajah cantik She.  Saya malu, merasa bersalah, merasa menjadi pengacau tukang rusak hubungan orang. Saya jadi gamang antara memutuskan hubungan dekat kami atau tetap menjadi pengacau.
Setelah dia pulang dia kembali menghubungi saya. Saya senang tapi terlanjur kacau dan uring-uringan. Dia mengeluh saya terlalu sensitive dan salah paham tapi saya harus segera mengambil keputusan. Saya tahu tak akan pernah dijadikan pilihan. She tak akan pernah tergantikan. She ada dalam setiap tulisannya, dalam rencana-rencana masa depannya, ada dalam beberapa ceritanya saat kami mengobrol. She ada di mana-mana, menampakkan diri dalam setiap barang-barang pemberian yang dia pakai atau dia tenteng  kemana-mana. She sudah ada sejak bertahun-tahun. Cukup lama sehingga semua tempat yang ada dalam kehidupannya telah terisi oleh She…tidak ada sedikitpun yang tersisa bagi orang lain termasuk saya. Tidak ada yang bisa saya perjuangkan disini….
Saat mengambil keputusan itu dada saya terasa perih. Perut saya ikut melilit. Dan mata saya yang tidak tahu malu dengan senang hati menumpahkan semua perasaan sakit itu dengan mengalirkan airnya. Dia tidak minta maaf (ah sudahlah, semua laki-laki memang begitu), tapi demi sedikit waktu yang telah kami lewati bersama (I was so happy) saya akan mengingatnya sebagai orang baik. Dia terlalu baik untuk dibenci. Saya yakin, dia sayang sama saya…
Saya telah memutuskan untuk mengalah demi menjaga semua rencana indahnya dengan She. Tapi saya belum bisa menyertakan doa semoga mereka bisa berbahagia selamanya. Belum. Saya masih sibuk membujuk-bujuk hati saya agar bisa lebih ikhlas nantinya. Saya yakin akan sampai pada masa dimana saya bisa benar-benar ikhlas mendoakannya. Saat itu tiba, saya mungkin telah berhasil menempatkannya dimasa lalu dan mengenang hari pertemuan kami sebagai hari istimewa. Hanya mengenang…