Desember sedang berkemas. Pohon cemara telah dihias. Kidung
natal bergema syahdu dari menara-menara gereja.
Januari telah bersiap-siap
menggantikan Desember. Pesta penyambutannya sedang ramai dibicarakan. Terompet
telah dihias. Kembang api siap disulut. 2013 menjelang, 2012 segera menghilang.
Sebentar lagi lenyap dalam dekapan sejarah.
Setahun silam, saya menandai tahun 2012 sebagai tahun
perpisahan.
Malam itu cerah. Saya, keluarga besar suami, dan beberapa
tetangga menyambut kedatangan 2012 dengan pesta kecil dihalaman rumah. Jagung,
ikan, ayam menjadi menu barbeque kami. Cola, teh, kopi dan sarabba menjadi pilihan minumannya.
Macam-macam gorengan ikut menjadi pelengkap. Ramai. Ada banyak percakapan, gossip,
dan canda. Tentu saja, pesta kecil kami berakhir dengan cepat. Anak-anak kecil
mengantuk sebelum jam dua belas. Ibu mereka tak bisa menolak menemani ketempat
tidur. Jagung ikan ayam menjadi tulang belulang sebelum tengah malam. Terompet
tahun baru ditiup sebelum waktunya. Meski begitu, malam tahun baru kami tetap
menggembirakan. Tapi ada yang kurang. Suami saya menghilang. Saya tahu dia juga
sedang berpesta. Entah dimana, entah dengan siapa.
Menjelang pagi barulah dia kembali pulang. Saya meradang.
Tapi tetap diam. Yang saya lakukan adalah mengemasi barang-barang. Bukan untuk
menyusul tahun 2011 yang telah menghilang, tapi untuk memulai tahun 2012 dengan
perpisahan.
Setiap cerita perpisahan bumbunya adalah airmata. Saya
sedih. Saya marah. Saya kecewa. Saya takut. Saya mengemasi pakaian dan
buku-buku saya sambil merenung. Mengingat-ingat semua hal yang pernah saya
lalui selama delapan tahun pernikahan kami. Bukan waktu yang singkat. Banyak
hal yang telah kami bagi bersama. Masa-masa senang, masa-masa sulit. Saya
mengurai kenangan-kenangan itu satu persatu. Setiap detailnya. Berusaha
menemukan alasan yang bisa menghentikan saya memasukkan pakaian ke dalam kopor.
Tapi saya tidak menemukannya. Ada. Sedikit. Jumlahnya terlalu sedikit sehingga
tidak terlihat karena tercampur dengan kekecewaan-kekecewaan saya yang
menumpuk-numpuk yang pada akhirnya membuat saya mati rasa. Cinta saya telah
lama padam sebenarnya. Pun, tak ada keturunan yang mengikat. Mungkin karena itu
saya tak dianggap. Satu-satunya yang menahan saya bertahan selama itu adalah
rasa takut. Saya takut menjadi dan disebut janda.
Janda. Waktu masih kecil, saya pertama kali tahu kata itu
dari dialog dalam film india. Waktu itu saya memahami janda sebagai perempuan
yang kehilangan suaminya yang meninggal dan dia harus mengenakan sari warna
putih untuk menjelaskan statusnya. Beberapa sepupu mama yang menjadi janda juga
karena suami mereka meninggal. Jadi, saya menganggap bahwa seorang perempuan
hanya disebut janda jika suami mereka meninggal. Pemahaman saya ituberubah
waktu saya duduk dibangku SMP. Waktu itu, salah satu guru kami bercerai dengan
suaminya. Teman-teman lain menyebutnya janda. Saya sempat bertanya, kenapa dia
disebut janda toh suaminya tidak meninggal. Guru saya yang lain menjelaskan
bahwa janda adalah perempuan yang kehilangan suami baik karena meninggal maupun
karena bercerai. Pemahaman saya itu lambat laun berubah. Janda tak lagi sekedar
perempuan yang pernah menikah. Saya sering mendengar komentar melecehkan
tentang janda kembang, janda yang mudah dirayu, perebut suami orang, janda
gatal… Saya juga melihat beberapa
kejadian disekitar saya yang membuat pemahaman negative tentang janda menguat
dalam otak saya. Beberapa perempuan yang saya kenal baik-baik, tiba-tiba saja
menjadi seksi dan maleda’ setelah bercerai dengan suaminya. Tetangga saya
suaminya selingkuh dengan janda. Teman saya tiba-tiba menjadi pusat perhatian cowok-cowok
karena dia janda. Tetangga saya yang lain tiap hari menjadi bahan gossip karena dia janda. Semua itu yang membuat saya takut
dan malu disebut janda.
Hari-hari pertama menyandang status itu saya malu
menunjukkan muka didepan orang banyak. Selain keluar untuk kerja, saya banyak mengurung
diri dikamar baru saya dirumah mama. Dalam sekejap saya menjadi selebriti kampung.
Gosip bertebaran diteras-teras tetangga, diwarung-warung, dianak-anak tangga
tempat mencari kutu, disekeliling keranjang sayur mas Leda’ (sebutan untuk
penjual sayur langganan mama). Mereka semua membahas tentang kepergian saya
dari rumah suami. Ada yang berbisik-bisik, ada pula yang bersuara keras tapi
mendadak gagu dan salah tingkah jika tiba-tiba saya melintas berangkat kerja. Kelompok
mereka juga terbagi dua, ada yang pro saya-ada yang pro mantan suami. Ada yang
mendukung keputusan saya, tidak sedikit yang menyayangkan.
“Kenapa bisa begitu? Selama ini ndak pernah ji ribut
toh?”
“Masalah kecil begitu ji. Biasa itu. suaminya si A juga
begitu. Mereka ribut tapi tidak cerai”
“Kalau masih bisa diperbaiki, perbaiki mi saja”
“Dimana mau dapat suami yang seperti itu lagi. Ganteng,
sabar lagi”
Ya ya ya….
Kami tidak pernah bertengkar didepan umum. Tidak pernah
ada cerita piring terbang atau kursi melayang. Apalagi teriakan-teriakan saling
melecehkan dipinggir jalan. Tapi bukan berarti kami tidak pernah ribut, kan?
Dia menghilang dimalam tahun baru, dan melewatkannya
bersama perempuan lain. Oke, itu masalah biasa. Suaminya si anu juga pernah
begitu. Sabar saja. Maafkan saja. Hmm…, masalah biasa, yang dilakukan
berulang-ulang, dimaafkan berulang-ulang, tidak bisa lagi disebut masalah
biasa. Memaafkan kesalahan berulang-ulang itu bukan sabar namanya, tapi goblok.
Pernikahan itu bukan motor. Yang kalau salah satu
onderdilnya rusak bisa diganti. Dalam pernikahan penyelesaian masalah hanyalah
perubahan dan penerimaan. Dia tidak mau berubah, dan saya tidak terima. Tidak
ada yang bisa diperbaiki. Jadi, ya sudah.
Ada yang bilang cinta bisa menjadi alasan saya untuk
bertahan. Cinta? Kami pernah punya cinta. Tapi lama kelamaan mati karena tidak
dirawat dengan benar…
Saya perempuan dewasa. Bukan ABG belasan tahun yang jatuh
cinta dan tergila-gila karena wajah keren bak bintang filem. Orang dewasa lebih
banyak menggunakan logika. Tidak semua cinta layak untuk diperjuangkan. Jika
mencintai membuatmu merasa menderita, tinggalkan saja. Saya belajar itu dari
mama yang beberapa tahun sebelumnya membuat keputusan yang sama. Hidup adalah
pilihan. Orang lain tidak berhak mengadili saya karena pilihan yang saya buat.
Saya yang akan menanggung resikonya. Saya siap.
Menjadi janda di usia tiga puluh tidaklah mudah. Ceritanya
tentu beda jika usiamu dua kali lipat lebih tua, heheee…. Hampir semua
laki-laki menjadi lebih ramah padamu. Saat bersalaman ada-ada saja yang
menggaruk telapak tanganmu sebagai bagian dari bersalaman itu. Kadang-kadang
ada yang mengedipkan mata saat kau tak sengaja bertemu pandang dengannya.
Banyak juga yang tiba-tiba merasa butuh tahu nomor teleponmu. Kadang ada yang menawarkan tumpangan saat melihatmu menunggu
pete-pete, dan berani menyentuh tangan atau paha sesaat sebelum kau turun dari
mobilnya. Pernah juga ada yang tiba-tiba bertamu tengah malam pura-pura
mengurus pekerjaan tapi tidak mau diajak duduk diruang tamu lebih suka ngobrol
diteras yang remang-remang. Dan tentu saja, banyak tawaran yang masuk memintamu
menjadi pacarnya. Anehnya, jika dia bukan suami orang usianya pasti jauh lebih
mudah darimu.
Awalnya saya terkaget-kaget. Marah dengan semua perlakuan
seperti itu. Saya merasa dilecehkan. Saya tahu image janda yang terbentuk
dimasyarakat memang seperti itu. Tapi saya beda. Saya tidak mau tiba-tiba
melepas jilbab menggantinya dengan bando ala chibi-chibi. Status saya berubah,
tapi kepribadian saya tidak. Semua orang harus tahu itu. Saya menjaga jarak
dari orang-orang yang menambahkan gerakan tidak penting dalam salamannya. Saya
tersenyum sopan pada setiap kedipan mata dan berhasil membuat beberapa
diantaranya pura-pura kelilipan. Saya membanting pintu mobil dan pernah juga
menyiramkan air minum ke wajah orang yang mencoba memegang paha saat diberi tumpangan. Saya menolak tamu
tengah malam dan menolak tawaran menjadi selingkuhan suami orang.
Lama-lama semua perlakuan melecehkan itu berkurang dengan
sendirinya. Saya semakin nyaman dengan status saya. Orang-orang yang dulunya
melecehkan mulai respect pada saya. Saya jadi tahu, apapun image dari status
yang disandang, bangunlah imagemu sendiri.
2012 hampir berlalu. Waktu selalu menjadi obat paling
ampuh. Saya telah lama selesai membenahi hati. lukanya telah lama mengering.
Saya dan mantan suami masih tetap berteman. Semua waktu kami dimasa lalu telah
dikemas rapi. Saya menempatkannya dalam kotak kenangan yang hanya akan dibuka
sekali-kali untuk mengambil pelajaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar