Kalau ditanya apa yang paling saya inginkan saat ini, saya pasti akan jawab saya ingin menjadi milyuner. Seandainya besok-besok saya beruntung menyelamatkan jin dari dalam botol kemudian dipersilahkan mengajukan tiga permintaan, saya pasti akan minta untuk dijadikan milyuner.
Apakah saya terdesak kebutuhan pokok? Jangan salah, saya bahagia dengan apa yang saya punya saat ini. Meskipun tidak kaya, saya bisa makan tiga kali sehari dengan menu yang sehat serta memakai baju-baju yang bagus. Teman-teman mungkin mengira saya mimpi ingin membangun istana atau memiliki pesawat jet pribadi. Mungkin ada yang mengira saya ingin liburan dikapal pesiar mewah, atau mengunjungi tempat-tempat indah diseluruh dunia. Tidak teman-teman. Seandainya saya benar-benar menjadi milyuner semua itu hanya akan menjadi bonus atau efek samping dari kekayaan saya. Lalu kenapa?
Sebagai seorang fasilitator community development, satu-satunya masalah yang selalu saya hadapi adalah bagaimana menyusun proposal kegiatan yang isinya bisa meyakinkan pemilik perusahaan bahwa kegiatan tersebut layak didanai. Sedih rasanya jika menggagas suatu kegiatan kemudian tidak di acc. Bingung melayani "kapan" dan "kenapa" yang diajukan masyarakat tanpa harus menimbulkan kesan minus tentang perusahaan. Semuanya harus seimbang. Masyarakat senang perusahaan aman.
Apalagi saat ini, comdev PTI wilayah Malili sedang mengalami masa krisis (kalau saya boleh menyebutnya begitu). Ada banyak persoalan intern bos yang imbasnya jelas ke fasilitator sebagai bawahannya.
Tidak ada kegiatan yang di acc. Malu rasanya menyebut diri sebagai pendamping. Masyarakat mulai menagih (kayak ngutang rasana). Setiap kali tanya ke atasan, kita cuma disuruh cek rekening. Padahal petugas dibank juga mungkin sudah bosan liat kita bolak balik mencek...........( kok jadi curhat ya? padahal kan judulnya khayalan tingkat tinggi)
Jadi, jawabannya sudah jelas. Saya ingin jadi milyuner agar supaya jika saya ingin membantu masyarakat saya tidak perlu repot repot bikin proposal. Saya hanya perlu menganalisa kelayakannya, kemudian mengangguk mengiyakan. Tidak ada lagi acara merayu-rayu bos dan bolak balik Bank menunggu pencairan. Setelahnya tidak ada kewajiban membuat laporan, dan panas dingin menantikan audit. Kan bosnya saya.,heheeee
Pertanyaan selanjutnya adalah: seandainya saya benar-benaar menjadi milyuner, apakah saya masih mau bekerja sebagai fasilitator? :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar