Rabu, 19 Desember 2012

Matano for the 2nd Time


Soroako, 15 Desember 2012

Yupppyyyyyyyy....saya sedang di soroako, dalam sebuah kamar sewaan  di jalan gunung dieng. Semalam saya sengaja menginap disini agar pagi ini bisa ikut ke Matano untuk melihat acara pelantikan kepala adat Matano. Eko yang mengajak. Dia, Doni, Nuki dan Nala akan meliput acara tersebut. Mana bisa saya menolak ajakan seperti ini. Memang sih, saya sempat jadi-tidak-jadi-tidak pergi karena jadwalnya berbarengan dengan jadwal pemantauan. Tapi setelah saya pikir-pikir event seperti ini jarang diadakan, dan eko sudah sangat baik karena telah mengajak , untuk itu saya rela memblokir telponnya pak Yamin, heheeeee :P
Pagi ini soroako basah oleh hujan rintik-rintik. Saya sudah mandi dan rapi. Eko masih dibuton dan mungkin akan datang sebentar lagi. Doni, Nuki dan Nala sudah menyebrang duluan sejak kemarin sore, mau camping katanya (Ah, andai saya bisa ikut camping…). Jadi, rencananya hari ini saya akan berangkat bareng Eko. Kami akan ikut dirombongan media. Sambil menunggu Eko, saya memutuskan untuk keluar membeli beberapa kebutuhan sekalian mencari roti untuk sarapan. Saya jalan-jalan sepanjang jalan gunung dieng mencari kios, ada sih, tapi ternyata belum buka. Saya lalu kembali ke penginapan untuk mengambil motor. Setelah melewati beberapa jalan, akhirnya saya menemukan kios yang buka. Yang jaga seorang bapak-bapak. Beliau ramah dan mengajak saya mengobrol. Dia menebak saya bukan orang soroako. Saya bilang padanya bahwa saya tinggal di Malili. Pagi ini saya berniat menyebrang ke Matano. Si Bapak menjelaskan bahwa rangkaian acara pelantikan itu berlangsung tiga hari, yaitu kemarin, hari ini, dan besok. Dia menyarankan saya menginap di Matano karena malam nanti akan ada dero. Saya bilang saya tidak bisa dero. Saya pernah coba beberapa kali tapi hanya berhasil mengacaukan lingkaran. Si Bapak tertawa. Katanya saya  harus sering-sering ikut supaya bisa. Saya mengangguk-angguk setuju. Sarannya yang terakhir patut dicoba. Saya lalu membayar belanjaan, mengucapkan terima kasih dan pamit. Saya khawatir eko sudah datang dan tidak mau membuatnya menunggu.
Sampai di Dieng saya mengemasi tas dan barang yang yang akan saya bawa. Eko datang beberapa menit kemudian bersama seorang temannya. Kami kenalan, namanya Doping. Nama yang unik, tapi saya kira itu bukan nama aslinya. Diantar oleh Sandy, kami berangkat bertiga menuju rumah Pak Umar Ranggo. Beliau ini yang akan dilantik nantinya sebagai kepala adat Matano. Oleh karena itu rombongan perangkat adat dipersiapkan dirumahnya. Sampai disana, pekarangan rumahnya telah ramai oleh banyak orang yang berpakaian adat.  Baju mereka warna-warni. Orang-orang tua memakai baju adat matano, sedangkan gadis-gadis yang akan menjadi dayang-dayang memakai baju bodo.  Ada juga sekelompok remaja laki-laki yang berpakaian prajurit.  Kak Nasrum, Kahar, dan Rizal juga sudah datang. Kami bergabung dengan mereka. Wajah mereka masih tampak kucel. Kak Nasrum bilang tidak sempat mandi karena telat bangun. Semalam mereka begadang. Kak Nasrum buru-buru menambahkan bahwa meski tidak mandi, ketampanannya tidak berkurang. Untuk yang satu ini, saya tidak yakin, hahahaaaa…Kami menunggu selama kurang lebih satu jam . Iring-iringan yang diatur sedemikian rupa akhirnya bergerak perlahan menuju dermaga. Raft yang akan mengantar ke Matano sudah menunggu disana.
Satu-persatu raft diberangkatkan. Panitia bekerja keras memastikan semua perangkat adat berangkat dan mengatur jumlah penumpang yang naik ke setiap raft demi keamanan. Awalnya, rombongan kami  dipersilahkan ikut di raft yang akan ditumpangi oleh rombongan Datu Luwu. Tapi karena kapasitasnya terbatas, panitia meminta kami untuk pindah ke sebuah katinting. Saya bersorak dalam hati. Perjalanan menggunakan katinting jauh lebih menyenangkan dan lebih cepat sampai ketimbang menggunakan raft.  Saya, Eko, Doping, Kak Nasrum, Kahar, Rizal pindah ke katinting yang disediakan.  Saya memilih duduk diatas atap bagian depan bersama Kahar. Setelah bahan bakar diisi, dan semua orang menempati posisi enaknya masing-masing, mesin pun dinyalakan. Bismillah… Matano, I’m coming!!!  Ini adalah kali kedua saya berkunjung ke Matano. Dulu saya ke Matano bersama teman-teman fasilitator comdev dari tiga kecamatan . Kak Rasyid, kak Yunus, Kak Mifta, Kak Ichman, Kak Choy, Kak Awi, Kak Mahendra, Kak Bagas, Rio, Mukim, Nery, Iwan, Mila, Suci, Halid, Armal, Isal, Nir, Norman, Bakki…saya mencoba mengingat-ingat. Ingat betapa ramainya hari itu. Ingat kak Awi yang bilang bahwa siapapun yang pertama kali berkunjung ke Matano harus minum air danau kemudian meludah ke langit sebelum turun dari raft untuk mengerjai saya…hmm, I miss them all…
Melakukan perjalanan diatas air selalu menyenangkan apalagi jika duduknya dibagian depan seperti ini. Ada angin yang menderu-deru, ada  percikan air yang basah, ada pemandangan indah …semuanya menyenangkan..., tak peduli pada matahari yang tersenyum senang karena sinarnya berhasil menghitamkan kulit wajahmu, tak peduli suara mesin katinting yang kerasnya memekakkan telingamu… Katinting kami melaju dengan cepat dan berhasil mendahului beberapa raft yang berangkat lebih dahulu. Kak Nasrum bilang lebih cepat sampai lebih baik karena itu berarti mereka bisa memotret rombongan Datu Luwu dan calon kepala adat saat mereka turun dari raft nanti.
Tidak sampai sejam katinting kami telah merapat ke dermaga. Saya, Doping dan Eko memisahkan diri dari rombongannya Kak Nasrum. Eko bilang mau ketemu sama Doni. Desa Matano benar-benar ramai. Bendera umbul-umbul melambai-lambai menyambut kami.  Banyak orang yang memakai baju adat warna-warni.  Tenda yang luas dan panjang telah didirikan untuk prosesi pelantikan. Didalamnya telah dibangun beberapa baruga yang dihias dengan indah menggunakan pernak-pernik adat Luwu. Ditengah-tengah tenda juga telah berdiri sebuah panggung sederhana dan kursi-kursi yang jumlahnya ratusan telah berjejer rapi.  Setelah bertemu Doni dan Nuki, eko keliling tenda untuk mengambil foto. Saya dan Doping memilih duduk berbaur dengan pengunjung lainnya. Biarkan saja Eko mengerjakan pekerjaannya. Setelah rombongan calon kepala adat tiba disusul iring-iringan Datu Luwu, mc membuka acara. Ada tarian penyambutan, persembahan lagu-lagu daerah, pemaparan tentang sejarah Matano, dan rangkaian prosesi pelantikan. Semuanya berjalan lancar.
Setelah semua rangkaian acara selesai, eko melambai dari depan panggung memberi kode untuk meninggalkan tenda. Saya dan Doping segera menyusulnya. Doni, Nuki, dan Nala sudah menunggu dipinggir danau siap-siap untuk pulang. Kami kembali menumpang katinting yang akan menyeberang ke Soroako membawa penumpang  tapi kali ini minus Kak Nasrum dan rombongannya. Saya lelah, agak pening dikepala  dan memilih duduk didalam tenda bersama Nuki, Doping, Doni dan beberapa penumpang perempuan lainnya. Eko dan Nala tidak dapat tempat didalam tenda. Mereka duduk dibagian depan perahu. Sepanjang perjalanan tidak banyak percakapan.  Nuki sibuk memotret, Doni tidur dalam duduk, Doping menghayal, sementara Eko dan Nala tidur telentang dibagian depan perahu.
Katinting akhirnya merapat ke dermaga Soroako. Setelah membayar uang sewa, kami jalan ke parkiran. Puji Tuhan karena Sandy segera datang dengan mobil untuk menjemput kami.  Malili menunggu, tapi saya harus mengambil motor dulu di Dieng.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar