Kamis, 06 Desember 2012

Saya, tentang Dia


Setiap pagi, saat terjaga dari tidur dan membuka mata, kau pasti sudah tahu bagaimana akan memulai harimu dan telah punya sederet rencana untuk  melewatinya, dan bisa memperkirakan endingnya. Tapi kau tidak pernah tahu bahwa dari setiap hari yang diciptakan Tuhan untukmu selalu terselip satu hari istimewa yang baru kau sadari keistimewaanya setelah hari itu kau tinggalkan dimasa lalu.
Dalam sebuah kisah, kadang-kadang nama menjadi tidak begitu penting. Karena itu, saya tidak akan menyebut namanya. Saya mengenalnya pada suatu kesempatan yang tak terencana. Tak terencana karena pagi itu saya sedang tidak punya rencana  apapun untuk melewati hari. Melihat saya bengong sendiri di sekret, bos saya menyarankan saya menyusul teman2 yang sedang bertemu orang media di suatu tempat.
Orang media yang dimaksud  datang bertiga. Satu perempuan, dua laki-laki. Salah satunya Dia. Pertama lihat, biasa saja. Dia tinggi, kurus, wajahnya menyenangkan dan…ehm, rambutnya gondrong. Dialah yang melakukan tanya jawab seputar masalah kegiatan kami sementara dua temannya yang lain lebih memilih menjadi penonton.  Saya duduk diam di salah satu kursi didepannya dan membiarkan teman-teman yang lain menjawab setiap pertanyaannya.  Tanya jawab berjalan lancar. Sesekali saya menimpali jawaban teman-teman yang saya anggap kurang lengkap. Sesekali melihat dengan seksama kewajahnya saat dia sibuk mencatat jawaban-jawaan yang dia dapat. Sesekali… wait a minute… kenapa dia mulai terlihat menarik? saya mulai suka sama rambut gondrongnya yang mengkilap, suka mendengar gaya bicaranya yang akrab, melihat matanya yang ramah, entah kenapa saya merasa dekat.
Jatuh cinta adalah kondisi dimana kamu merasa tertarik kepada seseorang tanpa alasan yang jelas dan semua yang ada padanya jadi terlihat seksi. Kamu diam-diam memperhatikannya tapi terlalu malu untuk menarik perhatiannya. Kamu ingin selalu berada didekatnya tapi mencari berbagai cara untuk menjauhinya. Hari itu, kami menghabiskan waktu bersama-sama. Ramai-ramai . Sepanjang hari, dia menjadi seperti magnet yang mengundang untuk didekati. Saya ingin menjadi yang selalu paling dekat dengannya tapi saya selalu berhasil menemukan cara menjauhinya. Saya memperhatikannya diam-diam, dan geleng-geleng kepala sendirian setiap kali sadar telah kehilangan control. Tapi saya rasa, terlalu cepat untuk menyebut ini jatuh cinta.
Setelah hari itu, waktu berlalu begitu saja. Tidak ada hal special yang terjadi. Saya masih sering mengingatnya sembari bertanya dalam hati apakah dia masih ingat saya. Pernah dalam sebuah event saya melihatnya berdiri diantara awak media yang meliput. Kami sempat bertemu pandangan, tapi dia sama sekali tidak tersenyum. Waktu itu, saya mengira dia sudah lupa. Wajar, kami cuma bertemu sekali. Sebagai orang media, dia pasti selalu bertemu banyak orang dan saya bisa dengan mudah terlupakan.
Bukan arma namanya jika tidak mencari tahu tentang hal-hal yang menurutnya penting. Dia penting, karena itu saya berusaha mencari tahu. Saat ketemu tempo hari, saya dan salah satu temannya sempat saling tukar nomor telepon dan alamat akun facebook. Saya membuka akunnya, membaca setiap tulisannya dan menyukainya. Dari tulisan-tulisannya, saya bisa meraba masa lalunya, menerka-nerka kepribadiannya, dan tahu banyak tentang dirinya, termasuk tahu bahwa dia dekat dengan seorang perempuan cantik, sebut saja She, sejak bertahun-tahun lamanya. Saya kecewa, tapi sudahlah. Meskipun dia tidak punya pacar peluang untuk dekat dengannya adalah nol persen. Bukankah dia sudah lupa pada saya?
Kata orang, jodoh adalah urusan Tuhan. Saya juga percaya itu. Sekaligus percaya bahwa Tuhan sayang pada saya. Buktinya, selang beberapa lama, pada suatu malam, dia menghubungi saya via sms menanyakan beberapa hal dan kabar saya. Senaaaaang sekali karena ternyata dia masih ingat sama saya. Bukan hanya sekali dia sms. Meski jarang tapi rutin. Awalnya singkat-singkat saja. ‘Halo’ atau ‘apa kabarkah’ atau ‘bikin apakah?’. Sederhana memang, tapi pesan-pesan singkat itu mampu merubah rasa ‘tertarik tanpa harapan’ yang saya punya sejak pertama bertemu dengannya tumbuh menjadi ’tertarik dan ingin dekat’. Seiring waktu, pesan darinya berkembang menjadi lebih panjang. Kami mulai membicarakan hal-hal sepele. Kadang-kadang dia menanyakan banyak hal tentang saya. Dia menyenangkan. Saya merasa kami menyukai beberapa hal yang sama. Dan kepadanya saya merasa bebas membicarakan apa saja. 
Lama-lama, hubungan kami semakin akrab walau hanya melalui sms. Dia baik.  Dia menyenangkan. Saya menyukainya. Merindukan pesan-pesannya jika dia tidak menghubungi saya pada waktu-waktu tertentu. Saya berani bilang bahwa saya telah jatuh cinta sejak awal. Tapi dia punya pacar, ckckck. Waktu-waktu tertentu yang saya maksud diatas adalah: saat dia tidak menghubungi saya selama berhari-hari karena dia sedang menemui She ditempat yang jauh disana. Saya tahu itu. Dia tidak pernah bilang tapi saya tahu. Hal yang paling sedih adalah melihat orang yang kau cintai mencintai orang lain. Saya jatuh cinta kepada orang yang sudah menjadi milik orang lain sejak lama. Melalui tulisan-tulisannya, saya bisa tahu betapa mereka berdua saling mengasihi. Mereka telah berbagi banyak hal. Mereka saling menjaga walau saat ini sedang terpisah jauh. Cinta mereka indah. Sangat indah. Saya berjanji pada diri sendiri tidak akan merusak semua itu dengan cara menyembunyikan perasaan saya padanya. Dia tidak usah tahu.
Kami tetap saling mengirim pesan. Masih membicarakan hal-hal yang kami sukai. Sering dia mengajak saya berkunjung ke tempatnya. Saya suka membaca. Dia bilang dia juga suka membaca, punya beberapa buku dan saya boleh meminjamnya jika saya suka. Betapa saya ingin berkunjung agar bisa melihatnya. Saya merindukan matanya. Tubuh jangkungnya. Rambut gondrongnya. Saya rindu melihat semua yang ada padanya. Tapi saya menahan diri dan tidak menemuinya. Saya bahkan menghindarinya ketika dia dan temannya berkunjung ke tempat saya untuk urusan pekerjaan. Itu adalah salah satu cara untuk mengekang perasaan saya agar tidak tumbuh semakin besar. Tapi, sekali lagi, jodoh adalah urusan Tuhan. Tuhan selalu bekerja dengan cara yang tak terduga. Bukan berarti saya bisa menyalahkan Tuhan jika bahasa kami saat berkirim pesan perlahan-lahan berubah menjadi intim. Kami mulai saling memuji, mulai terselip kata ‘say’, ‘kangen’. Saya mulai merasa dia tahu bahwa saya menyukainya, saya merasa bahwa dia juga suka pada saya. Kemudian tanpa sadar saya melupakan janji saya untuk tidak merusak hubungannya dengan She.
Saya mencintainya. Mencintai semua yang ada padanya. Kelebihannya, kekurangannya. Dia romantis. Saya menyukai semua hal yang kami lakukan bersama. Dia bisa menebak dengan tepat beberapa hal yang menjadi kesukaan saya. Bersamanya saya merasa nyaman, merasa dicintai. Karenanya cara saya melihat dunia sedikit demi sedikit jadi berubah. Saya menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana yang dia lakukan untuk saya. Karenanya, saya tahu bahwa, untuk mencapai nirwana kita sama sekali tidak butuh sayap. Cukup menemukan orang yang tepat, orang yang tahu cara membawa kita kesana. Bersamanya saya merasa bahagia.
Saya selalu percaya bahwa Tuhan selalu memberikan apa yang kita butuh, bukan yang kita minta. Meski begitu, saya tetap memohon padaNYA agar bisa bersama dia selamanya. Saya menggantung banyak harapan atasnya. Tapi Tuhan selalu tahu yang terbaik buat saya. Beberapa hari yang lalu dia pamit mau mengurus sesuatu di kota yang jauh disana. Dia bilang mungkin tidak bisa menghubungi saya selama dia disana. Tiba-tiba saya merasa sedih sekali. Di sana ada She. Saya seolah-olah dibangunkan dari sebuah mimpi indah. Saya berusaha mengerti. Dia minta maaf. Tapi permintaan maafnya justru terdengar seperti teriakan kepada saya  supaya segera bangun dari mimpi. Saya merasa janji saya untuk tidak merusak hubungannya dengan She sedang ditagih. Selama dia pergi, saya benar-benar kesepian. Saya merindukannya, tapi setiap kali membayangkan wajahnya, yang terlintas justru wajah cantik She.  Saya malu, merasa bersalah, merasa menjadi pengacau tukang rusak hubungan orang. Saya jadi gamang antara memutuskan hubungan dekat kami atau tetap menjadi pengacau.
Setelah dia pulang dia kembali menghubungi saya. Saya senang tapi terlanjur kacau dan uring-uringan. Dia mengeluh saya terlalu sensitive dan salah paham tapi saya harus segera mengambil keputusan. Saya tahu tak akan pernah dijadikan pilihan. She tak akan pernah tergantikan. She ada dalam setiap tulisannya, dalam rencana-rencana masa depannya, ada dalam beberapa ceritanya saat kami mengobrol. She ada di mana-mana, menampakkan diri dalam setiap barang-barang pemberian yang dia pakai atau dia tenteng  kemana-mana. She sudah ada sejak bertahun-tahun. Cukup lama sehingga semua tempat yang ada dalam kehidupannya telah terisi oleh She…tidak ada sedikitpun yang tersisa bagi orang lain termasuk saya. Tidak ada yang bisa saya perjuangkan disini….
Saat mengambil keputusan itu dada saya terasa perih. Perut saya ikut melilit. Dan mata saya yang tidak tahu malu dengan senang hati menumpahkan semua perasaan sakit itu dengan mengalirkan airnya. Dia tidak minta maaf (ah sudahlah, semua laki-laki memang begitu), tapi demi sedikit waktu yang telah kami lewati bersama (I was so happy) saya akan mengingatnya sebagai orang baik. Dia terlalu baik untuk dibenci. Saya yakin, dia sayang sama saya…
Saya telah memutuskan untuk mengalah demi menjaga semua rencana indahnya dengan She. Tapi saya belum bisa menyertakan doa semoga mereka bisa berbahagia selamanya. Belum. Saya masih sibuk membujuk-bujuk hati saya agar bisa lebih ikhlas nantinya. Saya yakin akan sampai pada masa dimana saya bisa benar-benar ikhlas mendoakannya. Saat itu tiba, saya mungkin telah berhasil menempatkannya dimasa lalu dan mengenang hari pertemuan kami sebagai hari istimewa. Hanya mengenang…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar