Kali ini saya tidak akan menulis tentang cinta. Capek kalo harus memikirkan cinta setiap hari. Bukan berarti saya tidak memikirannya lagi. Bagaimanapun, patah hati adalah penyakit kronis yang butuh teraphy untuk menyembuhkannya. Tapi selama masa teraphy itu, kau harus tetap melanjutkan hidup, kan?
Langkah pertama dari melanjutkan hidup adalah menemukan sesuatu (bisa orang atau tempat) yang bisa kau jadikan tempat pelepasan. Setelah itu carilah kegiatan yang bisa membuatmu sibuk. Saya merasa beruntung karena memiliki keduanya. Beberapa hari lalu, David Duma sms menginfokan jadwal di PPI. Kegiatan di AMPI juga disegerakan menyesuaikan jadwal pilgub. Dan ibu Eba, memohon dengan sangat agar saya mau bergabung di PG Kabupaten. Jadi, saya tidak punya alasan untuk merasa terpuruk atau semacamnya. Menurut saya, ibarat makanan, kesedihan itu, jangan disimpan didalam microwave. Letakkan saja dibawah pohon. Kalau tidak dimakan oleh kucing lewat, lama-lama akan basi sendiri, berulat, kemudian terurai oleh bakteri dan menjadi pupuk. Insha Allah pohonnya akan subur dan berbuah lebat. Nah, buahnya bisa dimakan...
Cara terbaik untuk memulai hari adalah mandi subuh, shalat, kemudian membuka pintu dan jendela. Saat membuka jendela, angin subuh yang sejuk membelai wajah. Saya suka sensasinya. Aromanya selalu membawa banyak pesan kebahagiaan dan harapan. Seperti hari ini. Senang karena bisa kembali melakukan ritual ini setelah beberapa hari absen karena sedang kedatangan tamu bulanan. Saya melanjutkannya dengan beres-beres rumah. Saya butuh berkeringat. Dan beres-beres rumah membuatmu berkeringat. Saya kira saya butuh olahraga. Beberapa minggu ini saya tidak lagi olahraga. Saya hanya diet gula, maksudnya menghindari makanan yang manis-manis. Diet gula yang saya lakukan sudah menunjukkan hasilnya. Saya merasa segar dan celana jeans kekecilan yang saya beli dua bulan lalu sudah tidak sesak saat dipakai.Nanti sore saya akan mulai lari sore lagi.
Setelah beres-beres rumah, saya berencana akan mencuci motor. Saya ke warung dekat rumah untuk membeli shampo motor. Warung ini adalah milik istrinya Pak Jamal, sekretaris desa yang saat ini sedang menjabat sebagai Kades sementara karena Kades kami mengunduran diri tempo hari. Berhubung masih pagi pak Jamal belum ngantor dan istrinya sedang repot didapur, maka yang melayani saya adalah pak Jamal. Setelah memberikan shampo motor dan mengembalikan uang sisa, dia tiba-tiba berbasa-basi menanyakan kabar saya. Tidak biasanya nih, ... Selama ini, sejak saya menjadi fasilitator comdev, hubungan kami tidak terlalu baik karena terlalu sering berbeda pendapat mengenai konsep pendampingan di desa. Saya balik menanyakan kabarnya. Dia bilang dia sehat dan bla bla bla bla bla.... Ceritanya jadi berkembang kemana-mana. Dia mengeluh panjang lebar tentang kondisi pemerintahan didesa. Tentang issue pemilihan Kades baru yang pada saat ini sedang hangat dibicarakan didesa kami. Tentang aparatnya yang menurutnya seolah-olah memusuhinya. Aduh, pak Sekdes. Pagi2 saya sudah dijadikan tong sampah. Tidak apa-apa, dengan begini saya jadi tahu bahwa meski sering berbeda pendapat, ternyata hubungan personal kami baik-baik saja. Saya mendengarkannya dengan sabar. Memberikan pendapat seadanya, sesekali membesar-besarkan hatinya. Anyway, seorang pejabat yang sedang curhat tentang pekerjaannya ternyata bisa tampak lebih melow daripada ABG yang sedang galau karena patah hati, heheeee....
Dia belum benar-benar selesai ketika seorang pembeli lain datang. Saya lega karena punya alasan untuk pamit. Jadwal memandikan motor jadi molor. Saya tetap mencuci motor dan terpaksa membatalkan rencana untuk sarapan. Saya mandi terburu-buru, pakai baju terburu-buru, dan memaksa mama melakukan hal yang sama. Mama mau nebeng ke Malili, kerumahnya Pak Siddik. Ada acara bakar-bakar ikan katanya. Sebenarnya saya mau ikut. Bagaimanapun, ikan bakar adalah makanan paling enak nomor dua setelah sop udang buatan saya. Tapi saya harus ke kantor dewan hari ini . Yup, secaraaaa....saya telah menerima tawaran Pak Yamin untuk masuk dan bergabung di parlemen group kabupaten dan melakukan pemantauan di kantor DPRD Lutim. Ini adalah bentuk dari perpanjangan tangan Kopel Makassar (tentang Kopel, saya akan menceritakannya lain kali). Sepertinya asyik mengamati kegiatan para anggota dewan dan mencari tahu banyak tentang proses pengambilan kebijakan disana. Hmmm...
Setelah mendrop mama dirumahnya Pak Siddik, saya bergegas ke kantor dewan. Demi mempersingkat perjalanan, saya memilih memotong jalan melewati jalan baru. Sialnya, ternyata jalan itu masih dalam proses pembuatan. Material timbunan tanah merah masih banyak yang menumpuk di badan jalan. Apalagi semalaman hujan. Komplit deh. Saya terjebak ditengah lumpur tanah merah. Ban motor slip dan sepatu saya belepotan menahan motor suapaya tidak jatuh. Saya terpaksa memutar arah. Beberapa pekerja jalan bersuit-suit pada saya. Heheheeee...sial betul. Akibatnya, saya menjadi semakin telat sampai di dewan.
Telat, di hari pertama pula, itu....prestasi banget. Sampai di dewan pak Yamin sudah menunggu. Dia hanya tersenyum maklum. Selamat deh. Dia lalu bilang bahwa hari ini hanya perkenalan dulu. Maksudnya, dia akan memperkenalkan saya kepada semua anggota dewan sebagai anggota tim pemantau dari Kopel. Tapi, karena para anggota dewan yang terhormat belum ngantor ( menurut salah satu staff disana kemungkinan besar tdk ada yang ngantor karena ada reses kecamatan), maka pak Yamin memutuskan sebaiknya datang besok saja. Kami sepakat ke Dg Sija untuk bertemu teman2 kopel yang lain.
Dan disinilah kami, mendengarkan gosip-gosip seputar pemerintahan, mempelajari hal-hal tentang kopel yang belum saya tahu, dan mengisi blog ini. You, see...saya telah meletakkan kesedihan saya dibawah pohon dan meninggalkannya disana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar