Selasa, 25 Desember 2012

Mengenang 2012


Desember sedang berkemas. Pohon cemara telah dihias. Kidung natal bergema syahdu dari menara-menara gereja.  Januari  telah bersiap-siap menggantikan Desember. Pesta penyambutannya sedang ramai dibicarakan. Terompet telah dihias. Kembang api siap disulut. 2013 menjelang, 2012 segera menghilang. Sebentar lagi lenyap dalam dekapan sejarah.                                   

Setahun silam, saya menandai tahun 2012 sebagai tahun perpisahan.
Malam itu cerah. Saya, keluarga besar suami, dan beberapa tetangga menyambut kedatangan 2012 dengan pesta kecil dihalaman rumah. Jagung, ikan, ayam menjadi menu barbeque kami. Cola, teh, kopi  dan sarabba menjadi pilihan minumannya. Macam-macam gorengan ikut menjadi pelengkap. Ramai. Ada banyak percakapan, gossip, dan canda. Tentu saja, pesta kecil kami berakhir dengan cepat. Anak-anak kecil mengantuk sebelum jam dua belas. Ibu mereka tak bisa menolak menemani ketempat tidur. Jagung ikan ayam menjadi tulang belulang sebelum tengah malam. Terompet tahun baru ditiup sebelum waktunya. Meski begitu, malam tahun baru kami tetap menggembirakan. Tapi ada yang kurang. Suami saya menghilang. Saya tahu dia juga sedang berpesta. Entah dimana, entah dengan siapa.
Menjelang pagi barulah dia kembali pulang. Saya meradang. Tapi tetap diam. Yang saya lakukan adalah mengemasi barang-barang. Bukan untuk menyusul tahun 2011 yang telah menghilang, tapi untuk memulai tahun 2012 dengan perpisahan.

Setiap cerita perpisahan bumbunya adalah airmata. Saya sedih. Saya marah. Saya kecewa. Saya takut. Saya mengemasi pakaian dan buku-buku saya sambil merenung. Mengingat-ingat semua hal yang pernah saya lalui selama delapan tahun pernikahan kami. Bukan waktu yang singkat. Banyak hal yang telah kami bagi bersama. Masa-masa senang, masa-masa sulit. Saya mengurai kenangan-kenangan itu satu persatu. Setiap detailnya. Berusaha menemukan alasan yang bisa menghentikan saya memasukkan pakaian ke dalam kopor. Tapi saya tidak menemukannya. Ada. Sedikit. Jumlahnya terlalu sedikit sehingga tidak terlihat karena tercampur dengan kekecewaan-kekecewaan saya yang menumpuk-numpuk yang pada akhirnya membuat saya mati rasa. Cinta saya telah lama padam sebenarnya. Pun, tak ada keturunan yang mengikat. Mungkin karena itu saya tak dianggap. Satu-satunya yang menahan saya bertahan selama itu adalah rasa takut. Saya takut menjadi dan disebut janda.

Janda. Waktu masih kecil, saya pertama kali tahu kata itu dari dialog dalam film india. Waktu itu saya memahami janda sebagai perempuan yang kehilangan suaminya yang meninggal dan dia harus mengenakan sari warna putih untuk menjelaskan statusnya. Beberapa sepupu mama yang menjadi janda juga karena suami mereka meninggal. Jadi, saya menganggap bahwa seorang perempuan hanya disebut janda jika suami mereka meninggal. Pemahaman saya ituberubah waktu saya duduk dibangku SMP. Waktu itu, salah satu guru kami bercerai dengan suaminya. Teman-teman lain menyebutnya janda. Saya sempat bertanya, kenapa dia disebut janda toh suaminya tidak meninggal. Guru saya yang lain menjelaskan bahwa janda adalah perempuan yang kehilangan suami baik karena meninggal maupun karena bercerai. Pemahaman saya itu lambat laun berubah. Janda tak lagi sekedar perempuan yang pernah menikah. Saya sering mendengar komentar melecehkan tentang janda kembang, janda yang mudah dirayu, perebut suami orang, janda gatal… Saya juga melihat  beberapa kejadian disekitar saya yang membuat pemahaman negative tentang janda menguat dalam otak saya. Beberapa perempuan yang saya kenal baik-baik, tiba-tiba saja menjadi seksi dan maleda’ setelah bercerai dengan suaminya. Tetangga saya suaminya selingkuh dengan janda. Teman saya tiba-tiba menjadi pusat perhatian cowok-cowok karena dia janda. Tetangga saya yang lain tiap hari menjadi bahan gossip karena  dia janda. Semua itu yang membuat saya takut dan malu disebut janda.

Hari-hari pertama menyandang status itu saya malu menunjukkan muka didepan orang banyak. Selain keluar untuk kerja, saya banyak mengurung diri dikamar baru saya dirumah mama. Dalam sekejap saya menjadi selebriti kampung. Gosip bertebaran diteras-teras tetangga, diwarung-warung, dianak-anak tangga tempat mencari kutu, disekeliling keranjang sayur mas Leda’ (sebutan untuk penjual sayur langganan mama). Mereka semua membahas tentang kepergian saya dari rumah suami. Ada yang berbisik-bisik, ada pula yang bersuara keras tapi mendadak gagu dan salah tingkah jika tiba-tiba saya melintas berangkat kerja. Kelompok mereka juga terbagi dua, ada yang pro saya-ada yang pro mantan suami. Ada yang mendukung keputusan saya, tidak sedikit yang menyayangkan.
“Kenapa bisa begitu? Selama ini ndak pernah ji ribut toh?”
“Masalah kecil begitu ji. Biasa itu. suaminya si A juga begitu. Mereka ribut tapi tidak cerai”
“Kalau masih bisa diperbaiki, perbaiki mi saja”
“Dimana mau dapat suami yang seperti itu lagi. Ganteng, sabar lagi”
Ya ya ya….
Kami tidak pernah bertengkar didepan umum. Tidak pernah ada cerita piring terbang atau kursi melayang. Apalagi teriakan-teriakan saling melecehkan dipinggir jalan. Tapi bukan berarti kami tidak pernah ribut,  kan?
Dia menghilang dimalam tahun baru, dan melewatkannya bersama perempuan lain. Oke, itu masalah biasa. Suaminya si anu juga pernah begitu. Sabar saja. Maafkan saja. Hmm…, masalah biasa, yang dilakukan berulang-ulang, dimaafkan berulang-ulang, tidak bisa lagi disebut masalah biasa. Memaafkan kesalahan berulang-ulang itu bukan sabar namanya, tapi goblok.
Pernikahan itu bukan motor. Yang kalau salah satu onderdilnya rusak bisa diganti. Dalam pernikahan penyelesaian masalah hanyalah perubahan dan penerimaan. Dia tidak mau berubah, dan saya tidak terima. Tidak ada yang bisa diperbaiki. Jadi, ya sudah.
Ada yang bilang cinta bisa menjadi alasan saya untuk bertahan. Cinta? Kami pernah punya cinta. Tapi lama kelamaan mati karena tidak dirawat dengan benar…
Saya perempuan dewasa. Bukan ABG belasan tahun yang jatuh cinta dan tergila-gila karena wajah keren bak bintang filem. Orang dewasa lebih banyak menggunakan logika. Tidak semua cinta layak untuk diperjuangkan. Jika mencintai membuatmu merasa menderita, tinggalkan saja. Saya belajar itu dari mama yang beberapa tahun sebelumnya membuat keputusan yang sama. Hidup adalah pilihan. Orang lain tidak berhak mengadili saya karena pilihan yang saya buat. Saya yang akan menanggung resikonya. Saya siap.

Menjadi janda di usia tiga puluh tidaklah mudah. Ceritanya tentu beda jika usiamu dua kali lipat lebih tua, heheee…. Hampir semua laki-laki menjadi lebih ramah padamu. Saat bersalaman ada-ada saja yang menggaruk telapak tanganmu sebagai bagian dari bersalaman itu. Kadang-kadang ada yang mengedipkan mata saat kau tak sengaja bertemu pandang dengannya. Banyak juga yang tiba-tiba merasa butuh tahu nomor teleponmu. Kadang ada  yang menawarkan tumpangan saat melihatmu menunggu pete-pete, dan berani menyentuh tangan atau paha sesaat sebelum kau turun dari mobilnya. Pernah juga ada yang tiba-tiba bertamu tengah malam pura-pura mengurus pekerjaan tapi tidak mau diajak duduk diruang tamu lebih suka ngobrol diteras yang remang-remang. Dan tentu saja, banyak tawaran yang masuk memintamu menjadi pacarnya. Anehnya, jika dia bukan suami orang usianya pasti jauh lebih mudah darimu.
Awalnya saya terkaget-kaget. Marah dengan semua perlakuan seperti itu. Saya merasa dilecehkan. Saya tahu image janda yang terbentuk dimasyarakat memang seperti itu. Tapi saya beda. Saya tidak mau tiba-tiba melepas jilbab menggantinya dengan bando ala chibi-chibi. Status saya berubah, tapi kepribadian saya tidak. Semua orang harus tahu itu. Saya menjaga jarak dari orang-orang yang menambahkan gerakan tidak penting dalam salamannya. Saya tersenyum sopan pada setiap kedipan mata dan berhasil membuat beberapa diantaranya pura-pura kelilipan. Saya membanting pintu mobil dan pernah juga menyiramkan air minum ke wajah orang yang mencoba memegang paha  saat diberi tumpangan. Saya menolak tamu tengah malam dan menolak tawaran menjadi selingkuhan suami orang.
Lama-lama semua perlakuan melecehkan itu berkurang dengan sendirinya. Saya semakin nyaman dengan status saya. Orang-orang yang dulunya melecehkan mulai respect pada saya. Saya jadi tahu, apapun image dari status yang disandang, bangunlah imagemu sendiri.

2012 hampir berlalu. Waktu selalu menjadi obat paling ampuh. Saya telah lama selesai membenahi hati. lukanya telah lama mengering. Saya dan mantan suami masih tetap berteman. Semua waktu kami dimasa lalu telah dikemas rapi. Saya menempatkannya dalam kotak kenangan yang hanya akan dibuka sekali-kali untuk mengambil pelajaran.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar