Soroako, 15 Desember 2012
Yupppyyyyyyyy....saya sedang di soroako, dalam sebuah kamar sewaan di jalan gunung dieng. Semalam saya sengaja
menginap disini agar pagi ini bisa ikut ke Matano untuk melihat acara
pelantikan kepala adat Matano. Eko yang mengajak. Dia, Doni, Nuki dan Nala akan
meliput acara tersebut. Mana bisa saya menolak ajakan seperti ini. Memang sih,
saya sempat jadi-tidak-jadi-tidak pergi karena jadwalnya berbarengan dengan
jadwal pemantauan. Tapi setelah saya pikir-pikir event seperti ini jarang
diadakan, dan eko sudah sangat baik karena telah mengajak , untuk itu saya rela
memblokir telponnya pak Yamin, heheeeee :P
Pagi ini soroako basah oleh hujan rintik-rintik. Saya sudah
mandi dan rapi. Eko masih dibuton dan mungkin akan datang sebentar lagi. Doni,
Nuki dan Nala sudah menyebrang duluan sejak kemarin sore, mau camping katanya
(Ah, andai saya bisa ikut camping…). Jadi, rencananya hari ini saya akan
berangkat bareng Eko. Kami akan ikut dirombongan media. Sambil menunggu Eko,
saya memutuskan untuk keluar membeli beberapa kebutuhan sekalian mencari roti
untuk sarapan. Saya jalan-jalan sepanjang jalan gunung dieng mencari kios, ada
sih, tapi ternyata belum buka. Saya lalu kembali ke penginapan untuk mengambil
motor. Setelah melewati beberapa jalan, akhirnya saya menemukan kios yang buka.
Yang jaga seorang bapak-bapak. Beliau ramah dan mengajak saya mengobrol. Dia
menebak saya bukan orang soroako. Saya bilang padanya bahwa saya tinggal di
Malili. Pagi ini saya berniat menyebrang ke Matano. Si Bapak menjelaskan bahwa
rangkaian acara pelantikan itu berlangsung tiga hari, yaitu kemarin, hari ini,
dan besok. Dia menyarankan saya menginap di Matano karena malam nanti akan ada
dero. Saya bilang saya tidak bisa dero. Saya pernah coba beberapa kali tapi
hanya berhasil mengacaukan lingkaran. Si Bapak tertawa. Katanya saya harus sering-sering ikut supaya bisa. Saya mengangguk-angguk
setuju. Sarannya yang terakhir patut dicoba. Saya lalu membayar belanjaan,
mengucapkan terima kasih dan pamit. Saya khawatir eko sudah datang dan tidak
mau membuatnya menunggu.
Sampai di Dieng saya mengemasi tas dan barang yang yang akan
saya bawa. Eko datang beberapa menit kemudian bersama seorang temannya. Kami
kenalan, namanya Doping. Nama yang unik, tapi saya kira itu bukan nama aslinya.
Diantar oleh Sandy, kami berangkat bertiga menuju rumah Pak Umar Ranggo. Beliau
ini yang akan dilantik nantinya sebagai kepala adat Matano. Oleh karena itu
rombongan perangkat adat dipersiapkan dirumahnya. Sampai disana, pekarangan
rumahnya telah ramai oleh banyak orang yang berpakaian adat. Baju mereka warna-warni. Orang-orang tua
memakai baju adat matano, sedangkan gadis-gadis yang akan menjadi dayang-dayang
memakai baju bodo. Ada juga sekelompok
remaja laki-laki yang berpakaian prajurit. Kak Nasrum, Kahar, dan Rizal juga sudah
datang. Kami bergabung dengan mereka. Wajah mereka masih tampak kucel. Kak
Nasrum bilang tidak sempat mandi karena telat bangun. Semalam mereka begadang.
Kak Nasrum buru-buru menambahkan bahwa meski tidak mandi, ketampanannya tidak
berkurang. Untuk yang satu ini, saya tidak yakin, hahahaaaa…Kami menunggu
selama kurang lebih satu jam . Iring-iringan yang diatur sedemikian rupa
akhirnya bergerak perlahan menuju dermaga. Raft yang akan mengantar ke Matano
sudah menunggu disana.
Satu-persatu raft diberangkatkan. Panitia bekerja keras
memastikan semua perangkat adat berangkat dan mengatur jumlah penumpang yang
naik ke setiap raft demi keamanan. Awalnya, rombongan kami dipersilahkan ikut di raft yang akan
ditumpangi oleh rombongan Datu Luwu. Tapi karena kapasitasnya terbatas, panitia
meminta kami untuk pindah ke sebuah katinting. Saya bersorak dalam hati.
Perjalanan menggunakan katinting jauh lebih menyenangkan dan lebih cepat sampai
ketimbang menggunakan raft. Saya, Eko,
Doping, Kak Nasrum, Kahar, Rizal pindah ke katinting yang disediakan. Saya memilih duduk diatas atap bagian depan
bersama Kahar. Setelah bahan bakar diisi, dan semua orang menempati posisi
enaknya masing-masing, mesin pun dinyalakan. Bismillah… Matano, I’m coming!!! Ini adalah kali kedua saya berkunjung ke
Matano. Dulu saya ke Matano bersama teman-teman fasilitator comdev dari tiga
kecamatan . Kak Rasyid, kak Yunus, Kak Mifta, Kak Ichman, Kak Choy, Kak Awi,
Kak Mahendra, Kak Bagas, Rio, Mukim, Nery, Iwan, Mila, Suci, Halid, Armal, Isal,
Nir, Norman, Bakki…saya mencoba mengingat-ingat. Ingat betapa ramainya hari
itu. Ingat kak Awi yang bilang bahwa siapapun yang pertama kali berkunjung ke
Matano harus minum air danau kemudian meludah ke langit sebelum turun dari raft
untuk mengerjai saya…hmm, I miss them all…
Melakukan perjalanan diatas air selalu menyenangkan apalagi
jika duduknya dibagian depan seperti ini. Ada angin yang menderu-deru, ada percikan air yang basah, ada pemandangan
indah …semuanya menyenangkan..., tak peduli pada matahari yang tersenyum senang
karena sinarnya berhasil menghitamkan kulit wajahmu, tak peduli suara mesin
katinting yang kerasnya memekakkan telingamu… Katinting kami melaju dengan
cepat dan berhasil mendahului beberapa raft yang berangkat lebih dahulu. Kak
Nasrum bilang lebih cepat sampai lebih baik karena itu berarti mereka bisa
memotret rombongan Datu Luwu dan calon kepala adat saat mereka turun dari raft
nanti.
Tidak sampai sejam katinting kami telah merapat ke dermaga. Saya,
Doping dan Eko memisahkan diri dari rombongannya Kak Nasrum. Eko bilang mau
ketemu sama Doni. Desa Matano benar-benar ramai. Bendera umbul-umbul
melambai-lambai menyambut kami. Banyak
orang yang memakai baju adat warna-warni.
Tenda yang luas dan panjang telah didirikan untuk prosesi pelantikan.
Didalamnya telah dibangun beberapa baruga yang dihias dengan indah menggunakan
pernak-pernik adat Luwu. Ditengah-tengah tenda juga telah berdiri sebuah
panggung sederhana dan kursi-kursi yang jumlahnya ratusan telah berjejer rapi. Setelah bertemu Doni dan Nuki, eko keliling
tenda untuk mengambil foto. Saya dan Doping memilih duduk berbaur dengan
pengunjung lainnya. Biarkan saja Eko mengerjakan pekerjaannya. Setelah
rombongan calon kepala adat tiba disusul iring-iringan Datu Luwu, mc membuka
acara. Ada tarian penyambutan, persembahan lagu-lagu daerah, pemaparan tentang
sejarah Matano, dan rangkaian prosesi pelantikan. Semuanya berjalan lancar.
Setelah semua rangkaian acara selesai, eko melambai dari
depan panggung memberi kode untuk meninggalkan tenda. Saya dan Doping segera
menyusulnya. Doni, Nuki, dan Nala sudah menunggu dipinggir danau siap-siap
untuk pulang. Kami kembali menumpang katinting yang akan menyeberang ke Soroako
membawa penumpang tapi kali ini minus
Kak Nasrum dan rombongannya. Saya lelah, agak pening dikepala dan memilih duduk didalam tenda bersama Nuki,
Doping, Doni dan beberapa penumpang perempuan lainnya. Eko dan Nala tidak dapat
tempat didalam tenda. Mereka duduk dibagian depan perahu. Sepanjang perjalanan
tidak banyak percakapan. Nuki sibuk
memotret, Doni tidur dalam duduk, Doping menghayal, sementara Eko dan Nala
tidur telentang dibagian depan perahu.
Katinting akhirnya merapat ke dermaga Soroako. Setelah
membayar uang sewa, kami jalan ke parkiran. Puji Tuhan karena Sandy segera
datang dengan mobil untuk menjemput kami.
Malili menunggu, tapi saya harus mengambil motor dulu di Dieng.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar