Setiap pagi, saat terjaga dari
tidur dan membuka mata, kau pasti sudah tahu bagaimana akan memulai harimu dan
telah punya sederet rencana untuk melewatinya, dan bisa memperkirakan endingnya.
Tapi kau tidak pernah tahu bahwa dari setiap hari yang diciptakan Tuhan untukmu
selalu terselip satu hari istimewa yang baru kau sadari keistimewaanya setelah
hari itu kau tinggalkan dimasa lalu.
Dalam sebuah kisah, kadang-kadang
nama menjadi tidak begitu penting. Karena itu, saya tidak akan menyebut
namanya. Saya mengenalnya pada suatu kesempatan yang tak terencana. Tak
terencana karena pagi itu saya sedang tidak punya rencana apapun untuk melewati hari. Melihat saya
bengong sendiri di sekret, bos saya menyarankan saya menyusul teman2 yang
sedang bertemu orang media di suatu tempat.
Orang media yang dimaksud datang bertiga. Satu perempuan, dua laki-laki.
Salah satunya Dia. Pertama lihat, biasa saja. Dia tinggi, kurus, wajahnya menyenangkan dan…ehm,
rambutnya gondrong. Dialah yang melakukan tanya jawab seputar masalah kegiatan kami sementara dua temannya yang lain lebih memilih menjadi
penonton. Saya duduk diam di salah satu
kursi didepannya dan membiarkan teman-teman yang lain menjawab setiap
pertanyaannya. Tanya jawab berjalan
lancar. Sesekali saya menimpali jawaban teman-teman yang saya anggap kurang
lengkap. Sesekali melihat dengan seksama kewajahnya saat dia sibuk mencatat
jawaban-jawaan yang dia dapat. Sesekali… wait a minute… kenapa dia mulai
terlihat menarik? saya mulai suka sama rambut gondrongnya yang mengkilap, suka
mendengar gaya bicaranya yang akrab, melihat matanya yang ramah, entah kenapa
saya merasa dekat.
Jatuh cinta adalah kondisi dimana
kamu merasa tertarik kepada seseorang tanpa alasan yang jelas dan semua yang
ada padanya jadi terlihat seksi. Kamu diam-diam memperhatikannya tapi terlalu
malu untuk menarik perhatiannya. Kamu ingin selalu berada didekatnya tapi
mencari berbagai cara untuk menjauhinya. Hari itu, kami menghabiskan waktu
bersama-sama. Ramai-ramai . Sepanjang hari, dia menjadi seperti magnet yang
mengundang untuk didekati. Saya ingin menjadi yang selalu paling dekat
dengannya tapi saya selalu berhasil menemukan cara menjauhinya. Saya memperhatikannya
diam-diam, dan geleng-geleng kepala sendirian setiap kali sadar telah
kehilangan control. Tapi saya rasa, terlalu cepat untuk menyebut ini jatuh
cinta.
Setelah hari itu, waktu berlalu
begitu saja. Tidak ada hal special yang terjadi. Saya masih sering mengingatnya
sembari bertanya dalam hati apakah dia masih ingat saya. Pernah dalam sebuah
event saya melihatnya berdiri diantara awak media yang meliput. Kami
sempat bertemu pandangan, tapi dia sama sekali tidak tersenyum. Waktu itu, saya
mengira dia sudah lupa. Wajar, kami cuma bertemu sekali. Sebagai orang media,
dia pasti selalu bertemu banyak orang dan saya bisa dengan mudah terlupakan.
Bukan arma namanya jika tidak
mencari tahu tentang hal-hal yang menurutnya penting. Dia penting, karena itu
saya berusaha mencari tahu. Saat ketemu tempo hari, saya dan salah satu
temannya sempat saling tukar nomor telepon dan alamat akun facebook. Saya
membuka akunnya, membaca setiap tulisannya dan menyukainya. Dari
tulisan-tulisannya, saya bisa meraba masa lalunya, menerka-nerka kepribadiannya,
dan tahu banyak tentang dirinya, termasuk tahu bahwa dia dekat dengan seorang perempuan
cantik, sebut saja She, sejak bertahun-tahun lamanya. Saya kecewa, tapi
sudahlah. Meskipun dia tidak punya pacar peluang untuk dekat dengannya adalah
nol persen. Bukankah dia sudah lupa pada saya?
Kata orang, jodoh adalah urusan
Tuhan. Saya juga percaya itu. Sekaligus percaya bahwa Tuhan sayang pada saya.
Buktinya, selang beberapa lama, pada suatu malam, dia menghubungi saya via sms
menanyakan beberapa hal dan kabar saya. Senaaaaang sekali karena ternyata dia
masih ingat sama saya. Bukan hanya sekali dia sms. Meski jarang tapi rutin. Awalnya
singkat-singkat saja. ‘Halo’ atau ‘apa kabarkah’ atau ‘bikin apakah?’. Sederhana
memang, tapi pesan-pesan singkat itu mampu merubah rasa ‘tertarik tanpa
harapan’ yang saya punya sejak pertama bertemu dengannya tumbuh menjadi ’tertarik
dan ingin dekat’. Seiring waktu, pesan darinya berkembang menjadi lebih
panjang. Kami mulai membicarakan hal-hal sepele. Kadang-kadang dia menanyakan
banyak hal tentang saya. Dia menyenangkan. Saya merasa kami menyukai beberapa
hal yang sama. Dan kepadanya saya merasa bebas membicarakan apa saja.
Lama-lama, hubungan kami semakin
akrab walau hanya melalui sms. Dia baik.
Dia menyenangkan. Saya menyukainya. Merindukan pesan-pesannya jika dia
tidak menghubungi saya pada waktu-waktu tertentu. Saya berani bilang bahwa saya
telah jatuh cinta sejak awal. Tapi dia punya pacar, ckckck. Waktu-waktu
tertentu yang saya maksud diatas adalah: saat dia tidak menghubungi saya selama
berhari-hari karena dia sedang menemui She ditempat yang jauh disana. Saya tahu
itu. Dia tidak pernah bilang tapi saya tahu. Hal yang paling sedih adalah
melihat orang yang kau cintai mencintai orang lain. Saya jatuh cinta kepada
orang yang sudah menjadi milik orang lain sejak lama. Melalui
tulisan-tulisannya, saya bisa tahu betapa mereka berdua saling mengasihi. Mereka
telah berbagi banyak hal. Mereka saling menjaga walau saat ini sedang terpisah
jauh. Cinta mereka indah. Sangat indah. Saya berjanji pada diri sendiri tidak
akan merusak semua itu dengan cara menyembunyikan perasaan saya padanya. Dia tidak
usah tahu.
Kami tetap saling mengirim pesan.
Masih membicarakan hal-hal yang kami sukai. Sering dia mengajak saya berkunjung
ke tempatnya. Saya suka membaca. Dia bilang dia juga suka membaca, punya
beberapa buku dan saya boleh meminjamnya jika saya suka. Betapa saya ingin
berkunjung agar bisa melihatnya. Saya merindukan matanya. Tubuh jangkungnya.
Rambut gondrongnya. Saya rindu melihat semua yang ada padanya. Tapi saya
menahan diri dan tidak menemuinya. Saya bahkan menghindarinya ketika dia dan
temannya berkunjung ke tempat saya untuk urusan pekerjaan. Itu adalah salah
satu cara untuk mengekang perasaan saya agar tidak tumbuh semakin besar. Tapi,
sekali lagi, jodoh adalah urusan Tuhan. Tuhan selalu bekerja dengan cara yang
tak terduga. Bukan berarti saya bisa menyalahkan Tuhan jika bahasa kami saat
berkirim pesan perlahan-lahan berubah menjadi intim. Kami mulai saling memuji,
mulai terselip kata ‘say’, ‘kangen’. Saya mulai merasa dia tahu bahwa saya
menyukainya, saya merasa bahwa dia juga suka pada saya. Kemudian tanpa sadar saya melupakan
janji saya untuk tidak merusak hubungannya dengan She.
Saya mencintainya. Mencintai
semua yang ada padanya. Kelebihannya, kekurangannya. Dia romantis. Saya
menyukai semua hal yang kami lakukan bersama. Dia bisa menebak dengan tepat beberapa
hal yang menjadi kesukaan saya. Bersamanya saya merasa nyaman, merasa dicintai. Karenanya
cara saya melihat dunia sedikit demi sedikit jadi berubah. Saya menemukan
kebahagiaan dalam hal-hal sederhana yang dia lakukan untuk saya. Karenanya,
saya tahu bahwa, untuk mencapai nirwana kita sama sekali tidak butuh sayap.
Cukup menemukan orang yang tepat, orang yang tahu cara membawa kita kesana. Bersamanya saya merasa bahagia.
Saya selalu percaya bahwa Tuhan selalu memberikan apa yang kita butuh, bukan yang kita minta. Meski begitu, saya tetap memohon padaNYA agar bisa bersama dia selamanya. Saya menggantung banyak harapan atasnya. Tapi Tuhan selalu tahu yang terbaik buat saya. Beberapa hari yang lalu dia pamit
mau mengurus sesuatu di kota yang jauh disana. Dia bilang mungkin tidak bisa
menghubungi saya selama dia disana. Tiba-tiba saya merasa sedih sekali. Di sana
ada She. Saya seolah-olah dibangunkan dari sebuah mimpi indah. Saya
berusaha mengerti. Dia minta maaf. Tapi permintaan maafnya justru terdengar
seperti teriakan kepada saya supaya
segera bangun dari mimpi. Saya merasa janji saya untuk tidak merusak
hubungannya dengan She sedang ditagih. Selama dia pergi, saya benar-benar
kesepian. Saya merindukannya, tapi setiap kali membayangkan wajahnya, yang
terlintas justru wajah cantik She. Saya malu,
merasa bersalah, merasa menjadi pengacau tukang rusak hubungan orang. Saya jadi
gamang antara memutuskan hubungan dekat kami atau tetap menjadi pengacau.
Setelah dia pulang dia kembali
menghubungi saya. Saya senang tapi terlanjur kacau dan uring-uringan. Dia
mengeluh saya terlalu sensitive dan salah paham tapi saya harus segera
mengambil keputusan. Saya tahu tak akan pernah dijadikan pilihan. She tak akan
pernah tergantikan. She ada dalam setiap tulisannya, dalam rencana-rencana masa
depannya, ada dalam beberapa ceritanya saat kami mengobrol. She ada di
mana-mana, menampakkan diri dalam setiap barang-barang pemberian yang dia pakai
atau dia tenteng kemana-mana. She sudah
ada sejak bertahun-tahun. Cukup lama sehingga semua tempat yang ada dalam
kehidupannya telah terisi oleh She…tidak ada sedikitpun yang tersisa bagi orang
lain termasuk saya. Tidak ada yang bisa saya perjuangkan disini….
Saat mengambil keputusan itu dada
saya terasa perih. Perut saya ikut melilit. Dan mata saya yang tidak tahu malu
dengan senang hati menumpahkan semua perasaan sakit itu dengan mengalirkan
airnya. Dia tidak minta maaf (ah sudahlah, semua laki-laki memang begitu), tapi
demi sedikit waktu yang telah kami lewati bersama (I was so happy) saya akan
mengingatnya sebagai orang baik. Dia terlalu baik untuk dibenci. Saya yakin, dia sayang sama saya…
Saya telah memutuskan untuk
mengalah demi menjaga semua rencana indahnya dengan She. Tapi saya belum bisa
menyertakan doa semoga mereka bisa berbahagia selamanya. Belum. Saya masih
sibuk membujuk-bujuk hati saya agar bisa lebih ikhlas nantinya. Saya yakin akan
sampai pada masa dimana saya bisa benar-benar ikhlas mendoakannya. Saat itu
tiba, saya mungkin telah berhasil menempatkannya dimasa lalu dan mengenang hari
pertemuan kami sebagai hari istimewa. Hanya mengenang…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar