Sabtu, 14 Desember 2013

The 2'nd of Andra

Kurang lebih seminggu yang lalu Andra mengirimi saya tulisannya yang kedua. Kali ini dia cerita tentang perjalanannya ke Pare-pare. Iya, dia dan tiga orang temannya punya rencana bekerja ke Kongo, Afrika Selatan. Jauh ya? Rasanya khawatir setiap kali memikirkan dirinya berada dinegeri itu. Yang saya tahu tentang Afrika Selatan hanyalah Nelson Mandela, gadis-gadis kulit hitam yang seksi dan padang rumput yang luas yang didalamnya berkeliaran banyak singa. Tapi saya tidak akan membahas hal itu disini. Kata Andra, masih terlalu dini untuk dibicarakan. Ya, baiklah.... 
Kali ini tulisannya lebih panjang dari yang pertama. Dia bukan penulis, tentu saja banyak kekurangannya. Bahasanya campur-campur. 
"Kentara sekali bilang mekanik yang tulis" komentarku sesaat setelah membacanya. 
"iyyakah?" dia tertawa. "Kita edit mi saja yang kita rasa perlu diedit" katanya lagi.
Maka sibuklah saya menjadi editor dadakan. Hal pertama yang saya lakukan adalah mengganti semua istilah engine yang dia pakai; fuel, putaran roda, steering, pedal gas. Menurutku orang awam yang membacanya pasti tidak terlalu paham maksudnya. Lalu saya menambahkan banyak kalimat, memperbaiki kesalahan ketik, meghapus kalimat atau kata yang menurut saya tidak bagus, menambahkan materi cerita dengan bertanya padanya apa-apa yang menurut saya hilang dari ceritanya.
Setelah beberapa hari, saya selesai. Saya membaca hasil editan saya. Tapi rasanya ada yang hilang. saya merasa kehilangan rasanya. I mean, cerita tentang sebuah perjalanan bukan sesuatu yang istimewa. semua orang pasti punya pengalaman yang sama. Tapi cara Andra bertutur yang "asal ngomong" yang membuat ceritanya jadi spesial.
Saya lalu mengirim hasil editan saya ke emailnya, minta perseujuannya untuk mempublish tulisannya yang asli.
"Terserah mi kita, tapi bagus jikah?" ketiknya dikolom chatting.
Menurut saya, tulisan yang bagus tidak harus tersusun oleh kalimat-kalimat indah dengan kata-kata yang baku. Tulisan yang bagus adalah yang jika dibaca, pesannya sampai dengan tuntas.
Saya memutuskan mempublish tulisan aslinya. Ini sebagai bentuk penghargaan saya terhadap usahanya menulis untuk saya. Selain itu, saya suka originalitas. Dan bagi saya, membaca tulisannya membuat saya merasa seolah bercakap-cakap langsung dengannya.
Tak ingin berpanjang lebar, mari menyimak penuturannya ;)
****
 
‘’ Capek, Bosan, berkesan dan Indah ‘’
Sore hari itu, perjalanan menuju ke pare pare dimulai. Kami berangkat dari wawondula berempat menuju pare pare dengan tujuan yang sama yaitu untuk mengurus Passport untuk prepare ke luar negeri / Rencana ke Afrika selatan ( Kongo ).
Dengan Bismillah, kami pun berangkat. Perjalanan dari wawondula, wasuponda, malili, angkona,…. Tiba waktu adzan maghrib, sambil jalan sambil kami lihat masjid yang bisa kami singgahi untuk shalat. Kami singgah shalat di salah satu masjid di daerah angkona. Setelah shalat maghrib, kami melanjutkan perjalanan. Sampai di daerah Bone bone, kami singgah dirumah ‘makan burau’ untuk makan malam.
Kami berempat duduk di meja makan, sambil menunggu pesanan datang. Kami duduk tapi cerita masih ada ada saja yang keluar dari mulut. Senyum  dan tawa, dalam cerita kami. Apapun ceritanya smua itu muncul dengan tiba2, biar poster calon legeslatif yang terpasang di dinding saja kami komentari…eheheh… Namanya juga Kursimebel, banyak ceritanya tapi cerita asal….tapi mengenah…
Oh, iyya…. Salah satu dari kami yaitu Abrar adalah orang yang baru saya kenal. Baru kenalan waktu di mobil tadi, rencananya dia juga mau ikut. Baru berapa jam saja, kami sudah akrab….
Setelah makan malam, kami pun melanjutkan perjalanan kami. Canda, tawa, dan semua cerita jadi satu mengiringi putaran steering mobil Asrul yang saat itu menyetir. Putaran roda mobil yang semakin lama smakin jauh tapi cerita kami tdak mau kalah juga. Masih ada ada saja yang kluar dari mulut salah satu dari kami. Posisi jarum fuel pun mulai berkurang. Samapi di daerah Cakkaruddu’, kami singgah untuk isi fuel dulu sambil singgah shalat isya. Habis shalat, kami nongrong dulu ngopi sambil cerita2 tentang kondisi daerah afrika yang Insya Allah Kalau memang jodoh kita kesana. Amin…..yaa rabbal alamin…
Malam smakin gelap, habis cerita2 di teras masjid plus ngopi ( kopi bekal dri rumah ) kami pun melanjutkan perjalanan. Cerita2, canda tawa masih ada ada saja muncul dari mulut kami yang mengirigi putaran roda mobil. Terlebih lebih kalau ada mobil truck di depan kami yang ada kata mutiaranya di bak blakang mobilnya…. Smua jadi bahan cerita. Kata kata yang biasa ada di bak belakang mobil truck itu seperti : bocah tua gaul, www abg tua com, dan msih banyak lagi kata2 yang biasa tertuliskan. Ehehehh…
Putaran roda mobil kami smakin jauh, cerita dari kami juga sdah banyak… satu persatupun dari kami sdah mulai lain posisinya. Dhienk yang duduk di depan samping kiri sudah mulai merebahkan badannya dan sesekali bangun kalau jalan rusak yang di lewati. Akbar yang duduk diblakang bersamping denganku juga sudah mengambil bantal2 kecil untuk di slipkan sebagai pengganjal kepala. Tapi saya masih temani arul carita sambil pencet2 Handphone, chating sama……..yang punya Blog ini….ehehe
Merokok, ngemil, ngopi, dengar musik, dengan arul. Sambil sesekali menertawai gaya teman kami yang lagi enak tidurnya. Kekiri kekanan kepala mereka, seiring putaran steering mobil yang arul kendalikan. Jam 02;00 pun terlihat di jam yang saya pakai, kami pun sdah mulai masuk ke daerah Pare Pare. Sambil jalan saya dan arul tengok kiri kanan lihat penginapan yang bisa kami tempati singgah istirahat. Dan akhirnya kami singgah di penginapan Metro, arul pun turun menanyakan apakah kami bisa nginap atau tidak. Ternyata masih bisa, Kami pun langsung masuk untuk parkir mobil. Kami di antar ke kamar oleh penjaganya ke kamar 307, nomor kamar yang cukup bagus kataku…. Sesudah makan, ngerokok, mimum kopi yang masih ada, smuanya langsung baring dan tidur. Cape’ hbis jalan jauh….
Pagi pun tiba. setelah kami berempat mandi, Kami menuju ke kantor Imigrasi kota pare pare. Di jalan kami lihat kantor imigrasi kelas Dua, dan saya pun dengan santainya berkata… kantor Nomor Dua-nya itu, lanjut jalan saja sambil cari kantor imigrasi kelas Satu-nya. Arul pun tidak berkomentar, Cuma ikut kata2ku saja dan melanjutkan perjalannya. Lama kami berputar2, dhienk pun berkata… mau ki’ kemana? Itumi tadi kantornya kapan??? Arul memutar arah mobilnya dan menuju ke kantor kelas Dua untuk coba2 bertanya. Sesampai disana, kami bertanya dimana loket untuk mengambil formulir pembuatan passport. Sambil saya mengisiform-nya, Dhienk berinisiatif untuk mencari pengurus yang bisa membantu kami dalam proses pembuatan passport kami. Dhienk pun ketemu dengan 2 orang ibu yang mau membantu kami, setelah data2 yang kami bawah dari rumah diambil oleh ibu pengurus itu kami pun diperkenangkan untuk istirahat dlu sambil menunggu waktu untuk foto. Kami berempat pun ke kantin blakang kantor imigrasi itu utuk minum kopi + makan kue. Maklum karna waktu di penginapan kami Cuma di suguhkan kopi hambar dan 1 pisang goreng 1 orng. Eheheh….
Waktu menunjukkan pukul 11 siang lewat, akhirnya kami berempatpun di panggil untuk foto. Setelah foto kami disuruh menunggu lagi sampai jam 3 sore selesainya. Kami berempatpun keluar cari warung makan ( maklum, sdah lapar ). Setelah makan kami ke masjid shalat dzuhur sambil istirahat menunggu ashar dan passport kami selesai. Karena janjinya jam 3 sore selesai. Sudah shalat ashar kami kembali lagi ke kantor imigrasi untuk menayakan proses passport kami dan ternyata katanya nanti jam 5, sedikit lagi.  Kami pun menunggu di depan kantor imigrasi sambil minum kopi. Setelah jam 5 sore kami pun kembali menanyakan hasilnya, tapi hasilnya belum juga selesai…
Kami kecewa dengan hasilnya karna belum selesai sampai sore sedangkan kami harus pulang ke sorowako yang memerlukan waktu panjang. Saya dan dhienk juga harus masuk kerja pagi. Namun smuanya tetap SABAR untuk menunggu. Akhirnya abrar menelfon ibu pengurus itu dan berkata, kami ini belum mandi, istirahat dan lain2…kami butuh tempat. Tapi ibu itu berfikir, tapi kami masih menunggu di mana ada tunpangan untuk istirahat dan mandi…sudah gerah. Dan akhirnya ibu pengurus itu pun berkata… baiklah, ke rumah saya saja kalau mau mandi. Sore pun tiba ibu itu pulang dan kami mengikuti dari belakang. Kami juga baru tahu kalau ibu itu bersaudara. Perjalanan yang lumayan jauh ke rumahnya, akhirnya kami pun sampai dirumah ibu nur laela. Mereka tidak tinggal bersama krna ibu leale tinggal sama suaminya dan adiknya yaitu ibu sunarti tinggal sama orang tua dan anaknya. Karena belaiu adalah seorang janda yang ditinggal suaminya.  Sesampai dirumah orang tua ibu narti, kami di sugukan kopi susu dan kue Sambil menunggu waktu untuk mandi. Sambil minum kopi kami menanyakan di mana kamar mandinya, ternyata tidak ada kamar mandi tertutupnya. Cuma ada kamar mandi terbuka disamping bawah rumah. Waddduh….. ( betul2 daerah pedalaman ). Akhirnya kami smua tidak jadi mandi, karena takut pakaian kami basah. Padahal airnya sangat sejuk. Kami smua pun Cuma mandi stengah saja… ( biar buccu’ tapi genteng smuaji tawwaaa…. ).
Habis shalat maghrib, kami bercerita2 dengan bapak dari ibu sunarti. Ternyata desa ini adalah salah satu desa tertua yang ada di pare pare, nama desanya adalah desa watang bacukiki. Dimana terdapat juga masjid tertua di pare pare, Nama masjid itu adalah masjid Muhajirin desa watang Bacukiki kecamatan Bacukiki, Pare pare. Bapak ibu sunarti itu juga pernah menjadi Imam Masjid tersebut, tapi karena ada sesuatu hal akhirnya beliau mengundurkan diri jadi Imam di masjid itu. Setelah bnyak cerita2, kami pun berpamitan dengan beliau dan smua yang ada dirumah. Berterima kasih atas tumpangan dan smua kebaikan keluarga. Jam 7 malam, kami pun beranjak ke kantor imigrasi untuk mengambil passport dan membayar iurannya. Setelah terima passport dan mnyelesaiakan pembayarannya, kami mengajak ibu bersaudara itu untuk makan malam, sebagai tanda terima kasih kami kepada mereka dan keluarganya. Kami mengajak mereka, tapi mereka mengelak dan tidak mau. mungkin mereka merasa takut sama kami karena sikap kami yang agak kacau. ‘’ Itu juga kata yang mereka katakan, karena baru dapat orang yang seperti kami setelah skian lama menjadi pengurus di kantor imigrasi’. Walaupun kami kacau, Tapi kami sebenarnya baik ko’ dan tidak mungkin berbuat macam-macam dengan mereka. Akhinya ibu Narti pun ikut sama kami, tapi ibu laela tidak. Karna katanya masih ada urusannya di dalam kantor. Kami memilih ke Kfc untuk makan. Di mobil kami banyak cerita dengan ibu Narti dan beliau berkata bahwa baru kali ini ada orang yang dia urus  kacau sekali dan meminta tumpangan di rumahnya. Di mobil pun, ibu Narti tidak henti hentinya di hubungi lewat handphone oleh kakaknya ‘ibu laela’ tentang dimana dia sekarang. Takut kayanya adiknya di bawah lari oleh kami. Sampai di Kfc, ibu laela pun mnyusul adiknya ke sana. Di KFC walaupun mereka tidak makan krna katanya sudah kenyang, kami minta di bungkuskan untuk mereka. Setelah makan malam, kami bersalaman dan berterima kasih atas smuanya Dan kami pamit pulang kerena perjalan kami masih jauh.
Saat perjalanan pulang ke sorowako, kami banyak bicara tentang keluarga dari ibu sunarti dan ibu nurlaela serta keluarga besarnya. Keluarga yang sangat berat dalam kehidupan dan penuh pengorbanan. Dimana ibu sunarti itu adalah seorang janda muda dengan satu anak yang di tinggal pergi oleh suaminya. Ibu yang selalu bersemangat dalam mencarikan nafkah buat anak dan orang tua-nya. Disamping kerja, ibu itu juga kuliah di salah satu perguruan tinggi di pare pare. Jadi betul betul perlu smangat yang besar untuk menjalani hidup yang smakin lama makin membutuhkan biaya yang cukup. Beda dengan kakaknya yaitu ibu nur laela, ibu nur laela masih punya suami yang masih membantu dalam mencarikan nafkah buat keluarganya. Disamping kerja di kantor imigrasi, ibu nurlaela juga mengajar anak anak di sekitaran tempat tinggalnya untuk mengaji…. Alhamdulillah.
Satu hal yang juga membuat kami salut kepada mereka berdua. Mereka berdua itu saling menjaga satu sama lain, dimana waktu ibu sunarti pergi lebih dahulu ke KfC bersama kami, ibu nur laela kakanya itu tdak henti hentinya menghubungi ibu sunarti.
Malam pun smakin gelap, cerita kami dimobil sdikit demi sdikit mulai hilang… ditelang rasa kantuk. Dhienk yang duduk di dpan minta pindah ke belakang tukaran dengan abrar. Biar bisa istirahat tidur karena masuk kerja pagi besok. Abrar pun duduk di depan sambil mengunyah cemilan yang kami beli di toko. Sambil mengunyah, sambil cerita dengan arul yang steer mobil. Saya Cuma senyum dan tertawa mendengar abrar cerita….. biar ndak ngantuk.
Sampai di daerah masamba, arul pun masuk pertamina untuk mengisi fuel mobilnya yang mulai berkurang. Sebelum isi fuel, kami juga mengisi perut kami dengan bekal yang kami bungkus dari Kfc tadi. Takut kalau di jalan tidak ada warung makan terbuka. Stelah makan tengah malam dipertamina, kami mengisi fuel mobil dan melanjutkan perjalanan. Setelah makan tengah malam, saya juga sudah mulai merasakan ngantuk. Dhienk dan abrar juga sudah dari tadi molor. Jam di tangan sudah menunjukkan jam 02; lewat. Arul berkata kepadaku, tidur mekii pache karna kerja pagi kii sebentar. Nanti saya bangunkanki kalau sudah di depan rumah ta’, akhirnya saya pun pamit tidur.
Diperjalan, menurut perkiraan saya perjalannya masih jauh. Tapi pass saya buka mata. Astagaaaa, sudah sampai depan rumah. Wowwww, kencang juga tadi ini pedal gas di injak Rul? Kataku… sampai dirumah setengah 5 subuh, padalah tadi masih jauh. Setelah saya turun, mereka melanjutkan perjalannya ke sorowako. Saya pun masuk rumah dan lanjut tdur satu jam lagi. Biar masuk jam 6 saja, terlambat 1 jam ndak apajiii…( cape’ ka’ boss ).
Rasa Cape’, bosan menunggu dan perjalanan jauh terbayarkan dengan Passport yang sudah ada di tangan. Alhamdulillah….. 

****

Finally saya mau bilang,... "Andra, meski membahas tentang Kongo masih terlalu dini menurut ta', tapi jangan pernah mengira saya diam saja dan tidak mencari tahu tentang negeri itu. Sejauh ini saya menemukan bahwa disana ada banyak saudara keturunan melayu yang membuat saya berpikir bahwa negeri itu aman untuk dijadikan tempat bekerja. Semoga dikabulkan harapan ta' ke sana :) "

Tidak ada komentar:

Posting Komentar